Detik yang Hilang di Saku Celana

1 1 0
                                        

"Waktu itu adil. Ia tidak pernah memihak, tidak juga bisa dibeli dengan seluruh harta kekayaan dunia. Tapi manusia, makhluk paling merugi, sering kali baru menyadarinya saat tangan mereka sudah kosong."

Kakek sering mengucapkan kalimat itu. Diulanginya berkali-kali, seolah-olah ia sedang menanam benih di tanah yang gersang. Dan seperti dugaan Kakek, telingaku bagaikan tembok batu. Kalimat itu masuk dari telinga kanan, lalu melompat keluar lewat telinga kiri tanpa sempat singgah di kepala.

Menurut seorang remaja berusia tujuh belas tahun sepertiku, Althaf Sajara, waktu bukanlah sesuatu yang sakral. Waktu adalah angka-angka digital di pojok kanan atas layar ponselku. Angka yang bisa digeser, diseret, diabaikan, atau dihabiskan untuk menggulir linimasa tanpa ujung. Pukul dua pagi? Masih sore. Pukul tiga pagi? Masih ada waktu untuk satu episode serial lagi. Begitu terus, berulang-ulang, sampai matahari pagi mengusir kantukku dengan paksa.

Hingga hari itu tiba. Hari di mana Kakek ditemukan terbaring tenang di atas kursi goyangnya, dengan sebuah buku bersampul kulit rusa di pangkuannya. Napasnya telah berhenti, tetapi senyum di wajahnya menyisakan ketenangan yang membuatku merasa sangat asing.

Pemakaman telah usai. Para pelayat sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, meninggalkan debu jalanan dan keheningan yang menyesakkan di dalam rumah tua Kakek. Rumah ini terletak di ujung gang sempit, jauh dari kebisingan kota, dipenuhi rak-rak kayu jati tua yang menopang ribuan buku. Bau khas kertas usang dan vanila samar selalu menguar di setiap sudutnya. Bau yang sejak kecil kubenci, karena menandakan tempat yang membosankan tanpa sinyal internet.

Aku berdiri di ruang kerja Kakek, memegang sebuah kunci tembaga berukir rumit. Kunci peninggalan terakhirnya.

Di atas meja kerjanya, hanya ada sebuah kotak kayu kecil dan sepucuk surat dengan tulisan tangan yang mulai gemetar. Aku membuka surat itu dengan malas.

"Untuk Althaf, cucuku yang lehernya hampir patah karena selalu menunduk menatap layar pipih. Jika kau membaca surat ini, berarti kakek telah menyelesaikan perjalanan panjang di dunia. Kunci tembaga itu adalah warisan terberat sekaligus terindah yang kutinggalkan. Toko buku ini bukan sekadar tempat jual beli, Althaf. Ini adalah tempat di mana detik-detik hidup manusia yang hampir hancur disimpan. Rawatlah. Jangan biarkan waktu mempermainkan mereka yang datang kepadamu."

Aku mendengus pelan, melipat surat itu, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja. "Kakek dan segala filosofinya," gumamku pelan, menggelengkan kepala.

Namun, rasa penasaran yang tersembunyi di balik rasa bosan membuat kakiku melangkah ke sudut ruangan. Di balik sebuah lemari buku besar, terdapat sebuah pintu rahasia yang tidak pernah diizinkan Kakek kumasuki semasa ia hidup. Dengan tangan gemetar kecil, aku memasukkan kunci tembaga itu ke lubangnya.

Cklek.

Suara mekanisme besi berkarat berderit nyaring. Pintu itu terbuka perlahan, memunculkan aroma angin malam yang dingin, bercampur dengan wangi kertas tua yang jauh lebih pekat.

Aku melangkah masuk. Ruangan di baliknya sama sekali tidak mirip kamar rahasia yang menyeramkan. Ruangan itu luas, berbentuk melingkar, dengan langit-langit tinggi beratap kaca tembus pandang yang memperlihatkan taburan bintang di langit malam. Di tengah ruangan, berdiri sebuah meja batu marmer hitam yang panjang. Di atas meja itu, tidak ada debu sedikit pun. Hanya ada satu benda: sebuah buku tebal bersampul abu-abu legam, tanpa judul, tanpa hiasan.

Tanganku terulur, seolah ada medan magnet tak kasat mata yang menarik jemariku. Ketika ujung jariku menyentuh sampul buku itu, seluruh ruangan mendadak sunyi. Suara jangkrik di luar jendela lenyap. Yang terdengar hanya satu suara yang begitu nyaring dan menggema di dalam kepala:

Tik ... tok ... tik ... tok ....

