Alur The Villain Between Us banyak menggunakan flashback, dengan pola penceritaan maju mundur. Masa lalu dan masa kini saling terhubung untuk perlahan mengungkap perjalanan hidup dan hubungan para tokohnya.
•••
Chapter 1
Suara langkah kaki menyusuri lorong panjang dengan penel kayu bernuansa coklat. Kesunyian membuat setiap pijakan menggema di sepanjang koridor. Sepasang sepatu pantofel merah marun melangkah pelan, memecah kesunyian lorong, berhenti pada sebuah pintu besi bernomor 999A. Jemari lentiknya menekan deretan angka pada panel digital, kemudian-
Klik.
Pintu apartemen terbuka.
Ia melempar kasar tas selempang putihnya ke arah sofa, hingga memantul pelan. Disusul sepatu marun yang terlempar ke dua sisi lantai. Dengan kaki telanjang, ia berjalan menuju dapur, lalu berhenti pada kulkas raksasa. Tangannya menyusuri deretan botol alkohol hingga berhenti pada anggur merah di samping whisky.
Ia kembali dari dapur, membawa satu botol anggur dan satu buah gelas berkaki panjang. Langkahnya pelan menuju pintu kaca yang langsung menghadap ke balkon dengan pemandangan kota Jakarta di sore hari. Tangannya menggeser pintu kaca itu, membukanya lebar-lebar. Rambut panjangnya diterpa angin yang berhembus kencang.
Dari balkon penthouse Skyline Residence di lantai enam puluh, hamparan gedung-gedung pencakar langit membentang sejauh mata memandang. Perempuan itu duduk di lantai, menuangkan anggur ke dalam gelas, meneguknya perlahan. Matanya menatap cakrawala yang diselimuti langit jingga. Salah satu tempat favoritnya. Menatap senja yang perlahan tenggelam di balik deretan gedung pencakar langit.
Matanya berkaca-kaca, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia tersenyum getir, disusul tawa pahit yang muncul ke permukaan. Ia menuangkan lagi dan lagi. Menenggaknya seolah minuman itu mampu menghapus rasa sakit yang terpendam selama ini. Bayangan itu muncul kembali dalam ingatannya, sosok yang ia cintai selama lima tahun.
"Diam, diam, diam." Tangannya memukul-mukul kepalanya setiap kali sosok itu muncul dalam ingatan.
Langit jingga memudar berganti gelap. Angin malam berembus semakin dingin, menyusup ke tubuh perempuan yang kini tergeletak di lantai balkon. Terdengar suara klik dari pintu apartemen. Seorang pria bersepatu pantofel hitam bergegas masuk ke dalam apartemen. Beberapa kresek yang ia bawa jatuh ke lantai, saat matanya menangkap sosok perempuan yang terkapar di lantai, dengan pintu balkon yang terbuka.
"Kim..." Tubuhnya dingin saat pria itu menyentuhnya. "Kimora, bangun! Kenapa tidur di sini?" Ia mengguncang tubuhnya, namun tidak ada pergerakan. Pandangannya jatuh pada botol anggur yang tergeletak di samping tubuh Kimora. Ia mengembuskan napas panjang. Pemandangan seperti itu bukan lagi sesuatu yang asing baginya.
Tubuh Kimora mulai menggeliat, pria itu membantunya duduk. "Kamu nggak apa-apa?"
Kimora menyentuh kepalanya yang terasa pusing, dunia di sekelilingnya berputar. Rambut panjangnya yang terurai kini terlihat berantakan.
"Kim... kenapa minum lagi? Aku kan udah pernah bilang kalau ada masalah cerita aja! Jangan menanggung semuanya sendiri," ucap pria itu yang duduk di sampingnya.
Bahu Kimora bergetar pelan. Kepalanya semakin tertunduk, berusaha menyembunyikan wajah yang mulai basah oleh air mata. "Saya... udah nggak sanggup menahannya lagi." Tangannya menyentuh dada yang terasa sakit. "Saya capek pura-pura."
YOU ARE READING
The Villain Between Us
RomanceKimora tidak percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Namun hidupnya berubah ketika sebuah buket mawar misterius tiba-tiba muncul dan membawa pesan yang tak pernah ia duga. Di saat yang sama seseorang memberikan sebuah misi permainan yang tidak bi...
