Bab1 pecahan kaca dan tekad yang kuat

332 12 4
                                        

PRANGG!!!

Sebuah gelas kaca melayang dan pecah menghantam dinding. Hampir saja mengenai seorang perempuan yang sedang duduk meringkuk di sudut ruangan. Matanya sembab. Tak ada satu pun yang mengasihani dirinya.

Ya, dia adalah Alura Jesslyn. Putri kandung Abimanyu, pemilik salah satu perusahaan ternama di Kota A.

"Sudah kubilang jangan pernah membantahku! Kenapa kau keras kepala sekali, ha?!" bentak Abimanyu dengan wajah memerah.

"Hiksss... ini semua gara-gara Papa! Kenapa Papa bawa perempuan itu dan anaknya ke rumah ini? Hah?!" teriak Alura sambil terisak. "Seandainya Papa tidak membawa mereka, Mama tidak akan mati! Ini semua gara-gara Papa!"

PLAKK!!!

Tamparan mendarat di pipi Alura.
"Kurang ajar! Jaga omonganmu! Membawa atau tidaknya mereka tidak ada hubungannya dengan kematian ibumu! Paham kamu?!" Ucap Abimanyu.

"Tapi pada kenyataannya memang merekalah penyebabnya! Merekalah yang telah membunuh Ibukuuu!!" Alura berteriak sambil memegangi pipinya yang memerah.

Melihat keberanian Alura, Abimanyu semakin geram. Tangannya kembali terangkat hendak memukul, akan tetapi...

"Pa... sudah, Pah. Maafkan Alura. Kasihan dia," ucap Sonya. Istri kedua Abimanyu. Ibu tiri Alura.

"Lihat betapa baiknya ibu sambungmu ini, ha? Kau sudah memfitnahnya, tapi dia masih mengasihanimu. Kau memang tidak tahu diri!"

"Sudah, tidak apa-apa, Pah. Alura mungkin masih sedih dengan kepergian ibunya. Aku bisa memaklumi itu. Iya kan, Alura?" tanya Sonya lembut.

Alura tidak menjawab. Ia hanya membalas tatapan Sonya dengan sorot mata penuh kebencian.

Abimanyu yang melihat itu langsung naik pitam. "Dasar anak kurang ajar! Sudah, ayo Mah, kita tinggalkan saja dia!"

"Iya, Pah," jawab Sonya sambil menyembunyikan senyuman penuh kemenangan nya.

Pintu tertutup. Kini Alura sendirian.

"Akh... kenapa semua ini terjadi? Aku kangen Mama..." bisiknya sambil memeluk lututnya. "Seandainya Mamah masih ada,mah...aku sangat merindukanmu.."

Setelah larut dengan kesedihannya Alura terdiam dan memasang wajah yang begitu dingin berbeda dengan alura yang selama ini orang lain kenal.

Air matanya berhenti. Digantikan oleh sorot mata yang tajam dan dingin.

"Mah... aku berjanji. Aku akan membalas perbuatan mereka."

"Tunggu pembalasanku."

***

Bel sekolah berbunyi nyaring.

Halaman SMA Arkananta ramai oleh para siswa yang bersiap memulai aktivitas pagi mereka. Tawa, obrolan, dan langkah kaki yang terburu-buru memenuhi setiap sudut.

Di tengah keramaian itu, Alura berjalan dengan kepala tegak. Langkahnya mantap. Sorot matanya tajam.

Sudah 3 minggu lebih ia tidak masuk sekolah. Tapi hari ini ia kembali. Bukan sebagai Alura yang lemah dan rapuh. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Bangkit. Kuat. Dan fokus pada satu tujuan.

Balas dendam.

"ALURAAAA!!!"

"Aluraaa... akhirnya lo balik juga ke sekolah setelah sekian lama gak masuk! Gue kangen banget sama lo tau gak?!" teriak Alana sambil langsung memeluk Alura paksa.

"Iih... iya gue tau! Tapi jangan gini juga! Gue gak bisa napas tau gak?!" protes Alura.sambil berusaha melepaskan pelukan Alana.

"Ya iyaaa... tapi kan gue kangen banget sama lo,emang nya Lo ga kangen apa sama gue?" Tanya Alana. Sahabatnya sejak SMP.

"Ya gue juga kangen lah sama lo. Apalagi sama suara lo yang berisik kayak petasan," jawab Alura datar, tapi ada senyum kecil yang tertahan.

"Ih kok lo gitu sih sama gue! Hehe..."
"Yaudah, ayo kita ke kelas," ajak Alura.

*DI DALAM KELAS XII-IPA 1*

"Hai, Lex. Udah sarapan?" tanya Gladys sambil menyender di meja Alex.

"Udah. Kamu sendiri gimana?" jawab Alex singkat.

"Udah juga dong. Oo iya... pulang sekolah kamu jadi ngajak aku jalan?" tanya Gladys dengan senyum penuh harap.

"Iya, jadi." Alex membalas dengan senyum yang dipaksakan.

Alex Chandra Brahmantio. Cucu dari pemilik yayasan SMA Arkananta.
Anak baru di sekolah ini.
Ia pindah ke sini bukan tanpa alasan. Ada sesuatu yang harus ia lakukan.

Dan sepertinya... targetnya sudah ia dapatkan.

Karena kekaguman nya terhadap Alex membuat Gladys lupa akan situasi sekolah.
Tapi tak lama kemudian.

"Wow... si putri sekolah akhirnya masuk juga hari ini," sindir Gladys. "Udah kelar masa berkabungnya? Atau kecapean nangis?"

"LOE!!" geram Alana.

"Lana, udah. Biarin aja. Gausah diladenin," ucap Alura datar. Ia menarik tangan Alana ke bangku.

Tapi saat hendak duduk, matanya bertabrakan dengan mata Alex.

Tajam. Dingin. Menilai.
Alura langsung memalingkan wajah dan duduk.

***

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Ronald.

"Pagi, Pak!" jawab serempak.

"Alura... Bapak turut berduka cita. Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?" tanya pak Ronald.

"Ya, sudah baik, Pak. Terima kasih," jawab Alura singkat.

"Bagus. Soal pelajaran yang tertinggal, pinjam buku catatan Alana saja, ya."

"Iya, Pak." jawab Alura.

"Buku saya juga bisa kok, Pak! Mending buku gue aja Ra!" teriak Digo dari belakang.

"HEH DIGO GEMBROT! Tulisan kayak ceker bebek belagu!" balas Alana.

"HEH LANA CEMPRENG!"

"Hey, hey... Sudah,Sudah jangan berantem," tegur Pak Ronald.

"Tahu tuh, huhh..." sorak para siswa.

Sepanjang itu, Alura diam. Tapi ia bisa merasakan tatapan.

Tatapan Alex.

Dingin. Mengamati. Seperti sedang menilai mangsanya.

***

Hallo Readers👋

Salam kenal...
Semoga kalian suka sama ceritaku yaa...

Oh ya,kira kira siapa ya Alex
Terus kenapa dia natap Alura sampai segitunya?..

Penasaran kan...
Ikuti terus ya kisah nya
Dan jangan lupa VOTE⭐ dan komen

Next bab selanjutnya...

DUA DENDAM SATU HATIHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora