___
Layar monitor berukuran raksasa itu memancarkan cahaya biru redup di dalam ruangan yang temaram. Tidak ada suara, selain detak halus pendingin udara dan denting pelan cangkir kristal yang diletakkan di atas meja kaca.
Di tengah ruangan, Renan Rexander Altair duduk bersandar. Jemari panjangnya menyesap sisa kopi hitam tanpa gula, sementara pandangannya terkunci rapat pada satu sudut layar.
Layar Sudut Kiri Atas: CCTV Nomor 04.
Kamera itu mengarah tepat ke lorong belakang panggung sebuah fashion show megah di Paris. Di sana, di antara hiruk-pikuk para desainer, penata rias, dan kilatan lampu yang sibuk, berdiri seorang wanita.
Aretha Priscillia.
Ia tampak mempesona dengan gaun sutra merah darah yang membalut tubuh semampainya. Langkah kakinya anggun, senyumnya menyihir, dan tatapannya memancarkan kepatuhan dunia yang tunduk di bawah kakinya. Bagi jutaan pasang mata di luar sana, Aretha adalah dewi yang tak tersentuh.
Namun bagi Renan, Aretha adalah satu-satunya poros di mana dunianya berputar.
Renan memajukan tubuhnya sedikit. Ia menekan satu tombol di konsol kendali. Layar CCTV Nomor 04 melakukan zoom in secara perlahan, memperjelas kilat gelisah yang tersembunyi di balik manik mata Aretha sebuah detail kecil yang bahkan tak mampu ditangkap oleh kamera media ternama mana pun.
"Dia lelah," gumam Renan dengan suara berat yang dingin.
"Perlu saya majukan jadwal kepulangannya ke New York, Tuan?" suara asisten pribadinya terdengar dari kegelapan di belakang.
"Tidak," jawab Renan tenang, matanya tak sekali pun berkedip melihat Aretha yang kini menerima botol minuman dari salah seorang stafnya. "Biarkan dia menyelesaikan panggungnya. Tapi pastikan pria yang mencoba menyentuh bahunya di balik panggung tadi... tidak pernah mendapat akses ke acara mode mana pun mulai besok."
"Baik, Tuan."
Renan menyandarkan punggungnya kembali, menyilangkan kaki dengan gaya dominan yang alami. Ia mengamati bagaimana Aretha tersenyum tipis, merapikan helai rambutnya, lalu berjalan menuju panggung utama untuk menerima tepuk tangan riuh dari ratusan orang berpengaruh.
Aretha berpikir keberhasilannya malam ini adalah buah dari kerja kerasnya. Aretha berpikir setiap jalan mulus yang ia tapaki adalah sebuah keberuntungan belaka.
Wanita itu tidak pernah tahu bahwa seluruh jalan hidupnya telah dirancang, dibersihkan, dan dikendalikan dari ruangan ini.
Kehidupan Aretha bagaikan sebuah pertunjukan teater mewah. Penonton terpesona oleh kecantikannya, media mengagumi setiap geraknya, dan para pria bermimpi untuk bisa bersanding di sisinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa lampu sorot yang meneranginya hanyalah ilusi. Tali-tali halus yang menggerakkan setiap langkahnya berada di genggaman seorang pria yang tak pernah terlihat di hadapan publik.
Renan tidak butuh pengakuan dunia. Ia tidak butuh namanya diserukan di karpet merah. Kekuasaannya melampaui apa yang bisa dibayangkan oleh orang awam. Jika ia menginginkan sebuah perusahaan hancur dalam semalam, itu akan terjadi. Jika ia menginginkan sebuah nama menghilang dari industri mode, nama itu akan menguap tanpa jejak.
Dan jika ia menginginkan seorang Aretha Priscillia..
Renan menyentuh permukaan kaca layar monitor tepat pada bayangan wajah Aretha. Ibu jarinya mengusap pelan bibir merah wanita itu di balik kaca tebal.
Aretha belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Wanita itu hanya mengenal nama perusahaannya, mendengar rumor tentang kekuasaannya, dan menikmati fasilitas mewah yang diam-diam ia kirimkan. Namun, waktu untuk bersembunyi di balik layar bayangan ini perlahan mulai menipis.
Keinginan yang terpendam terlalu lama kini menuntut untuk diwujudkan. Renan tidak lagi puas hanya menjadi penonton setia dari layar monitor dingin ini.
"Dunia mengagumimu, Aretha," bisik Renan, bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang penuh kepemilikan. "Aku mengawasimu. Dan suatu hari nanti... kamu akan tahu bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang berada di luar jangkauanku."
Renan menyesap kopi hitamnya untuk terakhir kali, menatap layar monitor yang kini menampilkan Aretha melangkah keluar menuju panggung utama, dikelilingi ribuan kilatan kamera yang membabi buta.
Wanita itu tersenyum indah ke arah kamera, tanpa pernah menyadari bahwa di balik salah satu lensa kamera mikro di sudut ruangan... mata Renan sedang menguncinya dengan obsesi yang tak terobati.
Continued
YOU ARE READING
OBSESSION [ END ]
RomanceAretha Priscillia adalah supermodel paling terkenal di dunia. Wajahnya terpampang di setiap billboard, langkahnya menjadi sorotan media, dan hidupnya terlihat begitu sempurna di mata semua orang. Namun, di balik gemerlap popularitas itu, ada seseora...
![OBSESSION [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/414635663-64-k903357.jpg)