Halo readers! ini Wattpad ke 3 aku
semoga bagus ya, Wattpad yang lain segera meluncur lagi kok🫡
Suara gemuruh petir menyambar langit sore kota yang mendung. Langit yang tadinya hanya berawan kelabu, tiba-tiba tumpah membawakan hujan deras yang amat lebat.
Jalanan protokol yang biasanya padat merayap mendadak penuh dengan pengendara motor yang menepi sembarangan. Air hujan turun begitu deras hingga jarak pandang hanya tersisa beberapa meter saja.
Di bawah kanopi minimarket yang sempit, Hevicho Liam Narendra berdiri sambil mengibaskan seragam putih abu-abunya yang sedikit basah di bagian bahu.
Anak SMA kelas dua itu baru saja selesai latihan basket di sekolah dan berniat langsung pulang ke rumah. Namun, alam sepertinya punya rencana lain untuk sore harinya.
Liam menyandarkan tubuhnya ke dinding kaca minimarket, memandangi rintik air yang menghantam aspal dengan patuh.
"Lama banget berteduh doang, bisa-bisa lapar duluan ini mah," gumam Liam pada dirinya sendiri.
Liam mengusap tengkuknya, lalu melangkah masuk ke dalam minimarket yang ber-AC dingin.
Suara lonceng pintu berbunyi saat ia mendorong pintu kaca tersebut. Ia berjalan santai ke arah lemari pendingin di sudut belakang toko.
Jarinya menunjuk-nunjuk barisan minuman sebelum akhirnya memilih satu kotak susu rasa cokelat favoritnya.
Setelah membayar di kasir, Liam kembali berdiri di teras depan minimarket. Ia merobek plastik sedotan, menusukkannya ke kotak karton, lalu menyesap susu itu menikmati sorenya yang tertahan hujan.
Matanya menyusuri area parkiran minimarket yang hanya diisi dua buah sepeda motor dan sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir agak menyendiri.
Tiba-tiba, pintu sedan hitam itu terbuka. Seorang wanita keluar dengan langkah terburu-buru, membawa sebuah payung lipat berwarna hitam.
Wanita itu mengenakan kemeja sutra putih yang dimasukkan rapi ke dalam celana bahan berpotongan tinggi, dibalut blazer hitam kaku yang bertengger manis di bahunya.
Rambut panjangnya disanggul rapi, menunjukkan garis rahang yang tegas dan wajah yang teramat cantik, namun memancarkan aura yang sangat dingin.
Wanita itu adalah Adelynn Wijaya. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, ia sudah menduduki kursi puncak sebagai CEO di Wijaya Corp, salah satu perusahaan pengembang properti terbesar di kota itu.
Hari ini, setelah rapat maraton dari pagi hingga sore yang melelahkan, Delynn memilih menyetir mobilnya sendiri tanpa pengawal atau sopir pribadi karena ingin ketenangan. Namun, ketenangan itu sirna dalam sekejap.
Delynn berjalan menuju bagian depan sebelah kiri mobilnya dengan raut wajah kaku. Matanya menatap tajam ke arah ban depan yang sudah kempis total menyentuh aspal. Ia mendesis pelan, menunjukkan rasa frustrasinya yang sangat jarang ia perlihatkan di depan orang lain.
"Bisa-bisanya bocor di hujan gini sih," bisik Delynn dingin. Tangannya yang memegang ponsel mahal langsung mengetik beberapa baris pesan dengan cepat.
Ia mencoba menghubungi asisten pribadinya, namun sinyal di daerah itu mendadak buruk akibat hujan badai.
Delynn menghela napas panjang, merapikan blazernya, lalu mencoba berjongkok sedikit untuk memeriksa keadaan ban tersebut tanpa ingin mengotori celana mahalnya.
Ia terlihat sangat canggung dan sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan masalah mekanis seperti ini.
Dari teras minimarket, Liam mengamati gerak-gerik wanita itu sejak awal. Liam tersenyum tipis melihat betapa kaku dan bingungnya wanita berkemeja rapi tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Heart, Crazy Love
Romance"Eh Tante!" -Hevicho Liam Narendra "Liam! udah aku bilang panggil kak aja!." -Adelynn Wijaya "Kak Aralie! liat deh itu!" -Ellion Manuel Kalendra "Lion! Delynn suka berondong haha!" -Abigail Rachel Lie readers 🔞
