Ada satu hal yang selalu menarik untuk diamati dari kejauhan: Mengapa manusia sering kali terlalu buta untuk melihat pantulan diri mereka sendiri?
Mereka menatap cermin, namun yang mereka cari hanyalah apa yang ingin mereka lihat, bukan apa yang sebenarnya ada di hadapan mereka. Manusia jarang sekali merasa bersyukur atas apa yang telah diberikan; selalu ada hasrat untuk merombak, memotong, atau menyembunyikan kenyataan demi membangun citra baru di mata dunia. Padahal, sebuah perubahan kecil saja pada penampilan luar sudah cukup untuk memutarbalikkan persepsi semua orang yang melihatnya.
Seperti halnya pagi itu, di hari pertama tahun ajaran baru bergulir.
Udara pagi yang masih menyisakan hawa dingin tidak menyurutkan langkah dua gadis remaja yang berjalan bersisian menuju gerbang Central Highschool, sekolah terbaik di kota Moderat.
"Kirana, kau memotong rambutmu ya?" tanya Jenna. Matanya sedikit membulat, memperhatikan perubahan drastis pada sahabatnya itu.
Gadis yang ditanya hanya mendecakkan lidah. Penampilannya pagi itu memang sangat jauh dari kesan feminin. Rambutnya dipangkas pendek, nyaris menyerupai potongan anak laki-laki, dengan poni yang dibiarkan sedikit berantakan. Seragamnya pun dipakai dengan cara yang terkesan santai, menegaskan aura yang menguar darinya.
"Mulai sekarang, panggil aku Kieran," jawabnya dengan nada datar.
Jenna mengerjapkan mata, sedikit terkejut, namun sedetik kemudian ia tersenyum maklum. "Oh, oke? Kalau begitu, mungkin aku juga harus melakukan sesuatu pada rambutku..." gumam Jenna sambil memainkan ujung rambut panjangnya dengan jari.
Kirana menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Hah? Untuk apa?"
"Entahlah," Jenna mengedikkan bahu ringan. "Hanya ingin mencoba suasana baru? Apalagi sekarang kita hanya berdua. Rasanya aneh tidak ada Edith yang mengomel di samping kita."
Kirana menghela napas pelan membenarkan ucapan itu. Sejak Sekolah menengah, mereka bertiga selalu bersama. Sayangnya, nilai ujian Edith tidak cukup untuk menembus standar ketat sekolah favorit ini, memaksa sahabat mereka itu untuk mendaftar di sekolah lain.
"Dia pasti sedang merutuki kita dari jauh karena bisa satu sekolah," balas Kirana dengan senyum tipis yang jarang terlihat.
Jenna tertawa kecil, lalu memiringkan kepalanya, menatap Kirana dengan pandangan menilai. "Ngomong-ngomong, dengan potongan rambut seperti itu, kau benar-benar hampir terlihat seperti laki-laki, tahu."
"Apapun itu, aku tidak peduli," balas Kirana cuek. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, sama sekali tidak terganggu dengan komentar tersebut. "Jauh lebih praktis dan tidak membuat gerah. Orang mau mengira apa, itu urusan mereka."
"Ya, ya, terserah Tuan Kieran saja," goda Jenna sambil menyenggol lengan sahabatnya dengan main-main. "Ayo, jalannya lebih cepat! Aku sudah tidak sabar ingin melihat papan pengumuman pembagian kelas. Kita harus berdoa semoga kita masuk di kelas yang sama!"
Kerumunan siswa baru berdesakan di depan mading utama sekolah. Di atas papan besar yang dipenuhi lembaran-lembaran kertas itu, terpampang sebuah spanduk bertuliskan "Scholar's Passage" program orientasi kebanggaan Central Highschool.
Tch, aku lupa selalu ada hal tidak berguna seperti ini, rutuk Kirana dalam hati. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku rok, membiarkan Jenna yang bersemangat menyusup ke barisan depan untuk mengecek daftar nama mereka.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.