We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1: Antara Logam Dingin dan Napas yang Fana

3 1 0
                                        

Gerimis tipis yang mengguyur SMA Garuda sore itu membawa aroma tanah basah yang pekat, seolah menyembunyikan bau busuk dari rahasia yang terkubur di balik dinding-dinding betonnya.

Di sudut koridor lantai tiga yang sepi, Serena berdiri membeku.

Jemarinya yang gemetar mencengkeram erat selembar foto lama yang tepiannya sudah mulai menguning. Di dalam foto itu, sang kakak tersenyum lebar, beberapa minggu sebelum tubuhnya ditemukan tak bernyawa di dasar jurang belakang sekolah.

Semua orang menyebutnya bunuh diri.

Namun, Serena tahu itu adalah dusta terbesar yang dirancang dengan rapi oleh para penguasa sekolah.

Di tengah keputusasaan yang hampir mencekik kesadarannya, sebuah langkah kaki beritme konstan mendekat.

Tanpa menoleh pun, Serena tahu siapa pemilik langkah itu.

Seseorang yang hadir bagaikan bayang-bayang di kala senja; ada, tetapi sulit untuk disentuh.

Sean.

"Jangan biarin air mata lo mengaburkan target kita, Serena," bisik Sean. Suaranya berat, dingin, namun entah mengapa selalu berhasil menjadi jangkar bagi jiwa Serena yang hampir karam.

Sean berdiri di sampingnya, menyandarkan tubuh tingginya pada tiang koridor. Almamater biru dongkernya tampak kontras dengan wajahnya yang pucat.

Cowok itu selalu misterius.

Tidak ada yang tahu dari mana dia berasal atau mengapa dia tiba-tiba pindah ke SMA Garuda tepat sebulan setelah tragedi kakak Serena terjadi. Yang Serena tahu, Sean memiliki tatapan mata yang sama dengannya: sepasang mata yang dipenuhi oleh api dendam yang membara.

"Gue nggak nangis, Sean," dusta Serena, menghapus kasar setitik air di sudut matanya. "Gue cuma benci melihat mereka masih bisa tertawa di bawah atap yang sama dengan tempat mereka menghancurkan hidup kakak gue."

Pandangan Serena tertuju pada lapangan basket di bawah sana.

Di sana, Revan dan komplotannya-anak-anak dari para donatur terbesar sekolah-sedang bermain dengan penuh tawa. Mereka adalah monster berwajah malaikat, yang memperlakukan manusia lain seolah hanya pion dalam permainan ego mereka.

Sean melirik ke bawah, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.

"Dendam lo adalah dendam gue juga, Ren. Kita sudah berjanji untuk menarik mereka turun ke neraka yang sama. Nyata atau fana, dunia yang mereka bangun dari penderitaan orang lain harus kita hancurkan."

Kata 'fana' yang diucapkan Sean malam itu terdengar begitu aneh di telinga Serena. Namun, dia terlalu buta oleh kemarahan untuk memikirkannya lebih jauh.

Bagi Serena, kemitraan mereka adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah kepalsuan dunia remaja yang penuh topeng ini. Sean bukan sekadar rekan sekongkol; cowok itu telah menjelma menjadi detak jantung baru bagi Serena.

Di antara kegelapan rencana pembalasan yang mereka susun setiap malam, benih cinta tumbuh tanpa permisi.

Cinta yang lahir dari luka yang sama, cinta yang tumbuh subur di tanah yang gembur oleh air mata.

Misteri tentang siapa sebenarnya Sean mulai mengusik ketenangan Serena ketika mereka menyusup ke ruang arsip sekolah seminggu kemudian. Saat mencari berkas tentang kasus kematian kakaknya, Serena tidak sengaja menjatuhkan tas milik Sean.

Dari dalam tas kain hitam itu, sebuah botol obat kecil menggelinding keluar. Serena memungutnya, membaca deretan huruf rumit yang tertera di label medis tersebut.

ANIMA: The Last BeatStories to obsess over. Discover now