Bab 1. Mulai Terasa Hambar

6.5K 129 5
                                        

Pada tahun kelima belas pernikahan mereka, tidak ada yang hancur berkeping-keping dalam satu dentuman keras.

Tidak ada pintu yang dibanting hingga engselnya longgar. Tidak ada pecahan piring yang berserakan di atas keramik dapur. Tidak ada pertengkaran hebat berlarut-larut yang memaksa Tiara menutup pintu kamar rapat-rapat dan menaikkan volume earphone-nya setinggi mungkin dari lantai atas.

Bahkan tidak pernah ada tangisan yang disembunyikan di balik gemericik air shower, atau kata "aku sudah tidak mencintaimu" yang diucapkan dengan nada dingin.

Segala hal yang pernah membangun rumah ini masih utuh berdiri.

Foto-foto keluarga masih berjajar rapi memenuhi dinding ruang tengah. Foto pernikahan mereka lima belas tahun lalu, dengan balutan busana pengantin dan senyum yang terlalu lebar hingga mata mereka menyipit, masih terpajang di sudut favorit Fira, meski bingkai kayunya mulai sedikit memudar dimakan waktu. Foto Tiara sewaktu bayi, foto ompong pertama, seragam SD pertama, hingga piagam lomba debat pertamanya, semua tertata presisi di rak buku.

Sandal rumah milik Fira masih sering tertukar dengan milik Gatra di depan kamar. Cangkir keramik kesukaan Fira masih bertengger di rak yang sama. Kemeja-kemeja kerja Gatra masih memenuhi separuh lemari pakaian mereka.

Dan setiap pagi, Fira masih membuatkan kopi untuk suaminya.

Hanya saja, belakangan ini kopi itu lebih sering membiarkan asap uapnya habis sendiri di meja kerja Gatra, mendingin tanpa pernah sempat disentuh.

"Mas." Suara Fira memecah hening dari ambang pintu ruang kerja.

Gatra yang sedang menatap barisan angka dan gambar cetak biru di layar laptop mendongak pelan. "Hm?"

"Kopinya. Udah aku taruh di situ dari tadi."

"Oh." Gatra melirik cangkir di sisi kanan mejanya. Ia bahkan tidak sadar kapan benda itu diletakkan di sana. "Terima kasih."

Fira menyunggingkan senyum kecil, senyum ramah yang sopan, senyum yang kerap ia berikan pada tamu atau kolega kampusnya. "Sama-sama."

Hanya itu. Fira berlalu begitu saja, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas karpet.

Tidak ada yang aneh. Setidaknya bagi Fira.

Ia sudah terbiasa melihat suaminya tenggelam dalam pekerjaan hingga larut malam. Sebelum perusahaan properti Gatra berkembang sebesar sekarang, lelaki itu memang selalu membawa tumpukan berkas ke rumah. Namun bedanya, dulu Gatra selalu punya energi untuk mengeluh di meja makan. Ia akan bercerita panjang lebar dengan gestur tangan yang heboh tentang proyek yang ruwet, klien yang mendadak ubah desain, atau pusingnya memutar otak mencari investor.

Sekarang, ketika kariernya melesat jauh lebih tinggi dari mimpi-mimpi sederhana mereka dulu, cerita-cerita itu justru menguap.

Gatra tak lagi bercerita. Ia hanya beroperasi. Rapat. Pulang. Mandi. Makan secukupnya jika sempat. Bekerja lagi. Tidur. Lalu mengulang siklus yang sama persis keesokan harinya.

Fira pun tak punya banyak ruang untuk memprotes. Beberapa tahun setelah menyelesaikan program doktornya, ia justru memasuki fase yang tak kalah melelahkan dalam perjalanan akademiknya. Ia sedang menyiapkan pengajuan menuju jabatan profesor, yang berarti hari-harinya dipenuhi penelitian, naskah-naskah ilmiah yang harus disempurnakan, publikasi yang dikejar tenggat, seminar, serta berbagai kegiatan akademik yang membuat waktunya seolah tak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Laptop hampir selalu terbuka di dekatnya. Tumpukan jurnal dan catatan penelitian memenuhi meja kerja, sementara surel dari kolega dan mahasiswa terus berdatangan. Bahkan ketika sedang makan malam, pikirannya sering masih tertinggal pada sebuah paragraf penelitian yang belum selesai atau data yang belum sempat dianalisis.

Kesempatan Kedua (END)La tua prossima ossessione. Scoprilo ora