Langit Biru Cinta Searah
Episode 1: Langit yang Sama, Hati yang Berbeda
Rehan duduk di bangku paling belakang kelas XII IPA 2, seperti biasa. Tangannya memegang pensil yang sudah digigit ujungnya, matanya menatap jendela. Langit di luar biru sekali hari itu. Tidak ada awan. Hanya biru yang bersih, seolah dunia sedang bersinar hanya untuk satu orang.
Dan orang itu sedang duduk di bangku paling depan.
Namanya Aira.
Rambutnya hitam lurus, diikat setengah, ada beberapa helai yang selalu jatuh di pelipis. Saat dia menunduk menulis, sinar matahari pagi masuk dari jendela dan membuat rambutnya berkilau. Rehan sudah hafal gerakan itu. Sudah dua tahun dia menghafalnya.
Dua tahun.
Sejak kelas X, sejak pertama kali Aira pindah ke sekolah mereka. Saat itu Rehan masih anak yang biasa saja. Tidak terlalu pintar, tidak terlalu bodoh, tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi. Tapi sejak Aira datang, semuanya terasa berbeda. Langit jadi lebih biru. Angin jadi lebih sejuk. Bahkan bel sekolah yang dulu membosankan, sekarang terdengar seperti alarm yang memberitahu dia bahwa dia masih punya waktu untuk melihat Aira setiap hari.
Rehan tahu itu cinta searah.
Dia tahu karena Aira selalu tersenyum kepada semua orang dengan cara yang sama. Kepada teman-temannya, kepada guru, bahkan kepada tukang kantin. Tidak ada yang spesial di senyum yang dia berikan kepada Rehan. Hanya senyum yang ramah. Senyum yang membuat dada Rehan terasa sesak sekaligus lega.
"Rehan, kamu dengerin nggak sih?"
Suara Raka, sahabatnya sejak SMP, menyentak Rehan dari lamunan. Raka menepuk meja Rehan dengan buku biologi.
"Hah? Apa?"
"Katanya besok ada tugas presentasi kelompok. Kamu mau satu kelompok sama siapa?"
Rehan mengalihkan pandangan sebentar ke depan. Aira sedang berbisik dengan teman sebangkunya, tawa pelannya terdengar sampai ke belakang. Rehan menelan ludah.
"Bebas aja," jawabnya pelan.
Raka menghela napas panjang. "Masih aja. Dua tahun, Re. Dua tahun kamu cuma bisa ngeliatin dari jauh. Kapan mau bilang?"
Rehan hanya tersenyum kecil. Senyum yang sudah terlalu sering dia pakai untuk menutupi perasaan.
"Nggak usah. Cukup kayak gini aja."
"Cukup?" Raka mendelik. "Kamu bahkan belum pernah ngobrol sama dia lebih dari tiga kalimat."
Rehan tidak menjawab. Karena Raka benar. Dia memang belum pernah. Setiap kali kesempatan datang, lidahnya kaku. Jantungnya berdetak terlalu kencang. Dan akhirnya dia hanya bisa mengangguk, tersenyum kaku, lalu pergi.
Bel istirahat berbunyi.
Anak-anak berhamburan keluar kelas. Rehan tetap duduk, menunggu. Dia selalu menunggu sampai Aira berdiri dulu. Hari itu Aira berdiri, mengambil tas, lalu berjalan ke arah pintu. Saat melewati meja Rehan, Aira berhenti sebentar.
"Rehan, boleh pinjem tip-ex?"
Suara itu lembut. Terlalu lembut.
Rehan hampir menjatuhkan pensilnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menyerahkan tip-ex yang ada di kotak pensilnya.
"Makasih ya," ucap Aira sambil tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dia berikan kepada semua orang.
Lalu dia pergi.
Rehan menatap punggung Aira yang semakin jauh di lorong. Tip-ex yang baru saja dipinjam itu masih terasa hangat di tangannya. Dia menggenggamnya erat.
Di luar, langit masih biru. Sangat biru.
Rehan menatap langit itu melalui jendela dan berbisik pelan, hampir tidak terdengar,
"Aku suka kamu, Aira.
Tapi kamu nggak akan pernah tahu."
Angin masuk melalui jendela yang terbuka, mengacak rambut Rehan. Seolah langit menjawab dengan keheningan yang panjang.
Dan di antara biru yang luas itu, cinta searah Rehan terus tumbuh. Diam-diam. Dalam-dalam.
Seperti langit yang selalu ada, meski tidak pernah digenggam.
---
To be continue
YOU ARE READING
Langit Biru Cinta Searah
RomanceLangit Biru Cinta Searah adalah novel remaja yang mengisahkan perjalanan cinta searah (cinta satu arah) seorang siswa SMA bernama Rehan.
