Di sebuah apartemen mewah yang terletak di kawasan Jakarta Pusat, suara teriakan seorang perempuan menggema di seluruh ruangan.
"MATILDA!"
Suara itu begitu keras hingga membuat seorang bocah laki-laki yang berada di kamar seketika tersentak. Ia buru-buru menutup kedua telinganya dengan tangan, meringkuk di atas ranjang sambil berusaha mengabaikan suara pertengkaran yang sudah terlalu sering memenuhi rumah tersebut.
Sementara di ruang tengah, Matilda hanya berdiri diam di hadapan ibunya.
Ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Lagi-lagi sama.
Lagi-lagi tentang dirinya yang dianggap tidak cukup.
"Mama sudah bilang berapa kali kepadamu?!" bentak sang ibu.
Perempuan itu melangkah mendekat, lalu mencengkeram pipi Matilda dengan kasar hingga wajah gadis itu sedikit terangkat.
"Cukup diam dan jalani saja hidupmu! Tidak usah mengurusi hidup Mama!"
Jari-jari Matilda mengepal kuat di sisi tubuhnya. Kedua tangannya saling meremas, berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi berdesakan di dadanya.
"Lihat dirimu sendiri!" lanjut ibunya dengan suara tinggi. "Kamu masih jauh dibandingkan kakak-kakakmu. Mereka bisa membanggakan Mama, sementara kamu? Apa yang sudah kamu lakukan?"
Rahang Matilda mengeras.
Ia menatap ibunya tanpa berkata apa-apa.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Ia hanya sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.
Terlalu lelah mendengar nama kakak-kakaknya disebut setiap kali ibunya merasa kecewa. Terlalu lelah dibandingkan. Terlalu lelah dibuat merasa bahwa apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup.
Dan yang paling membuatnya muak adalah kenyataan bahwa ini bukan pertama kalinya.
Sudah bertahun-tahun.
Hampir setiap hari.
Matilda menarik napas panjang, berusaha menelan semua rasa sesak yang memenuhi tenggorokannya.
"Sudah, Ma."
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar lebih tegas.
"Aku capek."
Mama Matilda akhirnya melepaskan cengkeramannya dari pipi putrinya. Lepasan itu begitu kasar hingga membuat Matilda terhuyung dan mundur beberapa langkah.
"Bangunkan adikmu dan antar dia ke sekolah," ucap mamanya datar, seolah pertengkaran yang baru saja terjadi bukan apa-apa. Ia meraih tas yang tergeletak di atas sofa. "Mama tidak akan pulang selama beberapa hari ke depan."
Matilda hanya diam.
"Dan jangan sekali-kali mengadu kepada ayahmu itu."
Setelah mengatakan itu, mamanya berjalan menuju pintu tanpa sedikit pun menoleh.
Matilda menatap punggung perempuan itu dengan tatapan kosong.
Sudah beberapa tahun mamanya menjalani hidup seperti ini.
Pergi sesuka hati, pulang ketika menginginkannya, lalu meninggalkan anak-anaknya untuk mengurus diri sendiri.
Matilda tahu betul ke mana mamanya pergi.
Perempuan itu sudah lama menjalin hubungan dengan seorang anggota DPR yang telah memiliki keluarga. Hubungan yang membuatnya mendapat berbagai macam kemudahan, tetapi juga menjadi salah satu alasan mengapa keluarganya perlahan hancur.
ESTÁS LEYENDO
The Man Next to Me
RomanceDi penghujung usia yang telah menginjak 34 tahun, Dante terus-menerus didesak keluarganya untuk segera menikah. Sebagai seorang artis tato, ia terbiasa hidup bebas dan tidak pernah tertarik memikirkan pernikahan. Hingga suatu hari, ia dipertemukan d...