Suara detak jam dinding raksasa yang tidak wujud di mana pun.

"Apa-apaan ini?" bisikku, menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanku mendadak kering.

Tanpa bisa kukendalikan, jemariku membuka halaman pertama buku itu.

Tidak ada tulisan tinta hitam di atas kertas putih. Yang ada hanyalah sebuah ruang hampa cahaya yang berputar-putar seperti pusaran air. Sebelum aku sempat menarik tanganku, tubuhku tersentak ke depan. Sebuah kekuatan mahabesar menarikku, menyedotku masuk ke dalam halaman buku tersebut, hingga kegelapan total menelan kesadaranku.

Angin dingin yang menusuk tulang langsung menyambut kulitku saat aku membuka mata.

Aku tidak lagi berada di ruang rahasia Kakek. Kakiku berpijak di atas aspal basah yang memantulkan lampu-lampu jalan kota yang temaram. Gerimis tipis turun, membasahi jaket tebal yang kukenakan.

"Di mana aku?" gumamku, meraba saku celanaku secara refleks. Ponselku mati. Tidak ada sinyal.

Aku mendongak, memerhatikan sekitar. Sebuah rumah minimalis berpagar hitam berdiri di sebelah kananku. Dari dalam rumah itu, terdengar suara isak tangis seorang wanita paruh baya dan suara benturan benda keras.

Prang!

"Kamu tidak pernah ada untuk keluarga ini, Mas! Setiap kali aku dan anak-anak butuh, kamu selalu bilang sibuk! Sibuk rapat, sibuk proyek, sibuk mencari uang! Sampai kapan?" teriak seorang wanita dari balik pintu rumah itu dengan suara parau yang menahan luka luar biasa.

Sebuah suara pria menjawabnya dengan nada lelah dan tinggi, "Kamu pikir aku tidak lelah?! Aku melakukan semua ini untuk siapa kalau bukan untuk kalian?!"

Aku terpaku di dekat pagar. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadaku. Aku tahu adegan ini. Bukan, aku tidak mengenalnya secara langsung, tetapi suasananya ... suasana itu terasa begitu akrab dengan apa yang sering Kakek ceritakan lewat dongeng-dongeng masa kecilnya tentang manusia-manusia yang salah memilih prioritas.

Tiba-tiba, dari arah seberang jalan, sesosok bayangan kecil berlari kencang. Seorang anak laki-laki seusia sepuluh tahun, mengenakan jas hujan kuning berukuran kebesaran, berlari membawa sebuah kotak mainan kecil di pelukannya. Ia menangis tersedu-sedu, mengabaikan genangan air yang ia terjang.

"Ayah ... Ibu ..." isak anak itu.

Aku ingin memanggilnya, ingin berteriak memperingatkannya agar tidak menyeberang sembarangan karena ada sebuah mobil sedan hitam melaju kencang dari tikungan dengan lampu utama yang menyilaukan.

"Awas!" teriakku sekuat tenaga.

Tetapi mulutku terasa terkunci. Suaraku tidak keluar. Waktu di sekitarku melambat secara drastis, bagaikan film yang ditekan tombol slow motion. Aku melihat mobil itu mendekat. Aku melihat anak kecil itu menoleh dengan mata ketakutan. Dan di detik yang paling mengerikan itu, aku melihat diriku sendiri-atau seseorang yang sangat mirip dengan pria di dalam rumah tadi, mendobrak pintu pagar, berlari keluar untuk menyelamatkan anak tersebut.

Namun, semuanya terlambat sepersekian detik.

Bum!

Suara benturan itu menghantam dadaku dengan keras, seolah aku sendiri yang ditabrak. Hujan gerimis mendadak berubah menjadi tirai air mata yang pekat. Di atas aspal yang basah oleh darah dan air hujan, pria paruh baya itu memeluk sang anak dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya.

Di telinga kananku, suara detak jam dinding kembali berputar liar: Tik ... tok ... tik ... tok ....

Dan di udara malam yang dingin itu, sebuah bisikan lembut namun tegas bergeming di dalam kepalaku, seolah suara Kakek sendiri yang berbicara tepat di sebelah telingaku:

"Waktu tidak pernah meminta maaf atas detik-detik yang telah kau curi dari orang-orang tercinta, Althaf. Sekarang, katakan pada Kakek ... berapa banyak waktu milikmu sendiri yang sudah kau buang sia-sia di luar sana?"

Dunia di sekitar ku sirna dalam pusaran cahaya putih yang menyilaukan.

tbc.

Pewaris Toko Buku WaktuStories to obsess over. Discover now