1. A Cup of Disaster

38 8 24
                                        

Brukk!!!

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Brukk!!!

Aluna tak sengaja menabrak seorang pria bertubuh tegap. Kopi susu yang tadinya masih utuh dalam gelas yang dibawa, kini berpindah ke jas yang dikenakan pria itu.

Nametag-nya dengan jelas tertulis bahwa, dia adalah seorang captain "Arsen Pradipta". Aluna dengan panik mengambil tisu dari dalam kantungnya, kemudian dia mulai membersihkan noda kopi di jas Arsen.

"Tidak bisakah kau berjalan sambil melihat dengan matamu itu?!" hardik Arsen, membuat gerakan Aluna semakin cepat menggerakkan tangannya itu untuk membersihkan noda.

"Maaf saya tidak sengaja," jawab Aluna dengan nada panik. Tangannya terus menggosok noda pada jas itu begitu kuat.

"Kau bisa merusaknya, bodoh!" Arsen menarik jasnya dari Aluna. Suasana lobi perkantoran yang tadinya lega menjadi sedikit tegang, semua aktivitas seolah terhenti dan fokus ke arah dua orang yang tengah ribut.

Pria lain yang tadi ada di belakang Arsen mendekat, kemudian dia berbisik, "Jaga sikapmu, kau masih berseragam lengkap."

Jelas Arsen langsung menurut karena dirinya tak mau reputasinya sebagai captain muda di penerbangan ternama hancur dalam sekejap. Dirinya masih berbalut seragam pilot lengkap karena baru selesai dari flight panjang.

Arsen berusaha menahan amarahnya setelah mendengar itu dari sahabatnya. Pria di belakangnya itu adalah Rendra Pratama, CEO dari gedung perkantoran ini.

Darah di tubuh Aluna terasa berdesir, ketika mengetahui bahwa orang yang ditabraknya itu bersama atasannya. "Maaf, Pak Rendra, saya tidak sengaja." Aluna membungkukkan tubuhnya di hadapan Arsen dan Rendra.

Mendengar itu Arsen mendekat ke arah Aluna dengan tatapan tajamnya, Arsen menundukkan tubuhnya menyamai tinggi Aluna yang hanya sebatas dagunya.

"Maaf aja, nggak cukup." Suara Arsen terdengar sangat menusuk telinga Aluna. Aluna mundur beberapa langkah menjauh dari Arsen.

"S-saya akan mengganti biaya laundry-nya, Tuan—" Ucapan Aluna terjeda, matanya menatap nametag yang tertera, "Arsen," lanjut Aluna sambil berusaha menunjukkan muka penuh rasa bersalah.

Arsen kembali berjalan mendekat ke arah Aluna, Rendra menarik tangan Arsen mencegah tingkah Arsen yang kadang di luar dugaan.

"Sudah, ayo pergi. Sebentar lagi ibumu datang," ujar Rendra mencegah tindakan konyol dari sahabatnya itu.

Rencana awal Arsen datang ke kantor Rendra adalah menghindar dari ibunya yang terus mendesaknya menikah. Meski Arsen sangat paham, ibunya akan segera kemari kalau dia tidak menemukannya di bandara setelah flight panjangnya.

"ARSEN!" Baru saja dibicarakan kini orang itu sudah muncul dari arah pintu masuk lobi. Wanita setengah baya, yang masih sangat cantik dan terlihat sangat elegan. Meski tidak muda lagi dia masih terlihat sangat segar—Sinta Pradipta—ibu Arsen.

Married Because of Eighty Million Stories to obsess over. Discover now