Arin duduk di balkon atas rumah.
Dengan secangkir kopi yang masih mengepul di tangannya, menghangatkan jari-jari yang seharian menari nari dengan kesibukannya. Di hadapannya, matahari perlahan tenggelam, mengecat langit dengan warna jingga yang enggan padam.
Senja kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Seperti sengaja melambat, memberi ruang untuk melepas lelah setelah hari yang panjang.
Tidak di sangka, kebahagiaan akan sesederhana ini.
Di bawah sana dunia masih ribut dengan segala urusannya. Anak-anak memanggil, cucian menumpuk, tagihan menunggu.
"Fuuuuhh" Arin membuang nafasnya dalam dalam. berat.
Arin tidak benar benar menikmati senja di depan matanya. entah apa yang di pikirkan, tapi pandangannya kosong. ketika tiba² suara lantang memecahkan kekosongan itu.
"Ibuuu!"
"kenapaa?" jawabnya sembari menoleh kebawah, menatap wajah wajah usil tapi lucu.
"mau pipis^^"
"ah, sana sama ayah"
Lalu mereka berbalik sembari berteriak "Ayaaah! Ayaaah! Ayaaah!"
Arin melanjutkan lamunannya, menyeruput kopi yang mulai dingin.
Senja dan malam adalah waktu ketika raga mulai melepas lelah, setelah melewati hari yang panjang
Langkah kaki terdengar dari bawah. Tenang dan begitu santai. dari suara langkahnya Arin sudah tau, bukan wajah wajah usil tadi yang menyusulnya ke atas.
Arin tidak perlu menoleh, untuk tau siapa.
Langkahnya berhenti. bayangan tinggi berdiri di samping Arin, membawa secangkir kopi yang masih mengepul di tangan kanannya, sementara tangan kirinya masuk di saku celana. tak lupa senyum tipis ia lontarkan, tidak kepada Arin tapi pada senja yang mulai menghilang. Dia berpose seakan wajah nya begitu rupawan dan badannya bak olahragawan yang begitu tegap.
Arin melirik kesamping sembari memasang wajah heran, mengembang kempiskan hidungnya seakan membantah pose itu tidak tepat untuknya. Arin kembali menatap senja tanpa kata.
"sruuut" suara seruputan kopinya terdengar begitu lantang di tengah keheningan senja.
"anak²?" tanya Arin tanpa menoleh
"main berdua" jawabnya sembari melanjutkan seruputan kopi panasnya
"malas sekali mau turun" gumam Arin tidak berharap di respon
Arin dan suaminya berbalik bersama, menuruni tangga setelah senja telah benar benar hilang dan kopi benar benar habis.
"Ibu dan Ayah darimana?" Tanya Fay, anak pertama Arin yang berusia 6 tahun.
"aku kok nggak di ajak" sahut El, anak kedua Arin yang berusia 3 tahun.
Arin hanya menyeringai dan menaikkan bahu membuat anak²nya makin penasaran, makin bertanya tanya tanpa henti menciptakan riuh di dalam rumah kecil ini.
"wudhu wudhu, saatnya sholat maghrib" komando Arin
Rutinitas dalam rumah sudah hampir terbentuk dan begitu konsisten. anak pertama Arin terhitung anak yang mudah di atur dan disiplin, berbagai aturan dalam rumah selalu ia tepati. walaupun sesekali perlu di ingatkan. tapi tidak sesusah itu.
Waktu terasa begitu cepat berlalu, dari teriakan teriakan kecil, hingga tangisan karna berebut apapun yang mereka ributkan.
Pukul 9 malam, rumah sudah sepi. Anak anak tidur. Arin terduduk di kursi meja makan dengan tatapan kosong. entah apa yang di pikirkan, tapi begitu berat. kepala Arin terasa sangat penuh seakan masalahnya begiru berat.
ESTÁS LEYENDO
Rembulan di Balik Awan
No FicciónPernah ngga sih kalian merasa di beri cobaan yang bertumpuk ? kayak kita lagi kena masalah belum kelar, eh ada lagi masalah lain. kayak pepatah 'uda jatuh eh di timpa tangga' itulah yang di alami Arin, seorang ibu rumah tangga yang bekerja wfh. usia...
