prolog

167 19 3
                                        

Malam itu harusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi seorang pengantin.

Namun bagi Elliot Alexander Alvaro, 21 tahun, hari itu justru terasa seperti awal dari kehidupan yang tidak pernah ia pilih.

Ia berdiri di depan cermin dengan pakaian pernikahan yang rapi. Wajahnya terlihat tenang, tetapi kedua tangannya terus menggenggam ujung pakaian.

Di jarinya sudah terpasang sebuah cincin.

Cincin yang mengikatnya dengan seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi kekasihnya.

Zayden Sebastian Arvell

Laki-laki berusia 24 tahun yang kini akan menjadi suaminya.

Pintu kamar terbuka.

Zayden masuk dengan jas hitam yang sudah dikenakannya sejak beberapa menit lalu. Tatapannya bertemu dengan Elliot melalui pantulan cermin.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Akhirnya Zayden berkata pelan.

"Sudah siap?"

Elliot mengangguk.

"Sudah."

Mereka berjalan menuju altar bersama.

Tepuk tangan terdengar dari seluruh ruangan ketika keduanya berdiri berdampingan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik pakaian pernikahan mereka tersimpan cerita yang jauh lebih rumit.

Tidak ada yang tahu bahwa pernikahan ini bukan hasil dari kisah cinta.

Semuanya bermula dari satu malam.

Satu malam ketika Zayden berada di bawah pengaruh alkohol dan melakukan sebuah kesalahan yang tidak pernah mereka rencanakan.

Beberapa waktu kemudian, Elliot mengetahui dirinya mengandung anak Zayden.

Kabar itu mengubah segalanya.

Kedua keluarga akhirnya memutuskan bahwa satu-satunya jalan adalah pernikahan.

Dan sekarang, mereka berdiri di sana.

Mengucapkan janji yang seharusnya hanya diberikan oleh dua orang yang saling mencintai.

"Apakah kamu bersedia menerima Zayden sebagai suamimu?"

Elliot menatap laki-laki di sampingnya.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan.

Apakah Zayden akan membencinya?

Apakah Zayden akan menyesal?

Apakah suatu hari nanti Zayden akan meninggalkannya?

Namun tidak satu pun pertanyaan itu keluar.

Elliot hanya tersenyum kecil.

"Saya bersedia."

Beberapa detik kemudian, pertanyaan yang sama diberikan kepada Zayden.

Zayden menatap Elliot.

Tatapannya sulit dibaca.

"Saya bersedia."

Tepuk tangan kembali memenuhi ruangan.

Mereka resmi menjadi suami.

Namun ketika semua orang sibuk mengucapkan selamat, Elliot justru menundukkan kepalanya.

Karena hanya dirinya yang tahu bahwa di balik senyum yang ia berikan kepada semua orang, ada satu kalimat yang terus berputar di pikirannya.

"Aku menikah denganmu, tapi kamu tidak mencintaiku."

---

Malamnya, setelah seluruh acara selesai, mereka akhirnya tiba di rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka.

Rumah itu besar.

Terlalu besar untuk dua orang yang bahkan belum tahu bagaimana harus berbicara satu sama lain.

Elliot berdiri di ruang tengah sambil memandangi sekeliling.

"Kamarku di mana?"

Zayden menunjuk ke lantai atas.

"Kamar sebelah kanan."

Elliot mengangguk.

Lalu Zayden menambahkan,

"Kita tidur terpisah."

Elliot terdiam sebentar.

Entah kenapa, ia sudah menduga.

"Baik."

Zayden menatapnya.

"Elliot."

"Hmm?"

"Aku mau kamu tahu satu hal."

Elliot menunggu.

"Aku akan bertanggung jawab. Aku akan memastikan kamu dan anak kita baik-baik saja."

Zayden berhenti sebentar.

"Tapi aku nggak mau berbohong. Aku belum mencintaimu."

Dada Elliot terasa sesak.

Namun ia tetap tersenyum.

"Aku tahu."

Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju tangga.

Sebelum pergi, Elliot berhenti sebentar.

"Jangan khawatir, Zay."

Ia menoleh.

"Aku nggak akan memaksamu mencintaiku."

Lalu Elliot pergi.

Meninggalkan Zayden sendirian di ruang tengah.

Malam itu, mereka tidur di dua kamar yang berbeda.

Dua orang yang telah menjadi suami istri.

Dua orang yang terikat oleh satu kesalahan.

Dan tanpa mereka sadari...

perasaan yang paling sulit dikendalikan justru akan tumbuh setelah mereka berhenti mencarinya.

---

jungwon as Elliot Alexander Alvaro
Jay as Zayden Sebastian Arvell


menulis dengan sepenuh hati
- indhira 🤍 ✨

Terikat Karna KesalahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang