Bab 1 - Takdir yang Kebetulan

20 0 0
                                        

Mika menatap pantulan dirinya di cermin untuk kesekian kalinya.

Gaun berwarna biru muda yang dikenakannya sebenarnya sangat cantik. Potongannya sederhana, tetapi mampu membuat tubuhnya terlihat anggun. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan sedikit gelombang di bagian ujung.

Namun, tidak ada sedikit pun senyum di wajahnya. Sebaliknya, Mika justru terlihat seperti seseorang yang sedang bersiap menghadiri pemakaman.

Ia menghela napas panjang. "Ini benar-benar ide terburuk Mama dan Papa."

Sejak pagi, kedua orang tuanya sudah tidak berhenti membicarakan pria yang akan ditemuinya malam ini.

Namanya Adrian.

Putra tunggal dari keluarga pemilik salah satu perusahaan properti terbesar di kota. Tampan, sukses, kaya, berpendidikan, dan-menurut ibunya-memiliki segala kriteria yang seharusnya membuat Mika beruntung.

Masalahnya hanya satu. Mika tidak menginginkan semua itu. Ia tidak pernah meminta untuk dijodohkan. Terlebih lagi dengan seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya.

Ponselnya bergetar di atas meja rias.

Pesan dari ibunya muncul di layar.

Mama: Jangan lupa datang. Jangan membuat keluarga malu.

Mika memutar bola matanya.

"Yang dijodohkan siapa, yang malu siapa?"

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, kemudian turun ke lantai bawah.

Begitu melihat putrinya, Rika (ibu Mika) langsung tersenyum puas.

"Wah, cantik sekali." Ucapnya bangga.

"Mama, aku mau bilang sekali lagi. Aku tidak tertarik." Tegas Mika.

"Mika..."

"Serius. Aku tidak mau dijodohkan." Sekali lagi mempertegas penolakannya.

Mikel (Ayahnya Mika) yang sejak tadi membaca koran menurunkan koran tersebut. "Kamu bahkan belum bertemu dengannya."

"Justru itu, Pa. Aku tidak mau memilih pasangan hanya karena dia kaya, tampan, dan berasal dari keluarga baik."

"Adrian orang baik." Terang pria paruh baya tersebut.

"Mama dan Papa mengenalnya. Aku tidak." Sahut Mika dengan malas.

Ibunya mendekat lalu memegang kedua tangan Mika. "Kami hanya ingin kamu mendapatkan pasangan yang baik."

"Aku bisa mencarinya sendiri."

"Kalau sampai umur tiga puluh kamu belum menemukan seseorang?"

Mika terdiam. "Ya, aku tetap tidak mau dijodohkan." Lanjutnya kemudian.

Ayahnya menghela napas. "Temui dia malam ini. Hanya makan malam. Tidak ada yang memaksamu menikah malam ini."

Mika menatap kedua orang tuanya bergantian. "Benar?" Tanyanya memastikan.

"Benar," jawab ayahnya.

Mendengar jawaban sang ayah Mika akhirnya mengalah. "Baik. Aku datang. Tapi jangan berharap apa-apa." Tegasnya sebelum pergi.

---


Restoran itu jauh lebih mewah daripada yang Mika bayangkan.

Begitu memasuki pintu utama, ia langsung disambut pelayan yang membawanya menuju meja di sudut restoran.

Dan di sanalah Mika melihat pria yang selama beberapa hari terakhir menjadi topik utama di rumahnya.

Adrian.

PERNIKAHAN YANG HILANGBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin