「 I : Empat Nama 」

347 27 0
                                        

Senin pagi selalu terasa terlalu ramai.

Lorong-lorong Universitas Arunika dipenuhi mahasiswa yang berjalan tergesa-gesa menuju kelas masing-masing. Suara langkah kaki, percakapan, dan bunyi pintu yang dibuka tutup bercampur menjadi satu, memenuhi gedung utama yang sejak pagi sudah dipadati mahasiswa dari berbagai fakultas.

Di lantai tiga, sebuah ruangan besar mulai dipenuhi mahasiswa.

Di depan pintu tertulis:

KELAS KOLABORASI ANTARFAKULTAS
Proyek Inovasi dan Masyarakat

Mata kuliah itu wajib diambil oleh mahasiswa dari berbagai jurusan. Tidak ada yang benar-benar tahu mengapa universitas mengharuskan mereka mengambil kelas tersebut, selain alasan sederhana yang selalu diberikan pihak akademik:

Mahasiswa harus belajar bekerja sama dengan orang-orang dari bidang yang berbeda.

Bagi sebagian mahasiswa, itu terdengar seperti kalimat biasa.

Tapi bagi empat orang yang akan bertemu pagi itu, kalimat tersebut akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

『•• FATE MATE ••』

Ravian duduk di baris ketiga dekat jendela.

Sebuah buku sketsa terbuka di hadapannya, tetapi pensil di tangannya tidak bergerak sejak lima menit lalu. Pandangannya justru tertuju ke halaman yang dipenuhi garis-garis rancangan bangunan.

Ia mahasiswa Arsitektur.

Duduk di tempat yang agak jauh dari keramaian sudah menjadi kebiasaannya. Ia tidak menyukai suara yang terlalu ramai dan tidak memiliki alasan untuk memulai percakapan dengan orang asing.

Ketika pintu kelas terbuka kembali, Ravian mengangkat pandangan.

Seorang mahasiswa tinggi memasuki ruangan.

Rambutnya sedikit berantakan, tas hitam disampirkan di satu bahu. Ia melihat sekeliling sebelum memilih kursi di sisi lain ruangan.

Ravian hanya memandang sekilas.

Namun sekilas itu cukup.

Alpha.

Kesimpulan itu muncul begitu saja.

Bukan berdasarkan penampilan.

Bukan pula berdasarkan cara berjalan.

Aroma feromon yang sangat tipis telah memberikan jawabannya.

Amber.

Ravian menurunkan pandangan kembali ke buku sketsanya.

Ia belum pernah berbicara dengan mahasiswa itu. Namun Ravian sudah mengetahui secondary gender-nya.

Hal yang sama terjadi ketika seorang mahasiswa lain masuk beberapa menit kemudian.

Wajahnya terlihat lebih lembut dibandingkan mahasiswa sebelumnya. Ia membawa beberapa buku dan langsung mencari tempat duduk yang kosong.

Aroma yang berbeda menyentuh indra Ravian.

Mawar.

Alpha.

Ravian mengingat wajahnya.

Tidak lama kemudian, seorang mahasiswa dengan ekspresi cerah masuk sambil berbicara kepada teman di sampingnya.

Aroma persik yang lembut mengikuti langkahnya.

Omega.

Persik.

Fate Mate | Dream 00 LineStories to obsess over. Discover now