We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

1

22 3 0
                                        

{ Bagian 1}

~happy reading~



Langit pagi di atas Kota Jakarta masih diselimuti semburat jingga ketika kehidupan mulai bergerak seperti biasanya.

Jalanan perlahan dipenuhi deru kendaraan yang saling berpapasan, pedagang kaki lima sibuk menata dagangan, sementara para siswa berseragam putih abu-abu berjalan berkelompok menuju sekolah dengan obrolan yang terdengar saling bersahutan.

Sebagian masih menguap karena kurang tidur, sebagian lagi sibuk menghafal materi yang akan diujikan hari itu. Tidak ada yang terasa aneh. Semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya.

Di tengah ramainya pagi, berdiri sebuah sekolah yang cukup dikenal di kota ini.

Pelita school.

Belum pukul tujuh, tetapi gerbang sekolah sudah dipenuhi siswa. Satpam sekolah menyapa setiap murid yang datang dengan senyum ramah, sementara beberapa guru berdiri di dekat pintu masuk untuk memastikan seluruh siswa mengenakan seragam dengan rapi.

Dari kejauhan terdengar suara tawa yang bersahut-sahutan, bercampur dengan bunyi bel sepeda dan langkah kaki yang memenuhi halaman sekolah.

Di lantai dua gedung utama, seorang siswi baru saja menutup pintu kelas setelah membantu wali kelas memindahkan setumpuk buku ke ruang guru.

"Makasih ya, Calle."

"Iya, Bu."

Calle membalas dengan senyum kecil sebelum kembali berjalan menyusuri koridor. Kedua tangannya masih memegang beberapa buku yang tersisa.

Langkahnya pelan, tetapi tidak pernah sekalipun terdengar keluhan keluar dari bibirnya. Padahal buku-buku itu cukup berat untuk dibawa sendirian.

Saat berpapasan dengan dua siswa yang berlari karena hampir terlambat, Calle justru berhenti lebih dulu dan menepi agar mereka bisa lewat.

"Maaf, Kak!"

"Iya, hati-hati."

Ia kembali melanjutkan langkahnya sambil merapikan anak rambut yang tertiup angin. Wajahnya tampak tenang seperti biasanya.

Tidak banyak orang yang tahu kalau hampir setiap pagi ia harus bangun lebih awal untuk membantu bibinya menyiapkan rumah sebelum berangkat sekolah.

Baginya, membantu orang lain sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan tanpa perlu diminta.

Beberapa meter dari tempat Calle berjalan, suara tawa terdengar cukup keras dari arah lapangan basket.

"Heh! Tadi muka lo ngakak banget!"

"Apaan sih! Orang gue tadi keseleo."

"Keseleo? Lo tadi jatuhnya kayak pohon tumbang!"

Gelak tawa kembali pecah.

Di antara keramaian itu, seorang siswi berambut panjang hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis melihat tingkah teman-temannya. Dialah Nami.

"Kasihan ya lapangannya."

"Kenapa lagi?"

"Udah diinjak-injak, sekarang harus nonton permainan kalian juga."

"WOI."

"Gue peduli sama kesehatan lapangannya."

Hening sesaat.

Lalu...

"Sialan"

"HAHAHAHA!"

Suasana kembali pecah oleh tawa.

Nami ikut tertawa paling keras, sampai harus memegang perutnya sendiri. Ia memang dikenal mudah mencairkan suasana.

Entah melalui candaan yang masuk akal ataupun lelucon yang bahkan terkadang terdengar sangat tidak masuk akal. Baginya, melihat orang lain tertawa jauh lebih menyenangkan daripada melihat mereka saling diam.

Tidak jauh dari sana, di bawah rindangnya pohon ketapang yang berada di sisi taman sekolah, seorang siswi duduk sendirian sambil memangku sebuah buku.

Matanya sesekali membaca halaman yang terbuka, sesekali memperhatikan keramaian di sekitarnya.

Yuqi.

Ia tidak terlihat kesepian.

Ia memang terbiasa menikmati suasana tenang tanpa harus berada di tengah keramaian. Sesekali sudut bibirnya terangkat tipis ketika mendengar suara tawa dari lapangan, lalu kembali menunduk melanjutkan bacaannya.

Baginya, mengamati orang lain sering kali terasa lebih menarik daripada menjadi pusat perhatian.

Bel pertama akhirnya berbunyi.

Suara riuh yang memenuhi halaman sekolah perlahan berubah menjadi langkah-langkah tergesa menuju kelas masing-masing. Guru mulai berjalan memasuki ruang kelas, sementara koridor yang semula ramai perlahan kembali lengang.

Pagi itu...

Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa kehidupan mereka sedang berjalan menuju sebuah titik yang akan mengubah segalanya.

To be continued...

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 03 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RubikStories to obsess over. Discover now