Prolog;

65 7 1
                                        

ABELLEON

Katanya, waktu mampu menghapus semuanya. Memudar kenangan yang paling riuh sekalipun, mengikis nama yang pernah menetap terlalu lama, hingga akhirnya mengubah dua orang yang saling mendekap erat menjadi dua orang asing yang melintas tanpa suara.

Tapi ternyata tidak. Waktu tidak pernah benar-benar menghapus apa pun. Waktu cuma mengajarkan cara untuk berpura-pura baik-baik saja.

°°°

Pagi itu, gerimis tipis menyisakan aroma tanah basah di area koridor Fakultas Ilmu Komunikasi. Abel melangkah pelan, membetulkan letak tali tas punggungnya yang terasa kian berat.

Suasana gedung perkuliahan semester awal ini riuh oleh gelak tawa mahasiswa baru, perdebatan kelompok tentang tugas kelompok yang belum selesai, serta suara langkah kaki yang saling bersahutan.

Namun bagi Abel, riuh itu terasa hening. Ada ruang kosong di dadanya yang sengaja tidak pernah ia isi sejak tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu.

Satu tahun. Tepat satu tahun sejak hari di mana hubungan yang ia kira akan bertahan selamanya runtuh hanya dalam satu malam yang terlewat dingin.

Abel menghela napas panjang, merapikan ujung hoodie abu-abu berukuran longgar yang ia kenakan. Hoodie itu sudah agak belelel di bagian lengannya, dengan benang tipis yang mulai terurai di pinggiran saku depan.

Ia tahu betul, ia seharusnya tidak lagi memakai pakaian ini. Ia seharusnya sudah membuang atau menyimpannya jauh-jauh di dasar lemari.

Tapi pagi ini, ketika rasa cemas menyergap dada tanpa alasan yang jelas, jemarinya secara refleks meraih kain tebal tersebut. Kain yang masih menyimpan ketenangan tak kasat mata-satu-satunya hal yang mampu menyamarkan rasa sepinya.

Ia menunduk, berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju ruang kelas mata kuliah Pengantar Komunikasi Massa. Abel menenangkan pikirannya sendiri. Kampus ini luas. Ada puluhan ribu mahasiswa yang lalu-lalang setiap harinya. Kemungkinan untuk bertemu dengan masa lalu yang paling ia hindari harusnya mendekati nol persen. Lagipula, setahunya, orang itu mendaftar di universitas lain yang jaraknya berjam-jam dari tempat ini.

Abel mendorong pintu kaca ruang auditorium yang cukup besar. AC ruangan langsung menyambut kulit wajahnya dengan hembusan udara dingin. Ruangan sudah diisi oleh belasan mahasiswa. Abel menyisir pandangannya, mencari bangku kosong di deretan tengah yang biasa menjadi zona nyamannya.

Langkah kaki Abel mendadak berhenti di tengah lorong bangku.

Seluruh persendian tubuhnya seolah terkunci kaku. Paru-parunya mendadak enggan menyerap udara.

Di deretan bangku nomor tiga dari depan, seorang cowok sedang duduk bersandar santai. Jemari tangannya yang panjang memutar-mutar sebuah pulpen hitam dengan gerakan yang sangat terampil-kebiasaan buruk yang muncul setiap kali cowok itu sedang merasa bosan atau gelisah. Postur tubuhnya yang tinggi, rahangnya yang tegas, serta gaya rambut hitam yang sedikit berantakan namun tetap rapi... tidak ada satu pun detail dari cowok itu yang berubah.

Leon.

Seolah menyadari presensi seseorang yang berdiri mematung di dekat tangga, Leon menghentikan putaran pulpen di tangannya. Kepala cowok itu terangkat perlahan.

Netra cokelat pekat milik Leon bertemu langsung dengan manik mata Abel.

Seketika, seluruh keriuhan di dalam auditorium itu menguap tanpa sisa. Waktu terasa ditarik mundur secara paksa, membawa gulungan memori manis, derai tawa di bawah guyuran hujan, hingga bisikan senja yang dulu pernah menjadi milik mereka berdua. Namun selang satu detik kemudian, kenyataan menghantam keras. Memori itu hancur, berganti dengan bayangan keheningan memutar yang menyisakan luka tanpa luka.

Tidak ada sapaan. Tidak ada senyuman. Tidak ada panggilan akrab yang dulu selalu terlontar dengan begitu mudahnya.

Mereka berdua saling menatap dalam hening yang mencekam selama beberapa detik. Tatapan yang sarat akan kerinduan yang terhalang oleh gengsi tinggi dan dinding kesalahpahaman yang terlalu tebal untuk diruntuhkan.

Leon adalah orang pertama yang memutus kontak mata tersebut. Cowok itu mengalihkan pandangannya kembali ke layar ponsel yang berada di atas meja, seolah keberadaan Abel tak lebih dari sekadar angin lalu yang tak sengaja lewat. Jemarinya mencengkeram ponsel sedikit lebih erat dari biasanya, namun ekspresi wajahnya tetap datar tanpa riak emosi.

Abel menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokannya. Ia memaksa kakinya untuk kembali melangkah, memilih bangku di deretan paling belakang yang berseberangan dengan Leon.

Satu tahun yang lalu, mereka adalah dua orang yang tidak bisa dipisahkan-sepasang kekasih yang saling melengkapi hingga memiliki sebutan rahasia yang hanya dipahami oleh mereka berdua— Abelleon.

Namun hari ini, di bawah lampu pendar ruang kelas yang sama, mereka hanyalah dua orang asing dengan beribu kenangan yang sengaja dipaksa mati.

Ternyata, waktu memang tidak pernah menghapus apa-pun. Waktu hanya menunggu momen yang tepat untuk membuktikan bahwa mereka berdua masih gagal untuk saling melupakan.

°°°

oke kah?

ABELLEON | keonsuni Stories to obsess over. Discover now