Sejak kecil, Kim Sunoo selalu merasa kalau ia dilahirkan di keluarga yang salah. Jika anggota keluarga Kim yang lain dipahat dari marmer emas berkilau, Sunoo merasa dirinya dibentuk dari adonan tepung terigu yang gagal mengembang.
Ibunya, Jennie, adalah seorang supermodel internasional. Wajah anggunnya bertengger di papan reklame megah dan sampul majalah fashion kelas atas. Tatapan matanya yang tajam di foto mampu menghipnosis jutaan pasang mata. Sedangkan Sunoo? Jika Sunoo mencoba berpose dramatis di depan kamera ponsel, ia lebih mirip seseorang yang sedang menahan bersin.
Ayahnya, Kai, adalah ilmuwan genius bergelar profesor yang garasi rumahnya penuh dengan trofi, patung penghargaan, dan alat-alat eksperimen rumit. Sunoo tentu saja mewarisi semangat berprestasi ayahnya. Terbukti, Sunoo selalu berhasil meraih peringkat satu di kelas-jika daftar nilainya dibaca dari urutan paling bawah.
"Sunoo," panggil Kai pada suatu sore sambil mengusap keningnya yang berkerut, menatap lembar jawaban ujian matematika milik anak bungsunya. "Ayah tahu matematika itu relatif. Tapi bagaimana bisa kau memfaktorkan persamaan kuadrat ini hingga jawabannya menjadi gambar kucing?"
Sunoo hanya tersenyum polos sembari menyuap camilannya. "Soalnya rumus itu bikin pusing, Yah. Kucing kan bikin tenang."
Anak tertua di rumah itu, Heeseung, adalah musisi jenius. Lagu-lagu ciptaannya memuncaki tangga lagu digital, dan jemarinya sanggup memetik gitar melodi secepat kilat. Berbanding terbalik dengan Sunoo.
Dulu, saat sekolah menengah, Sunoo sempat mencoba tes bermain gitar.
Bukannya menghasilkan nada harmonis, ia malah mematahkan stang gitar milik sekolah karena terlalu bersemangat. Kejadian itu memaksa Pak Suho-paman supir keluarga yang bertubuh kekar namun berhati lembut-harus bolak-balik ke sekolah untuk meminta maaf dan membayar ganti rugi sembari menahan malu.
Lalu ada si kembar tiga yang legendaris: Jay, Jake, dan Sunghoon.
Jay adalah koki handal yang sanggup menyajikan hidangan fine dining kelas dunia hanya dari bahan sisa di kulkas. Sedangkan Sunoo? Kemampuan memasaknya berada di level berbahaya. Jangankan membuat sup, disuruh merebus air saja ia bisa membuat dapur berasap pekat.
"Sunoo-ya," tegur Jay dengan apron bersih melilit tubuhnya, menatap nanar panci gosong di atas kompor. "Aku cuma minta direbuskan air. Kenapa pancinya bisa sampai berbau sangit begini?"
"Aku lupa kalau air bisa menguap habis, Kak," sahut Sunoo pelan, memasang wajah tanpa dosa. Jay hanya bisa mengurut dada dan menghembuskan napas panjang.
Kembaran kedua, Jake, adalah anak terpintar di antara saudara-saudaranya. Otaknya menyerap ilmu bak spons kering. Namun, Jake pernah hampir frustrasi total saat mencoba mengajari Sunoo pelajaran dasar.
"Coba hitung pelan-pelan," bisik Jake lembut, menunjuk lembar kertas di hadapannya dengan pensil. "Dua tambah dua berapa?"
"Lima!" jawab Sunoo mantap tanpa ragu sedikit pun.
Jake memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya memijat pelipis yang berdenyut hebat. Dengan perlahan, ia mematahkan pensil kayu di tangannya, membuang sisanya ke tong sampah, lalu berdiri. "Aku angkat tangan. Biar Tuhan dan takdir saja yang mengajari adiku yang satu ini."
Sementara itu, Sunghoon-kembaran ketiga-adalah atlet ice skating berbakat yang meluncur di atas es seanggun angsa. Ia pernah bertekad bulat mengajari adiknya berdiri di atas papan es.
Hasilnya? Sampai detik ini, ketika Sunoo sudah menduduki bangku kuliah, setiap kali menginjakkan kaki di arena es, tubuhnya langsung meliuk tak terkendali lalu ambruk seperti karung beras.
"Kuncinya ada di keseimbangan tumit, Sunoo," cetus Sunghoon saat melihat Sunoo meringis telentang di lantai es untuk kesebelas kalinya dalam sepuluh menit.
"Tumitku bilang dia mau pulang saja, Kak," gumam Sunoo pasrah dari atas lantai es yang dingin.
Anak kelima, Jungwon, adalah pemegang sabuk hitam taekwondo yang gerakannya secepat angin. Terpesona melihat betapa kerennya sang kakak, Sunoo sempat mendaftar ke tempat latihan yang sama.
