Bab 1 - Tubuh Tanpa Pelukan

1 1 0
                                        

Jangan lupa nanti di akhir ada pemberitahuan jangan di skip oke 👍
-
-
-

Hujan turun pelan di luar jendela sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Suaranya terdengar seperti ketukan kecil yang berulang di atas atap, sementara seorang anak perempuan berusia enam tahun duduk sendirian di sudut ruang tamu. Namanya Alya Maheswari.

Alya memeluk kedua lututnya sambil memandangi sebuah foto yang sudah cukup lama tersimpan di tangannya. Foto itu memperlihatkan seorang perempuan muda yang berdiri dengan wajah datar di depan kamera. Perempuan itu adalah ibunya.

Alya tidak benar-benar mengerti seperti apa seharusnya seorang ibu menyayangi anaknya. Selama hidupnya, ia hanya mengetahui bahwa ibunya adalah seseorang yang tinggal bersamanya, memasakkan makanan ketika sempat, dan terkadang bertanya apakah ia sudah makan. Tidak ada pelukan ketika Alya menangis, tidak ada kecupan sebelum tidur, dan hampir tidak pernah ada kata-kata yang membuatnya merasa istimewa.

Namun Alya tidak pernah bertanya mengapa.

Ia terlalu kecil untuk memahami bahwa kasih sayang setiap keluarga bisa berbeda. Baginya, mungkin memang seperti itulah hubungan antara seorang ibu dan anak. Mungkin semua anak juga tumbuh tanpa dipeluk.

"Alya?"

Suara neneknya terdengar dari arah dapur.

Alya segera meletakkan foto itu di atas meja.

"Iya, Nek?"

"Kamu sudah makan?"

"Sudah."

Jawabannya cepat.

Padahal sejak siang tadi, Alya belum makan apa pun.

Nenek Ratih muncul dari dapur sambil membawa sepiring nasi dan lauk sederhana. Tatapannya langsung tertuju pada Alya yang duduk sendirian di ruang tamu. Perempuan tua itu tidak mengatakan apa-apa, tetapi dari wajahnya terlihat bahwa ia tahu cucunya sedang berbohong.

"Kemari. Makan dulu."

Alya menggeleng kecil.

"Nanti saja."

"Sekarang."

Nada suara Nenek Ratih tidak keras, tetapi cukup membuat Alya berdiri. Ia berjalan menuju meja makan dan duduk tanpa banyak bicara. Nenek kemudian meletakkan piring di hadapannya, lalu duduk di kursi sebelah.

Alya mulai makan perlahan.

"Nanti malam jangan tidur terlalu larut," kata Nenek.

"Iya."

"Besok sekolah."

"Iya."

Percakapan itu berhenti di sana.

Tidak ada pembicaraan panjang.

Tidak ada cerita tentang sekolah.

Tidak ada pertanyaan tentang apa yang Alya rasakan.

Tetapi Alya tidak mempermasalahkannya.

Ia sudah terbiasa dengan rumah yang sunyi.

Sejak kecil, Alya memang tinggal bersama neneknya. Rumah itu menjadi tempatnya tidur, belajar, makan, dan menjalani hari-hari sederhana. Sementara ayahnya tinggal jauh bersama keluarga barunya, ibunya adalah satu-satunya orang tua yang masih berada di dekatnya.

Setidaknya, dulu.

Alya menatap kursi kosong di seberang meja.

Kursi itu biasanya ditempati ibunya.

Namun beberapa hari terakhir, kursi tersebut lebih sering kosong.

"Ibu ke mana, Nek?"

Tangan Nenek Ratih yang sedang mengambil gelas berhenti sebentar.

Tumbuh Tanpa Pelukan Stories to obsess over. Discover now