BAB 1: Aroma di Ruang Kerja

9 1 0
                                        

Suasana rumah masih menyisakan keheningan yang berat, jenis kesunyian tebal yang menggantung di udara setelah derap langkah pelayat terakhir menghilang dari halaman depan. Bangku-bangku plastik berwarna biru yang tadi siang berjejer rapi di teras kini sudah ditumpuk di sudut garasi, meninggalkan jejak-jejak tanah kering dari sepatu orang-orang yang datang menyampaikan belasungkawa.

Aroma bunga melati yang perlahan layu di atas meja tamu bercampur dengan samar wangi kapur barus dari balik pintu kamar utama, seolah terus-menerus menegaskan sebuah kenyataan pahit yang belum sepenuhnya sanggup kuterima: Ayah telah benar-benar pergi.

Pak Teguh Prasetya, pria berusia lima puluh delapan tahun yang selama dua puluh delapan tahun hidupku menjadi kompas moral, teladan, sekaligus pilar utama keluarga kami, telah berpulang. Kepergiannya yang mendadak akibat serangan jantung meninggalkan rongga kosong yang menganga lebar di tengah-tengah kami. Ibu masih mengurung diri di kamar utama, duduk bersandar di tepi ranjang dengan mata sembab yang tak lagi sanggup meneteskan air mata. Di sampingnya, Maya-adikku yang biasanya ceria-hanya bisa menggenggam jemari Ibu dalam diam, membiarkan duka menyerap perlahan ke dalam selimut-selimut dingin yang tak lagi hangat.

Sebagai anak sulung, aku tahu diri. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan mereka. Namun, berdiri di tengah ruang tamu yang sepi hanya membuat dadaku kian sesak oleh reruntuhan duka yang belum terolah. Untuk mengalihkan pikiran dari rasa hampa yang terus merayap, aku melangkah menuju ruang kerja Ayah yang terletak di sudut paling belakang rumah kami.

Ruangan berukuran empat kali empat meter ini selalu menjadi sanctuary tempat Ayah menghabiskan sebagian besar waktunya sebagai seorang dosen senior di perguruan tinggi negeri. Di sinilah beliau menelaah puluhan skripsi mahasiswa, menyusun tulisan ilmiah, atau sekadar menghabiskan malam dengan membaca buku-buku tebal berdebu di bawah pendar lampu meja yang remang.

Ketika aku memutar gagang pintu kuningan dan mendorongnya pelan, aroma kopi hitam tanpa gula dan kertas-kertas tua khas Ayah seketika menyergap penciumanku. Aroma yang begitu akrab, begitu menenangkan, tetapi kini terasa seperti sembilu yang menyayat hati. Kertas-kertas penelitian, draft jurnal yang belum selesai diketik, serta tumpukan buku catatan berpenjepit klip masih berserakan di atas meja, seolah sang pemilik hanya pergi sebentar ke dapur untuk menyeduh cangkir teh kedua dan akan kembali dalam hitungan menit.

"Rian, bantu merapikan ruang kerja Ayahmu kalau kamu punya waktu," pesan Ibu dengan suara serak tadi pagi kembali terngiang di telingaku. "Ibu belum sanggup masuk ke sana..."

Aku menarik napas panjang, meresapi keheningan ruangan itu, lalu melangkah mendekati meja kerja jati berukir sederhana milik Ayah. Aku mulai mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan, mengurutkannya berdasarkan ukuran, lalu menatanya ke dalam rak kayu di samping dinding. Tanganku bergerak sangat teliti-kebiasaan analitis yang kuturunkan dari Ayah dan makin terasah selama bertahun-tahun bekerja di bank pemerintah. Aku merapikan letak tempat pensil, memutarkan posisi kalender meja, dan memastikan setiap benda berada pada presisi yang sempurna, sekadar untuk memberi ilusi bahwa aku masih memegang kendali atas emosiku sendiri.

Namun, saat aku memegang tepi kaca tebal yang melapisi permukaan meja jati tersebut untuk menyapu sisa debu di kolosannya, jariku yang berada di bawah lis kayu menggeser sebuah celah kecil.

Klik.

Suara mekanisme kayu yang bergeser halus memecah kesunyian ruangan.

Aku menahan gerakan tanganku, mengerutkan dahi. Kebiasaanku yang perfeksionis membuatku menyadari detail-detail kecil yang janggal. Di sudut kanan bawah kerangka meja, ada sambungan panel kayu yang sedikit terangkat, tidak rata dengan bagian lainnya. Karena penasaran, aku mencoba menekan lis kayu tebal tersebut lebih dalam menggunakan ibu jariku. Panel kayu berukuran mungil itu bergeser ke dalam, mengungkapkan sebuah kompartemen rahasia yang tersembunyi dengan sangat presisi di balik ukiran meja jati tua itu.

Berkas yang Tertinggal di Meja KerjaStories to obsess over. Discover now