Di balik seragam SMA Astra Nova dan statusnya sebagai putri bungsu keluarga Anggara, Aruna menyimpan rahasia besar yang tidak tersentuh oleh siapapun. Ia bukan sekadar gadis biasa; ia adalah pemimpin dingin di balik geng motor BLACKCHAOS.
Jalanan ko...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
~•~
Udara malam di flyover semakin dingin dan mencekam, berbau bensin dan petrichor dari sisa hujan sore tadi.
Asap knalpot sudah mengepul sejak tadi dibawah terangnya lampu-lampu kota yang mulai lelah. Deru mesin motor bergemuruh, membelah jalanan aspal basah yang baru disiram hujan. Di atas jok besi itu dunia terasa sederhana: Hidup atau Mati, Menang atau Kalah, Setia atau Dikhianati.
Di tengah lintasan ilegal yang baru saja disterilkan, dua kubu saling berhadapan. Di satu sisi jaket kulit hitam dengan lambang sayap perak—DELVAROS. Di sisi lain, jaket varsity hitam pekat dengan emblem abstrak hitam bertuliskan 'BLACKCHAOS'.
Malam ini adalah pertaruhan wilayah. Bukan untuk kekuasaan, tapi untuk harga diri.
Aruna, gadis dengan tatapan mata sedingin es dibalik helm full-face hitamnya menjadi pusat perhatian dari seluruh pasang mata yang ada disana. Walaupun memiliki proporsi tubuh yang kecil dan ramping, namun auranya memancarkan dominasi mutlak. Tangan yang dibalut dengan sarung tangan kulit, sudah siap untuk menarik tuas gas mesin motor sport-nya yang meraung rendah dan tak sabar lagi untuk mencium aspal dingin.
Di seberang garis start, dua sosok lain akhirnya tiba. Marvin Anggara dan Melvyn Anggara. Mereka adalah pentolan Delvaros, sosok yang juga ditakuti sekaligus dihormati di jalanan kota.
"Siapapun lo, gue akuin nyali lo besar juga." gumam Marvin kepada Aruna, suaranya berat. "Berani juga lo, nantangin dua pentolan Delvaros di kandang sendiri." sambung Melvyn.
Melvyn mendengus sinis, matanya menyipit tajam ke arah Aruna. "Kita lihat aja Vin, mungkin dia cuman bocah ingusan yang lagi cari mati. Setelah gue menang, gue pastiin bakan buka helm lo sendiri dengan tangan gue dan ajarin arti sopan santun yang benar."
"Jangan terlalu percaya diri, Vyn," sahut Aruna, suaranya teredam sistem intercom helm yang tersambung ke speaker luar, dingin tanpa emosi. "Bisa-bisa yang ada malah bocah ingusan' ini yang ngajarin lo cara mengemudi yang benar."
Duo Anggara bersaudara itu membeku. Mereka mengenal suara itu. Suara yang sudah lama tak terdengar dan mustahil untuk dilupakan.
"Nggak mungkin..." bisik Marvin.
"Kita buktiin, siapa penguasa sesungguhnya." lanjut Aruna, nadanya penuh dengan tantangan. Ia menurunkan kaca helmya. Kegelapan dibalik visor itu menyembunyikan mata cantiknya, namun senyuman sinisnya samar terlihat.
Detik itu juga, bendera start dikibarkan oleh seseorang di sisi lintasan. Suara raungan mesin menjadi satu, memecah kesunyian malam. Dua motor melesat kedepan seperti peluru kendali, menyisakan satu motor lain.
"Aruna..." bisik Marvin.
Awalnya Melyvn memimpin. Keahliannya sudah tidak diragukan lagi oleh siapapun. Namun, beberapa detik setelahnya mereka semua segera menyadari pemimpin Blackchaos bukan lawan sembarangan. Aruna tidak membalap dengan emosi yang meledak-ledak seperti anggota geng motor pada umumnya. Aruna terlalu tenang, cukup membuat emosi Melvyn naik secara perlahan.
