1. Gian Arkhanza

285 54 42
                                        

AUTHOR POV







































Asap kemenyan dan bau tanah basah hinggap di teras rumah. Sore di pinggiran Sukabumi tak pernah benar-benar tenang bagi Irene.

"Kamu tuh mikir apa toh, Nur? Irene tuh udah dua puluh lima. Mau sampai kapan melihara gengsi? Pak Juragan Karta itu sudah siap ngasih sawah dua petak sama mobil pick-up buat operasional keluarga kamu! Kurang apa lagi coba?"

Suara Bibi Sumi memekakkan telinga, melengking mengalahkan desis penggorengan tempat Nur mengaduk pisang goreng jualannya. Ibu Nur hanya bisa menunduk pasrah.


Tangannya yang keriput dan gemetar terus membolak-balik adonan tanpa berani menatap mata tetangganya.

"Bukan begitu, Sum... Irene kan masih mau nyoba cari rezeki sendiri," sahut Nur, pelan sekali.

"Nyoba gimana? Gawe di konveksi lokal aja gajinya habis buat tambal sulam biaya kuliah si Syafdi sama SPP si Ara! Jangan tolol kamu, Nur. Bapaknya anak-anak udah ga ada. Kalau kamu mati besok lusa, siapa yang mau nanggung hidup mereka?"


Irene meremas ujung kaosnya di balik dinding kamar. Dadanya sesak. Rasanya ingin sekali ia keluar, menyiramkan minyak panas itu ke muka Bibi Sumi yang selalu lancang campur tangan.

Tapi ia tahu, ibunya hanya akan makin tertekan kalau situasi makin panas.

"Teteh... ga usah didengerin. Mulut Bi Sumi mah emang kaya sampah," bisik Ara dari belakang.

Gadis SMA kelas dua itu baru saja meletakkan tas sekolahnya di ranjang. Matanya menyala penuh kepedihan dan amarah memandang kakaknya.


Syafdi, yang baru datang dari kampus di kota dengan baju penuh keringat, ikut mengepalkan tangan. Ia bersandar di pintu kamar mereka.

"Teteh Irene ga boleh nikah sama juragan bau tanah itu. Syafdi mending drop out aja dari kuliah kalau ujung-ujungnya Teteh yang harus dikorbanin."

Flower, Rain, and You [SEULRENE]Stories to obsess over. Discover now