"Beep"
"Beep"
"Beep"
Suara panggilan grup di ponsel berbunyi, lalu tersambung satu per satu.
"Sumpah ya, aku udah muak, duit e abis terus!" seru Jena membuka percakapan dengan nada frustrasi.
"Lha kamu ke mall terus to, Jen," timpal Stephanie santai.
"Iya sih..." jawab Jena pelan meratapi nasibnya.
"Nggak cuma kamu doang yang pusing," pangkas Audrey yang mendadak bergabung dengan napas terengah-engah. "Aku di kasir tadi rasanya mau meledak! Temen kerjaku nggak ada inisiatif e blas, aku sibuk ngitung duit, dia malah santai padahal ada pelanggan. Bikin emosi!"
"Biasa... namanya juga kerjaan," sahut Kiera singkat dari ujung telepon, suaranya terdengar agak lelah setelah seharian beraktivitas.
Stephanie mendesah berat di seberang sana. "Himpitan hidup kita ini udah nggak wajar. Gini aja lah, kita kan udah empat tahun nggak ketemu offline, biasane kita cuma telfonan. Kita ketemuan aja yok! Meetup dua hari, liburan bareng!"
"Boleh banget!" seru Jena antusias. "Ya udah, di Surabaya ae!"
"Tak tapuk ya koe!" semprot Stephanie cepat. "Kok enak men."
Audrey terkekeh mendengar omelan Stephanie. Suasana hening sejenak. Lalu, suara ketukan jari Audrey terdengar santai di layar HP.
"Sebentar... tak Googling dulu titik tengahnya biar adil..."
Setelah jeda beberapa saat, suara Audrey kembali terdengar.
"Nah, Solo ae gimana, Solo? Akses kereta dari Surabaya gampang, dari Temanggung sama Salatiga dekat, nek dari Purwokerto masih bisa juga."
"Bentar, tak cariin tempat nginep!" Suara jemari Jena menari cepat di atas layar. Nggak sampai semenit, Jena berteriak heboh, "Nih, dapet! Di vila ini aja! Daerah Tawangmangu, tapi agak masuk ke pinggir hutan pinus. Tempatnya sepi, adem, jauh dari keramaian!"
"Cakep! Aku setuju banget," timpal Stephanie.
Suasana sejenak hening sebelum mereka menyadari Kiera belum bersuara lagi.
"Kiera?" panggil Stephanie.
"Hmm, lihat nanti deh," jawab Kiera santai.
"Nggak! Bisa kan? Nggak ada lihat nanti!" potong Stephanie tegas.
"Hooh, awas ae nggak ikut!" tambah Jena menimpali dari Surabaya.
"Pasti agak ribet di aku... tapi tak usahain," jawab Kiera hemat kata.
"Usahain ikut ya, Ki," pangkas Steph hangat. "Kamu udah gede lho, masa nggak diizinin vacation sebentar aja."
"Iya, Kii! Sekali-kali membangkang gapapa kaliii, hahahaha!" kekeh Audrey menimpali.
"NGAWUR!" potong Stephanie spontan.
"Ih, Audrey!" seru Jena di saat yang bersamaan, disusul tawa ngakak dari mereka bertiga.
"Pokoknya usahain lho ya! Kita pergi bulan depan," tegas Jena setelah tawa mereka reda.
Kiera cuma mengangguk pelan dari seberang telepon, merespons santai seperti biasanya.
"Iya, gampang. Nanti tak atur."
"Sip! Deal ya, sampai ketemu bulan depan!" seru mereka sebelum panggilan malam itu terputus.
YOU ARE READING
FOURFOLD: Four Stone
FantasyMereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama terpisah. Tanpa mereka sadari, pertemuan itu akan mengubah hidup mereka selamanya. Prolog, eps 1 dan 2 akan di upload secara cepat. Selanjutnya up tiap hari Senin dan Jumat, pukul 20...
