PROLOG

7 1 0
                                        

Di antara luasnya langit yang membentang, Kapten Al-Hafiz Arrayan Al-Fathan terbiasa mengendalikan burung besi melintasi berbagai belahan dunia. Namun, sejauh apa pun ia terbang dan menerjang badai, arah kompas hatinya selalu menuju pada satu titik pulang yang sama: Azzahraa Humaira As-Syifa. Gadis bercadar dengan tutur kata lembut, teduh pandangannya, serta keindahan akhlak yang selalu ia sebut dalam selipan doa sepertiga malam.

Dua bulan lagi. Hanya tersisa delapan minggu dari masa penugasan militernya di luar negeri sebelum ia pulang dan mengikrarkan janji suci di hadapan wali Zahra. Cincin pertunangan yang melingkar di jari mereka menjadi saksi bisu bahwa jarak hanyalah jeda, bukan penutup cerita.

"Tunggu aku kembali, Zahra. Sejauh apa pun aku melayang di udara, hatiku hanya akan berlabuh padamu," bisik Hafiz malam itu melalui sambungan telepon, beberapa jam sebelum jadwal penerbangan terakhirnya menuju tanah air.

Namun, takdir Allah berjalan di atas rencana manusia.

Sebuah kecelakaan tragis di perjalanan menuju bandara menghantam takdir mereka. Pesawat tak pernah terlambat mendarat, tetapi Hafiz tak pernah sampai di pelaminan tepat waktu. Benturan keras merenggut ingatan lelaki itu, menghapus seluruh jejak nama Zahra yang sebelumnya terukir begitu dalam di relung jiwanya.

Di rumah sakit Sukabumi, tempat Hafiz menjalani pemulihan fisik pasca-evakuasi dari luar negeri, takdir seolah mempermainkan Zahra. Lelaki yang sangat ia rindukan kini menatapnya dengan pandangan asing—dingin, tak mengenali, seolah Zahra hanyalah orang asing yang tak sengaja melintas di kehidupannya.

Bunda Ainun tahu benar betapa dalamnya luka Zahra. Namun, demi menjaga kondisi fisik dan psikis Hafiz yang masih rentan, Bunda Ainun terpaksa menahan kebenaran itu rapat-rapat. Ia berencana baru akan membongkar status pertunangan mereka saat Hafiz benar-benar pulih secara total. Zahra pun harus merelakan cincin tunangannya dilepas dan diserahkan kembali, menyembunyikan statusnya di balik senyum ketegaran.

Hati Zahra bagai ombak yang pecah dihantam karang. Lelaki yang namanya selalu mengudara dalam doanya, kini berada di depan mata namun rasanya sejarah jutaan mil. Di antara puing-puing kenangan yang sirna, Zahra berdiri di persimpangan jalan paling sunyi: terus bertahan memperjuangkan ingatan yang telah mati, atau merelakan cinta yang mungkin takkan pernah kembali.

"Ya Allah... jika namaku telah Kau hapuskan dari hatinya, maka ajarilah aku bagaimana caranya merelakan tanpa membenci takdir-Mu..."

El Amor Del Capitan PilotStories to obsess over. Discover now