PROLOG: Suara yang Tak Pernah Sampai

0 0 0
                                        

Layar kaca televisi di sudut kamar itu memantulkan cahaya biru yang redup. Dari balik pintu kayu yang tertutup rapat, suara derap langkah kaki terdengar sepintas sebelum akhirnya menghilang di lorong rumah yang sepi. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara panggilan untuk makan malam. Seperti biasa, rumah megah bergaya minimalis ini selalu tahu cara menjadi tempat paling dingin di dunia.

Arunika Zahrani-gadis lima belas tahun yang kerap disapa Nika-duduk bersila di atas karpet. Tangannya memegang sebuah telepon genggam hitam milik ibunya yang dipinjam dengan seribu alasan untuk mengerjakan tugas sekolah. Layar ponsel itu tidak menampilkan situs pencarian atau aplikasi belajar, melainkan sebuah unggahan foto di Instagram.

Di dalam foto itu, pasangan suami istri tampak tersenyum hangat ke arah kamera. Clarissa Amanda, aktris papan atas yang selalu memancarkan kelembutan, dan Devan Rayendra, pria berjas rapi dengan sorot mata tegas namun tenang yang dikenal publik sebagai CEO dari Rayendra Group. Bagi dunia luar, mereka adalah pasangan sempurna. Bagi Nika, mereka adalah bayangan dari sebuah 'keluarga' yang tidak pernah ia miliki. Nika mengusap permukaan layar ponsel itu pelan. Ibu jarinya gemetar kecil saat mengetikkan sebuah komentar singkat. Bukan ucapan pujian berlebihan layaknya penggemar lain, melainkan sebuah kalimat polos dari dasar hatinya yang paling dalam:

@arunika.z: Bahagia selalu, Om Devan dan Tante Clara. Melihat kalian tersenyum rasanya seperti melihat rumah yang belum pernah aku temui.

Nika menatap kalimat itu selama beberapa detik sebelum menekan tombol kirim. Hanya hitungan menit sebelum HP ibunya harus segera dikembalikan-karena di rumah ini, Nika tidak pernah diberi izin memiliki ponsel sendiri. Akses komunikasinya dibatasi, suaranya dibungkam oleh kesibukan orang-orang dewasa yang menganggap kehadiran anak bungsu hanyalah hiasan pelengkap. Di usia tiga atau empat tahun, Nika sudah berhenti menangis ketika ditinggalkan sendirian. Di usia lima belas tahun, ia sudah terbiasa menjadi asing di tengah darah dagingnya sendiri.

Ia meletakkan ponsel itu di atas meja, mematikan layar televisi, lalu berjalan menuju jendela kamar. Di luar sana, bulan separuh bersinar terang di antara malam yang gelap. Nika menatap bulan itu, berbisik pelan pada angin malam.

"Malam ini dingin lagi, ya? Tapi gak apa-apa... aku udah terbiasa."

Gadis kecil dengan ribuan luka di dadanya itu tidak pernah tahu bahwa ratusan kilometer dari kamarnya malam itu, sebuah notifikasi masuk ke ponsel seorang wanita anggun. Kalimat polos yang ditulis Nika di kolom komentar baru saja dibaca oleh Clarissa Amanda, memicu getaran aneh di dada sang aktris-sebuah getaran awal dari takdir yang sebentar lagi akan meruntuhkan seluruh kesepian Nika selamanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 20 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Di Bawah Langit yang SamaStories to obsess over. Discover now