Namun, petualangan bela dirinya berakhir tragis seminggu kemudian karena seluruh badannya remuk redam hanya akibat sesi pemanasan.
Ni-ki, anak keenam yang usianya hanya terpaut satu tahun di atas Sunoo, adalah penari luar biasa. Gerakan tubuhnya mengalir begitu lentur. Ni-ki pernah dengan sabar mencoba mengajari Sunoo koreografi sederhana. Namun, setiap kali musik diputar, gerakan Sunoo justru tampak seperti robot AI yang mengalami glitch parah.
"Sunoo, bahunya diayunkan, bukan dikunci!" seru Ni-ki gemas, memperagakan gerakan berulang kali.
"Ini sudah meliuk, Ni-ki!" balas Sunoo sembari menggerakkan tangannya kaku bak patung kayu.
"Itu bukan meliuk, itu kejang-kejang!" seru Ni-ki prihatin.
Bahkan orang-orang yang bekerja di rumah itu pun punya latar belakang luar biasa. Bibi Lee, ART keluarga mereka, adalah mantan koki istana yang menguasai lima bahasa. Paman Suho, sang supir, ternyata mantan personel intelijen rahasia yang mahir mengendarai segala jenis kendaraan darat.
Lalu, bagaimana dengan Sunoo? Ah, sudahlah.
Hari itu, suasana ruang keluarga sedang tenang. Jennie sedang menyesap teh chamomile, Kai sibuk dengan jurnal ilmiahnya, sementara saudara-saudara yang lain bersantai di sofa. Sunoo duduk di sudut ruang, memeluk bantal sambil memikirkan betapa terasingnya ia di antara manusia-manusia sempurna ini.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Paman Suho membukakan pintu, dan seorang pemuda asing melangkah masuk. Wajahnya tampan, pembawaannya tegas, dan aura percaya dirinya begitu memancar. Pemuda itu berdiri tegak di tengah ruangan, menatap keluarga Kim satu per satu dengan pandangan emosional.
"Permisi," suara pemuda itu menghentikan seluruh aktivitas di ruangan. "Nama saya Beomgyu."
Semua mata tertuju padanya. Jay menghentikan seduh kopi, Jake menurunkan bukunya, dan Ni-ki menahan gerak dancenya.
"Ada yang bisa kami bantu, Nak?" tanya Kai sopan, melepaskan kacamata bacanya.
Beomgyu menarik napas dalam-dalam, lalu menunjuk Sunoo yang sedang memangku bantal. "Saya datang kemari untuk mengambil kembali hak saya. Dua puluh tahun lalu, di rumah sakit, saya dan anak itu... tertukar."
PRANG!
Cangkir teh porselen di tangan Jennie terlepas. Suasana ruangan mendadak hening mencengkeram. Tidak ada suara selain detak jarum jam dinding.
Bukannya sedih atau syok, mata Sunoo justru berbinar terang. Sebuah pemahaman besar mendadak menerangi otaknya.
Pantas saja! batinnya berteriak kegirangan. Pantas aku tidak bisa masak, tidak bisa main gitar, tidak bisa matematika, dan gerakanku mirip robot! Ternyata aku memang bukan anak keluarga ini! Akhirnya teka-teki hidupku terjawab!
"Tunggu dulu..." Heeseung memecah keheningan, matanya berpindah-pindah antara Beomgyu dan Sunoo dengan tatapan bingung. "Maksudmu... kau anak kandung Ayah dan Ibu?"
"Benar," jawab Beomgyu mantap. "Saya bisa membuktikannya. Saya pandai bermain musik, meraih juara sains nasional, dan memasak."
Satu ruangan makin dilanda kebingungan massal. Jennie menatap Beomgyu, lalu menatap Sunoo yang justru tampak sangat lega dan mengangguk-angguk setuju dengan pernyataan Beomgyu.
"Sebentar, Nak," potong Bibi Lee yang muncul dari arah dapur membawa nampan berisi serbet. Ia memandang Beomgyu dan keluarga Kim bergantian dengan raut wajah tenang penuh pertimbangan.
"Daripada kalian semua saling tatap sampai juling dan menduga-duga hal yang belum pasti... bagaimana kalau besok pagi kita lakukan tes DNA saja ke rumah sakit?"
Hening kembali melingkupi ruangan. Tatapan mata kini saling bersilang-antara bingung, terkejut, ragu, dan misteri yang mendadak menggantung tebal di udara.
●●●
capek ah serius mulu, hidup tuh emang harus diasikin.
YOU ARE READING
Sempurna Yang Sebenarnya
General FictionSunoo selalu merasa kalau dia anak yang tertukar. Bagaimana tidak? Seluruh keluarganya adalah orang yang sangat sempurna dari segi apapun, sedangkan dia hanya orang biasa yang sangat jauh berbeda. Sampai Beomgyu datang dan mengaku bahwa ia dulu tert...
