We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

31 12 4
                                        

Denting jam berbunyi pelan, memecah sunyi yang sejak tadi memenuhi ruangan. Hembusan angin malam masuk melalui jendela yang terbuka, menerbangkan tirai putih hingga bergoyang pelan.

Aku berdiri diam untuk sesaat. Pandanganku menyusuri setiap sudut kamar yang sudah lama ku tinggalkan. Rasanya aneh, seolah waktu berhenti berputar di tempat ini. Dindingnya masih dipenuhi warna yang sama, meja belajar itu masih berada di sudut ruangan, bahkan rak buku di sampingnya pun tak banyak berubah.

Lampu neon di langit-langit menerangi meja belajarku. Di atasnya tergeletak sebuah buku bersampul biru tua yang tampak kusam. Debu menutupi hampir seluruh permukaannya, sementara sudut-sudut sampulnya mulai mengelupas.

Secangkir cokelat panas yang perlahan kehilangan uapnya berpindah dari tanganku ke atas meja belajar. Kehangatan yang semula menyelimuti telapak tanganku perlahan menghilang, berganti dengan rasa dingin dari udara malam.

Perlahan, kuraih buku bersampul usang itu. Jemariku mengusap permukaannya dengan pelan, membiarkan debu-debu beterbangan ke udara hingga membuatku terbatuk kecil. Samar-samar tercium aroma kertas tua yang begitu kukenal.

Buku itu sudah lama tak pernah ku sentuh.
Buku bersampul biru tua yang dahulu selalu ku tuangi tinta biru di setiap halamannya. Kini sampulnya mulai mengelupas, warnanya memudar, dan beberapa halamannya tampak menguning dimakan waktu. Meski begitu, tulisan di bagian depannya masih terlihat jelas.

"My Buddy."

Pelan, bibirku mengucapkan tulisan yang tertera di halaman pertama buku itu. Tulisan tanganku saat masih remaja dulu. Senyum kecil tanpa sadar terbit di wajahku. Aku kembali teringat saat pertama kali membungkus sampul buku ini dengan kertas berwarna biru tua.
Sudah hampir sepuluh tahun buku itu berada di kamar ini. Menemaniku melewati hari demi hari, menjadi tempat paling nyaman untuk menumpahkan segala keluh kesah. Tak pernah menghakimi, tak pernah menyudutkan. Aku bebas menuliskan apa pun yang kurasakan, meluapkan semua unek-unek yang selama ini terpendam.

Aku tak pernah menyangka buku ini akan menjadi barang yang begitu berharga. Seluruh masa remajaku tertuang di dalamnya. Tak ada kebohongan yang kusimpan, hanya kejujuran seorang gadis yang kala itu masih belajar mengenal dirinya sendiri.

Mataku menatap lekat buku itu. Ada rasa senang dan bahagia karena akhirnya bisa menemukannya kembali. Rasanya seperti menemukan harta karun yang telah lama hilang.

Tapi...

Apa aku sanggup kembali mengenang masa-masa itu?
Apa aku benar-benar mampu membacanya lagi?

Perlahan, kulepaskan buku itu dari genggamanku. Hembusan angin masuk melalui jendela yang sengaja kubiarkan terbuka. Biarlah angin malam menjadi teman dalam sunyi nya malam ini.

Aku terdiam beberapa saat, membiarkan suara-suara malam mengisi keheningan. Mencoba menenangkan hati yang entah sejak kapan dipenuhi keraguan. Pandanganku kembali jatuh pada buku itu. Begitu banyak percakapan memenuhi kepalaku, membuat jemariku kembali ragu untuk menyentuhnya.

"⁠Jo!"

Aku tersentak. Hampir saja secangkir cokelat diatas meja tumpah mengenai buku itu jika aku tidak sigap meraihnya.

"Ma!"

Mama berdiri di ambang pintu sambil menatapku. Kedua tangannya bersilang di depan dada, wajahnya tenang, tetapi tatapannya seolah menyimpan banyak pertanyaan.

Aku tahu tatapan itu.
Mama pasti tahu apa yang sedang kulakukan.

Dan mungkin... Mama akan melakukan hal yang sama seperti dulu. Membawaku menjauh dari kamar ini. Menjauh dari buku yang selama bertahun-tahun tak pernah berani kubuka lagi.
Sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
Saat halaman-halamannya hampir penuh, saat cerita yang ku tulis hampir mencapai akhir, dan saat aku bahkan belum sempat menyelesaikan kalimat terakhirku.

Mama melangkah mendekat, lalu merangkul bahuku pelan.

"Mama sudah lama sekali nggak masuk ke kamar ini. Setelah hampir sepuluh tahun... rasanya baru kemarin Mama manggil kamu yang lagi sibuk di sini. Entah nulis cerita atau baca buku. Iya, kan?"

Aku menatap wajah Mama lekat-lekat. Mama benar. Rasanya memang belum lama sejak kami menjalani hari-hari seperti itu. Setiap sore menjelang, atau saat malam tiba, aku selalu menghabiskan waktu di kamar ini. Duduk di depan meja belajar, menulis apa pun yang ingin aku tulis atau membaca kembali halaman-halaman yang pernah dipenuhi dengan tinta biru.

"Benar, Ma." Aku tersenyum tipis. "Makasih ya... sudah sabar nemenin Jovi selama ini. Kalau nggak ada Mama, Jovi nggak yakin bisa bertahan sampai sekarang."

Senyum Mama mengembang.
"Mama selalu yakin sama kamu. Kamu anak yang kuat. Mama bangga sama Jovi."

Mama kembali memelukku. Sebuah kecupan hangat mendarat pelan di atas kepalaku. Pelukannya masih sama seperti yang kuingat sejak kecil. Hangat, tenang, dan selalu berhasil membuat semua beban di dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Setelah beberapa saat, Mama melepaskan pelukannya.

"Kamu mau baca buku itu lagi?"

Pandanganku kembali jatuh pada buku bersampul biru tua yang masih berada di atas meja. Ada rasa takut yang sejak tadi terus mengganggu pikiranku. Namun, di balik semua itu, ada keinginan yang jauh lebih besar untuk kembali membuka setiap halaman yang pernah ditulis.

Kali ini...

Aku tidak ingin lari lagi.

Aku mengangguk pelan.

"Iya, Ma. Tapi... setelah makan malam sama Mama."
Mama tersenyum, lalu menggenggam tanganku.

Kami pun keluar dari kamar itu bersama, meninggalkan buku usang yang masih tergeletak di atas meja.

Untuk sesaat.

Karena malam ini, setelah hampir sepuluh tahun berlalu, aku akhirnya memberanikan diri untuk kembali membacanya.

Karena malam ini, setelah hampir sepuluh tahun berlalu, aku akhirnya memberanikan diri untuk kembali membacanya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
My Buddy Stories to obsess over. Discover now