Aruna membalap dengan presisi yang mengerikan, penuh dengan perhitungan, dan juga agresif pada momen yang tepat.
Ia tahu gaya balap Melvyn yang sering melebar di tikungan tajam dan selalu terlambat mengoper gigi saat melakukan akselerasi mendadak.
"Akh! Sial, Bangsat!" umpat Melvyn, ketika Aruna secara tiba-tiba di celah yang sempit antara dirinya dan pembatas jalan dengan kecepatan tinggi. Menyisakan jarak 2 cm, motor mereka hampir saja bersenggolan. "Tuh cewek gila!"
"Fokus, Melvyn! Jangan kepancing emosi!" teriak Marvin di intercom grup. Melvyn berusaha mengejar, tapi Aruna semakin menjauh.
Di setiap tikungan, di setiap lurusan, Aruna menunjukkan keunggulannya. Ia bukan pengacau seperti nama dan statusnya sebagai pemimpin Blackchaos. Ia adalah penguasa yang sesungguhnya. Ia tahu setiap inci jalanan ini, mungkin lebih baik daripada siapapun.
Akhirnya, putaran terakhir. Aruna masih tetap memimpin, semakin jauh, meninggalkan Melvyn yang tertinggal jauh dibelakangnya. Garis start/finish sudah terlihat di ujung jalan.
Dengan tenaga terakhir, Melvyn memacu motornya habis-habisan. Ia berhasil memperkecil jarak, tapi semuanya sudah terlambat.
Aruna melintasi garis finish dengan selisih jarak yang tipis, namun cukup jelas terlihat. Ia menang telak. Ia mengalahkan Melvyn salah satu pentolan di Delvaros.
Diiringi sorakan dari anggota Blackchaos yang menonton sedari tadi sengan dengan tenang, Aruna melambatkan laju motornya dan berhenti. Diikut oleh Melvyn yang tampak terguncang baik secara fisik maupun mental.
Melvyn perlahan membuka helmnya. Marvin perlahan ikut menghampiri kearah Aruna. Keduanya menatap Aruna dengan ekspresi campur aduk: kaget, tidak percaya, dan kemarahan yang tertahan.
"Aruna," ucap Marvin, suaranya bergetar. "Lo... pemimpin Blackchaos?"
Aruna tersenyum miring. Tidak ada raut penyesalan yang terlukis di wajah cantiknya. Tidak ada ketakutan bahwa identitasnya sebagai putri keluarga Anggara dan siswi SMA Astra Nova kini terbongkar.
"Iya, ini gue," jawab Aruna, suaranya datar. "And guess what? I just won against one of Delvaros' most proud members."
Melvyn melompat turun dari motornya dan mendekati Aruna, tatapan matanya menuduh. "Lo sadar nggak, apa yang baru lo lakuin Aruna?! Keluarga kita—"
"Keluarga?" Aruna memotong, suaranya mulai meninggi, dingin dan tajam. "Keluarga macam apa yang tega ngebuang gue? Keluarga macam apa, yang tega ngebuat gue harus hidup di jalanan sendirian?!"
Marvin mencoba meredakan situasi. "Aruna, ikut kita berdua pulang. Kita bisa bicara—"
"Nggak ada yang perlu dibicarain lagi," kata Aruna, memotong lagi. Ia menatap Marvin dan Melvyn tepat do mata mereka, tanpa berkedip. "Gue nggak butuh keluarga yang munafik. Gue udah punya keluarga sendiri. Blackchaos. Dan malam ini, Delvaros udah kalah. Wilayah ini sekarang milik Blackchaos. Dan gue peringatin lo semua, jangan coba-coba nginjakin kaki kalian lagi disini."
Aruna berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Marvin dan Melvyn yang berdiri mematung disana. Di belakangnya, bendera yang Blackchaos sudah terpasang dan berkibar tertiup angin malam. Pertarungan malam ini bukan sekedar balapan biasa, dan buka tentang perebutan wilayah. Ini adalah pernyataan perang secara mutlak dari seorang adik perempuan kepada kedua kakak laki-lakinya.
~•~
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.