Pagi itu, udara kompleks masih terasa sejuk merengkuh kulit ketika Jasmine melangkah keluar dengan pakaian olahraga. Rambut panjangnya diikat tinggi, sementara Hauri sudah menunggunya di depan pagar seraya melakukan pemanasan ringan.
"Siap, Kak?" tanya Jasmine.
Hauri menoleh lalu mengangguk singkat. "Siap, Tan."
Mereka mulai berlari pelan menyusuri jalanan kompleks yang sepi. Tidak terlalu cepat. Jasmine sengaja menyesuaikan temponya dengan Hauri yang sesekali mengatur ritme napas.
Beberapa menit pertama berlalu dalam keheningan yang tenang, hanya diisi derap langkah kaki mereka dan cicitan burung pagi. Sampai akhirnya Hauri memecah hening.
"Tante."
"Hm?"
Hauri melirik Jasmine dari samping. "Aku boleh tanya sesuatu, nggak?"
"Boleh. Mau tanya apa?"
"Kenapa Tante mau menikah sama Papa?"
Langkah Jasmine seketika agak melambat. "Hah?"
"Jujur saja, Tan," sahut Hauri polos.
Jasmine terkekeh kecil. "Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
"Penasaran saja." Hauri kembali memandang lurus ke depan. "Waktu Papa buka lowongan mencari ibu, Tante langsung mau?"
Jasmine menggeleng. "Tidak langsung mau, lah."
"Terus?"
Jasmine menarik napas panjang, mengumpulkannya di paru-paru. "Waktu pertama kali lihat lowongannya... yang terpikir di kepala Tante cuma satu: mau cari uang."
Hauri menoleh heran. "Uang?"
"Iya," kekeh Jasmine. "Awalnya Tante pikir ini murni pekerjaan. Papa kamu butuh seseorang untuk mengurus anak-anak, dan Tante waktu itu sedang sangat butuh pekerjaan. Jadi... menurut Tante logika sederhananya begitu."
"Padahal ini pernikahan."
"Nah! Itu dia yang bikin Tante sempat berpikir kalau ini ide gila."
"Terus, kenapa akhirnya tetap diambil?"
Jasmine terdiam sejenak, memutar ingatan. "Tante bertemu Cello. Tante lihat bagaimana Papa kamu kelihatannya sangat kewalahan mengurus kalian sendirian. Di saat yang sama, dia harus menghadapi tekanan soal hak asuh dari Oma kalian. Saat itu Tante berpikir... mungkin Tante bisa membantu. Bukan cuma bantu Papa kamu, tapi bantu kalian juga." Ia tersenyum tipis, penuh kehangatan. "Jadi akhirnya Tante memutuskan... ya sudah. Tante mau menikah dengan Papa."
"Tapi Tante suka sama Papa?"
Pertanyaan itu membuat langkah Jasmine hampir tersandung. Ia cepat-cepat menguasai diri dan kembali mengatur napasnya yang mendadak tak beraturan. "Mmm..."
Hauri menunggu dengan binar ingin tahu.
Jasmine menelan ludah. "Bagaimana ya... Suka dalam arti kagum, mungkin."
"Kagum?"
"Iya. Lagipula, perempuan mana yang tidak kagum dengan sosok Bara Ariesandy?"
Hauri terkekeh mengiyakan. "Papa memang keren, sih. Tapi kaku."
"Sangat kaku," sahut Jasmine cepat.
Tawa kecil kompak pecah di antara mereka. Namun tak lama kemudian, raut wajah Hauri perlahan berubah lebih serius.
"Aku tahu bagaimana hancurnya Papa setelah Mama meninggal, Tan," ujar Hauri. Pandangannya lurus menerawang. "Hancur... sehancur-hancurnya."
Langkah kaki mereka makin melambat. Jasmine memilih diam, memberikan ruang penuh untuk Hauri bercerita.
YOU ARE READING
Seperti Seharusnya
RomanceBercerai. Dihancurkan. Dicekal dari dunia kerja. Saat hidup Jasmine berada di titik terendah, ia menemukan sebuah lowongan yang tak masuk akal. DICARI: IBU TIRI UNTUK TIGA ANAK Tak ada identitas lelaki yang membuka lowongan itu. Jasmine hanya tahu s...
