Di usia ke 17 tahun, Tuhan memberi hadiah luar biasa. Kematian ayahku.
Enam bulan kemudian, ibuku menikah lagi dengan seorang duda yang mempunyai dua anak laki-laki. Usia mereka tak jauh berbeda denganku.
Ibu, wanita yang memang luar biasa. Luar biasa lugunya. Hingga mudah sekali menerima tiga orang gelandangan masuk ke rumah kami. Kemudian mereka mulai memakai semua seolah barang-barang mereka sendiri.
Aku mengeluh, tapi hanya dalam hati. Asal ibuku yang lugu itu bahagia, maka aku juga bahagia.
Tadinya hidup kami biasa saja. Meski belum lama saling mengenal, kami berusaha saling menghargai. Tapi semua berubah setelah Ibu meninggal karena sakit empat tahun kemudian.
Usiaku baru 21 tahun. Dan kini aku telah beralih fungsi, dari seorang anak menjadi tulang punggung keluarga. Mau tak mau harus menjalankan usaha keluarga, yaitu meneruskan peternakan sapi dengan dua orang pekerja sebagai karyawan. Sialnya, karena ekonomi yang terus memburuk, akhirnya mereka menjual sapi-sapi yang tersisa.
Lalu kemudian kami benar-benar bangkrut.
Dua saudara tiriku bernama Nick dan Charles. Namaku sendiri, Xavier.
Sejak kematian ibu, aku merasa benar-benar sebatang kara. Sebatang kara, tapi harus menghidupi tiga orang keluarga tirinya. Entah, kadang aku merasa sangat lelah. Apalagi mereka seperti benalu yang kerjanya hanya bermalas-malasan dan cekikikan sepanjang hari. Seperti perempuan.
Atau, mungkin memang mereka bertiga itu perempuan.
"Belum masak?" Ayah bertanya saat dia melihatku melepas sepatu kerja.
Aku menoleh. "Ya, sebentar lagi."
Ah, ternyata di sini aku yang seperti perempuan.
*
Hari-hariku berlalu cukup membosankan. Aku bekerja sebagai buruh serabutan. Kadang membantu menjagakan toko kelontong Paman Andrew. Kadang membantu merapikan rumput Nyonya Valeria. Kadang menemani Leah kencan.
Leah, gadis bertubuh kurus dengan gigi tak rata. Hampir semua pria mengatainya. Sebenarnya dia cukup kaya, nilai-nilainya pun lumayan. Maksudku, dia bukan termasuk deretan gadis bodoh. Tapi entahlah, dia bilang tak ada seorang pemuda pun yang berniat mengajaknya kencan. Karena itu kadang dia membawaku saat menghadiri undangan pesta. Maksudku, dia meminta aku menemaninya dengan imbalan uang saat pulang.
Nick dan Charles seringkali menertawakanku dengan mengatai bahwa aku pemuda sewaan. Tapi aku tak menggubris. Kujejalkan kaos kaki ke mulut mereka agar diam. Ah, maaf, aku hanya bercanda.
Yang benar, kudiamkan saja.
***
Malam ini, ayah dan dua saudara tiriku tengah bersiap untuk pergi. Dari pakaian yang mereka kenakan, sepertinya mereka akan pergi ke sebuah pesta. Mengenakan setelan jas formal dan sepatu pantofel mengkilap.
"Kau ingin tahu kami akan pergi ke mana?" Nick, si rambut keriting akhirnya menanyaiku.
"Apa aku peduli?" sahutku sambil mengelap piring yang baru saja kucuci.
Pemuda berusia setahun di bawahku itu berdecik sebal. Kemudian melangkah berlalu keluar dari dapur.
"Kami akan ke pesta ulang tahun Nona Larra." Charles berucap meneruskan ucapan adiknya. "Mereka mengumumkan, putri Tuan Alexander ingin mencari pemuda yang bisa memenuhi persyaratan untuk menjadi suaminya. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya seumur hidup tak perlu bekerja? Itu surga."
Aku mengangkat alis. "Lalu dari mana kalian dapat ide tolol semacam itu?"
"Ide tolol?" Wajah Charles memerah.
ESTÁS LEYENDO
Cinderellan't
RomanceXavier menjalani hidup layaknya Cinderella; harus hidup dengan ayah tiri dan dua saudara tiri yang culas. Hidupnya sangat menyedihkan, sampai akhirnya dia bertemu dengan Larra, putri yang menggelar pesta untuk mencari jodoh.
