Bab 1

192 12 1
                                        

Aria tersenyum lebar, sampai-sampai matanya menyipit membentuk bulan sabit. Pipinya merona merah menatap layar ponselnya

Di sana, paragraf demi paragraf dari novel berjudul for Lucia yang sedang ia baca, sukses membuat jantungnya berdegup kencang setiap membacanya.

"Gila, manis banget sih Alex. Cowokk gebetan gue, emang nggak pernah gagal," gumam Aria pelan, menopang dagunya dengan tangan kiri sementara jempol kanannya sibuk menggeser layar.

Novel yang dia baca ini tipikal fantasi romantis yang seru. Lucia, seorang Saintess suci, kabur dari kuil karena muak terus-menerus dimanfaatkan para petinggi kuil yang serakah.

Lucia yang melarikan diri itu, Pergi ke suatu desa terpencil, Dan menyamar menjadi seorang gadis Tabib, dan hidup aman Damai, Bersama Para warga di desa tersebut.

Suatu hari, Saat ia sedang mencari tanaman herbal di hutan, Ia tanpa sengaja bertemu seorang pria yang sekarat di tengah hutan, lalu melamatkannya dengan kekuatan nya sebagai Saintes.

Tanpa tahu, Bahwa sebenarnya pria yang ia sudah selamatkan hidup nya adalah Alexanderite, sang Putra Mahkota!

Hubungan mereka penuh liku. Mulai dari Lucia yang sempat ngambek saat tahu identitas Alex sebenarnya, sampai akhirnya mereka bekerja sama menyembuhkan wabah di kerajaan, membantai para bangsawan korup, lalu berakhir menikah.

Namun, alih-alih menjadi Raja dan Ratu, mereka berdua malah kompak menolak takhta! hingga akhirnya, Tahta diserahkan kepada adik Alex yang bernama Leo, sedangkan Alex dan Lucia memilih hidup bahagia di desa terpencil dan dikaruniai dua putri cantik bernama Analise dan Annabeth.

"Nah, gini dong! Happy ending Buat Keduanya! Cakep-cakep!" Aria mengangguk-angguk puas.

Namun, begitu dia menggeser layar ke bagian paling bawah, ada bab tambahan berupa sekuel singkat. Isinya cuma beberapa paragraf, tapi sukses bikin mata Aria melotot lebar.

Annabeth, putri kedua mereka, meninggal di usia lima tahun karena penyakit misterius yang bahkan tidak bisa disembuhkan oleh kekuatan Saintess Lucia. Sementara itu, Analise, sang putri sulung, saat berusia tujuh belas tahun harus hidup menderita dan terkekang di bawah obsesi gila seorang Duke muda yang kebetulan bertemu dengan nya saat Debut pertama Annalise di kerajaan.

"Hah? Apa-apaan nih?!" Aria refleks bersuara agak keras. Dadanya mendadak sesak. "Woi, Author! Lu sehat?! I-ini maksudnya apa?! Tega banget sama anak kecil!"

Aria ngedumel sendiri sambil menatap layar HP-nya dengan tatapan dendam kesumat.

"Aria? Lu kenapa sih? masih siang udah komat-kamit kayak dukun," sahut sebuah suara dari arah pintu.

Meri, sahabatnya, baru saja masuk kelas sambil menaikkan sebelah alisnya heran.

Mendengar suara Meri, Aria mendongak dengan wajah sembab dan hidung merah. Begitu pandangan mereka bertemu, tangis Aria justru pecah semakin kencang.

"MEEERIII!!! HUWAAAA!"

Dengan gaya dramatis bak adegan film India, Aria berlari kencang lalu menubruk tubuh Meri, Memeluknya erat, sampai Meri hampir terhuyung ke belakang.

"Meri... dada gue sesak, Mer..." rengek Aria sambil menempelkan jidatnya ke bahu Meri.

"Heh, lepas! Lu kenapa sih? Kesurupan?" Meri berusaha mendorong dahi Aria menjauh, tapi Aria malah makin erat menempel seperti cicak.

"Meri... hati gue sakit banget... hancur berkeping-keping kayak remahan rempeyek!" gumam Aria, dan tanpa sadar-

SROT...

Aria menggeser hidungnya di seragam Meri untuk mengeringkan ingusnya, yang sedikit keluar.

Meri mendadak diam. Dia merasakan ada sensasi basah yang mencurigakan di bahu seragamnya. Perlahan, Meri menunduk, menatap bahunya, lalu menatap Aria dengan tatapan dingin nan mematikan.

ANNABETH Stories to obsess over. Discover now