Pagi di kota itu selalu dimulai dengan cara yang sama bagi Jungkook.
Ia bangun sebelum matahari benar-benar naik, saat langit masih berwarna abu-abu kebiruan dan jalanan di bawah masih sepi.
Setelah mandi dengan air hangat, ia berdiri di dapur kecil apartemennya, menyeduh kopi sendiri. Aroma kopi hitam yang baru digiling memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi sabun dari kamar mandi.
Ia menikmati keheningan itu dengan pelan, membiarkan uap kopi menghangatkan wajahnya sebelum hari benar-benar dimulai.
Dari balkon, ia bisa melihat atap-atap bangunan di sekeliling, deretan pohon yang mulai bergoyang ditiup angin pagi, dan di kejauhan, langit yang perlahan berubah warna.
Jungkook selalu menyempatkan waktu beberapa menit di sana, menikmati udara dingin sebelum akhirnya bersiap pergi.
Kafe miliknya berada di pojok jalan yang cukup ramai, sekitar tiga blok dari tempat tinggalnya. Bukan tempat yang besar atau mewah, tetapi cukup untuk membuatnya merasa memiliki sesuatu yang nyata.
Setiap pagi, saat ia membuka pintu kaca, aroma kopi dan roti yang baru dipanggang sudah menyambut. Pelanggan datang silih berganti.
Ada yang hanya mampir sebentar untuk mengambil pesanan, ada pula yang duduk lama sambil membaca atau bekerja. Jungkook menyapa mereka satu per satu dengan senyum yang tidak pernah dibuat-buat.
Ia senang berbicara. Senang mendengarkan cerita kecil orang lain. Senang membuat orang merasa nyaman hanya dengan berada di ruang yang sama.
Hidupnya terasa sederhana, dan ia menyukai kesederhanaan itu.
Sementara itu, beberapa minggu sebelumnya, unit di sebelah apartemennya akhirnya terisi kembali setelah kosong cukup lama.
Pria yang pindah ke sana tidak banyak membawa barang. Hanya beberapa dus karton, satu koper berwarna gelap, dan keheningan yang seolah ikut masuk bersamanya.
Ia jarang terlihat di koridor. Lebih sering keluar pagi-pagi sekali, kemudian kembali saat malam sudah larut. Tetangga lain di lantai itu hampir tidak pernah mendengar suaranya.
Bahkan suara televisi atau musik pun jarang terdengar dari dalam unitnya.
Yang paling sering terlihat hanyalah sosoknya di balkon.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, dan setiap malam setelah kota mulai tenang, ia berdiri di sana. Rokok menyala di antara jari-jarinya.
Asap naik perlahan, terbawa angin, lalu menghilang di udara. Ia tidak banyak bergerak. Hanya menatap ke arah kota dengan ekspresi yang sulit dibaca, seolah pikirannya berada di tempat yang jauh.
Jungkook pertama kali menyadari kehadirannya pada suatu pagi yang tenang.
Saat itu ia sedang menyiram tanaman di balkon, seperti biasa. Dari sisi kanan, ia menangkap gerakan kecil.
Pria itu berdiri dengan satu tangan di pagar balkon, tangan lainnya memegang rokok. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan wajahnya tenang seolah dunia di sekelilingnya tidak terlalu penting.
Rambutnya sedikit berantakan karena angin pagi, dan jaket tipis yang dikenakannya tidak sepenuhnya menutupi garis tubuhnya yang kokoh.
Jungkook semi-otomatis mengangkat tangan dan tersenyum.
"Pagi..."
Pria itu menoleh. Pandangan mereka bertemu hanya untuk sepersekian detik. Matanya dalam, gelap, dan sulit ditebak.
Tidak ada senyum, tidak ada anggukan. Ia hanya menatap sebentar, kemudian memadamkan rokoknya dengan gerakan yang tenang di asbak kecil, berbalik, dan masuk ke dalam. Pintu balkon tertutup pelan tanpa suara.
ESTÁS LEYENDO
TUAN SMOKER-VKOOK
RomancePria itu seharusnya menjauh... Seharusnya menghilang sebelum semuanya terlambat... Namun ia justru pindah ke sini. Diam-diam menjaga dari kejauhan. Membiarkan senyum itu terus datang setiap pagi dan malam, meskipun ia tahu betul bahwa dirinya adal...
