Musim dingin selalu datang dengan tenang.
Ia tidak mengetuk pintu atau meminta izin. Dalam semalam, embun berubah menjadi kristal tipis yang menggantung di ujung dedaunan. Kabut turun perlahan dari perbukitan, menyelimuti Hutan Nara hingga pepohonan tua itu tampak seperti bayangan yang dilukis dengan tinta kelabu.
Salju pertama turun tiga hari lalu.
Belum cukup tebal untuk menutup jalan-jalan desa, tetapi cukup untuk mengubah dunia menjadi lebih sunyi.
Dari kejauhan, hutan itu terlihat damai.
Ranting-ranting pinus menunduk menahan beban salju. Angin musim dingin berembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk pohon tanpa suara berarti. Sesekali terdengar bunyi ranting patah, lalu semuanya kembali hening.
Terlalu hening.
Penduduk desa yang tinggal di kaki Hutan Nara mengenal keheningan hutan sebagaimana mereka mengenal suara keluarga mereka sendiri.
Keheningan memiliki banyak wajah.
Ada keheningan yang membawa kedamaian.
Ada pula keheningan yang membuat seseorang tanpa sadar mempercepat langkahnya.
Beberapa hari terakhir...
Hutan itu seolah memilih wajah yang kedua.
Tak ada lagi rusa-rusa yang biasanya melintas di padang terbuka saat fajar. Burung-burung yang biasa memenuhi udara dengan nyanyian musim dingin kini hanya terdengar sesekali, seolah enggan berlama-lama di antara pepohonan.
Bahkan angin pun terasa berbeda.
Ia datang membawa aroma pinus yang lembap, tanah yang membeku, dan sesuatu yang asing.
Sesuatu yang tak mampu dijelaskan siapa pun.
---
"Jangan terlalu jauh ke dalam."
Seorang ibu memanggil anak laki-lakinya yang sedang berjongkok membuat boneka salju di halaman.
"Bukankah Ayah bilang rusa-rusa sudah kembali ke utara?" tanya bocah itu polos.
Wanita itu memaksakan senyum.
"Mungkin."
"Lalu kenapa Ibu melarangku bermain di dekat hutan?"
Tangannya terhenti sesaat.
Ia menoleh ke arah dinding pepohonan yang berdiri tak jauh dari desa.
Kabut tipis masih menggantung di sela-sela batang pinus, membuat batas antara hutan dan langit hampir tak terlihat.
Wanita itu menggeleng pelan.
"Hanya firasat."
Ia sendiri tidak yakin sejak kapan mulai merasa demikian.
Yang ia tahu...
Beberapa malam terakhir, anjing-anjing penjaga desa menggonggong ke arah hutan tanpa sebab yang jelas.
Lalu tiba-tiba diam.
Seolah sesuatu di balik pepohonan membuat mereka memilih mundur.
---
Di sisi lain hutan, jejak-jejak kaki memenuhi hamparan salju.
Jejak rusa.
Masih baru.
Seorang pemburu tua berjongkok, menyentuh bekas pijakan itu dengan ujung jarinya.
"Dua puluh ekor... mungkin lebih."
ANDA SEDANG MEMBACA
The Winter Accord
Fiksyen PeminatMusim dingin menyimpan banyak hal. Jejak kaki yang perlahan tertutup salju. Darah yang membeku di antara pepohonan. Dan sebuah legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga Shikamaru bertemu dengannya. Sejak saat itu, ia tak lagi yakin. ...
