"AKU? Mengandung?"
"Iya."
"Dok, jangan bercanda ya. Gak lucu. Aku saman nanti baru tahu."
"Buat apa saya bercanda? Ini lihat sendiri hasil health check kamu." Dokter itu menggeser kertas laboratorium ke depan.
"Tapi aku gak pernah-"
"Gak pernah apa? Ngewe? Lalu ini hasil dari donasi sperma?"
"Kok nanya aku? Tapi rasanya bukan donasi... pasti hasil ngewe."
"Anjir, ni pasien," bisik sang dokter sambil memijat pelipisnya.
"Jangan dianjir-anjirkan aku, Dok. Nanti Dokter kena juga baru tahu. Jadi... betul saya mengandung?"
"Iya, Hengyu. Kandungannya mau diaborsi atau dipelihara?"
"Emm... aku pikir-pikir dulu."
"Baiklah. Saya tuliskan vitamin yang perlu kamu ambil. Buat keputusan secepat mungkin, kamu udah mau masuk dua bulan."
Si Alpha mengangguk, masih tenggelam dalam penolakan realita. "Betul... aku mengandung?" tanya si Alpha sekali lagi, matanya mengedip polos.
Dokter di depannya menarik napas dalam-dalam. "Hengyu, aku ini sabar orangnya ya. Jangan sampai mug ini melayang ke muka kamu."
"Kangmin, aku masih belum percaya aku mengandung! Lu sendiri pun gak percaya, kan?" Sun Hengyu langsung menatap kawannya, Yoo Kangmin, meminta dukungan.
Gimana mau percaya? Hengyu ini Alpha, tapi di rumah dia dijaga ketat setengah mati sama kedua ayahnya strict parents tingkat dewa. Biarpun Alpha dominan, Hengyu di rumah tetap diperlakukan manis bak princess.
"Mau gimana lagi, Yu? Hasilnya tetap positif," Kangmin menjelaskan dengan nada serius. "Kemungkinan rahim kamu emang ultra-fertile. Atau... orang yang tidur sama kamu itu sebenarnya Enigma. Gak apa-apa, aku bakal cari tahu lebih lanjut. Yang penting, kamu cari tahu dulu siapa bapaknya. Kamu butuh feromon dia supaya janin ini stabil."
Kangmin menyerahkan selembar kertas. "Ini, ambil obatnya di farmasi."
"Iya... makasih, Min. Jangan kasih tahu ayah-ayahku dulu sampai aku ketemu bapaknya anak ini."
Begitu keluar dari ruang rawat, Hengyu berjalan perlahan sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Gila... si Beta itu bisa hamilin gue? Kenapa gue gak sadar udah dua bulan?" Hengyu mendengus. Biarpun dirawat bak princess, Hengyu ini secara mental amat kental dan fisiknya Alpha dominan. Tapi sedominan ini... bisa-bisanya bobol sama seorang Beta?
Sebenarnya Hengyu ingat betul siapa yang tidur dengannya. Dia cuma berpura-pura amnesia di depan Kangmin supaya masalahnya tidak makin panjang. Lagipula, cuma Beta itu satu-satunya orang yang pernah menyentuhnya: Rowan, teman sekampusnya.
Semua ini gara-gara rut parah dua bulan lalu. Karena terlalu memaksakan diri, Hengyu akhirnya hilang kendali dan berakhir di ranjang bersama Rowan.
"Gimana cara gue terus terang sama Rowan?" gumam Hengyu, mulai panik. Rowan itu terkenal berparas lembut, sopan dan tipe softboy idaman. Yah... mukanya memang kayak softboy penyabar, tapi kalau udah di atas ranjang... ganasnya minta ampun.
Hengyu menggelengkan kepalanya cepat. Mikir apa sih gue!
"Gak, gue gak boleh lari dari kenyataan. Papa kan selalu bilang Alpha gak boleh lari dari tanggung jawab," bisik Hengyu mantap. Dia menepuk pelan perutnya. "Oke, besok gue bakal kasih tahu dia. Nak, tenang aja... Daddy bakal pastikan kamu lahir lengkap punya dua orang tua!"
ESTÁS LEYENDO
Better And Better
FanfictionHengyu x Rowan Kata orang, Alpha selalu ditakdirkan untuk mendominasi. Tapi bagi Hengyu, keselamatan dan ketenangannya cuma ada di dalam dekapan Rowan, seorang Beta tanpa feromon yang selalu punya cara menenangkan nalurinya.
