Sidang skripsi akhirnya selesai.
Hari itu seharusnya menjadi momen paling melegakan dalam hidup gue. Empat tahun menghabiskan waktu di bangku kuliah, bergadang demi tugas, melewati revisi tanpa akhir, hingga berhadapan dengan dosen pembimbing yang mood-nya lebih sulit ditebak daripada cuaca yang sudah resmi berakhir.
Namun, begitu melangkah keluar dari ruang sidang dan dinyatakan lulus, tidak ada rasa berlebihan yang membuncah, ada satu kebanggaan karena lulus dan selama masa kuliah lancar tanpa halangan apapun good job!!!
Yang tersisa justru perasaan hampa. Ada ruang kosong yang amat besar di kepala gue, tiba-tiba menjadi begitu sunyi.
Selama empat tahun terakhir, rotasi hidup gue hanya berputar di antara ruang kelas, tugas, organisasi, dan laporan. Gue sampai lupa rasanya memegang uang hasil keringat sendiri, atau nikmatnya rasa lelah usai bekerja malam hari demi menunggu tanggal muda.
Padahal... gue pernah berada di posisi itu.
Selepas tamat SMA, gue sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta. Pekerjaan sederhana, tetapi sangat nyaman. Lingkungannya menyenangkan, gajinya cukup untuk anak muda seusia gue, dan yang terpenting: gue menikmati alur hidup saat itu.
Sampai akhirnya, orang tua mulai membuka percakapan tentang masa depan.
"Kalau ada kesempatan, lanjut kuliah dulu ya, Ger," ujar Nyokap lembut malam itu. "Kesempatan buat belajar itu gak datang dua kali," tambah Bokap menimpali.
Awalnya gue menolak secara halus. Gue sudah terlanjur nyaman dengan kemandirian finansial ini. Gue bahkan sempat menyusun rencana untuk kuliah sambil bekerja. Bagi gue, itu jalan tengah terbaik.
Namun, realita tak pernah semudah coretan rencana.
Pihak HRD menolak pengajuan izin kuliah gue. Alasannya beragam: aturan perusahaan, risiko bentrok jadwal shift, hingga kekhawatiran penurunan performa kerja. Syaratnya mutlak: gue harus mengabdi minimal dua tahun dulu baru boleh mengambil studi.
Saat itu, gue hanya bisa bungkam. Di satu sisi gue ingin meringankan beban orang tua, tetapi di sisi lain, ada dahaga akan pendidikan yang lebih tinggi.
Hingga akhirnya... gue memilih resign.
Sebuah keputusan besar yang kerap hadir kembali di benak gue saat malam sunyi. Apakah waktu itu gue mengambil langkah yang salah?
Entahlah.
Empat tahun berlalu dalam sekejap. Kini gue berdiri di titik yang dulu begitu digadang-gadangkan: Sarjana dengan predikat cumlaude.
Lucunya, deretan gelar di belakang nama itu tak lantas mengubah nasib secara ajaib. Sambil menunggu prosesi wisuda, gue mulai menyebar berkas lamaran ke mana-mana. Gue membayangkan ijazah S1 ini akan menjadi kunci pembuka jalan yang mudah.
Ternyata gue keliru besar.
Enam bulan berlalu tanpa kepastian. Enam bulan terbangun setiap pagi hanya untuk memeriksa portal lowongan kerja. Enam bulan mengirimkan CV tanpa pernah tahu apakah berkas itu dilirik atau langsung dibuang. Enam bulan duduk di ruang wawancara, memasang topeng penuh rasa percaya diri.
"Kenapa perusahaan kami harus menerima Anda?" "Bisa sebutkan kelebihan dan kekurangan Anda?" "Apa target hidup Anda lima tahun ke depan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berulang hingga gue hafal luar kepala. Gue mengikuti berbagai rangkaian tes dan wawancara, tetapi muaranya selalu sama:
"Baik, hasilnya akan kami kabari kembali melalui E-Mail."
Sebuah kalimat penolakan halus yang amat familier.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fate Of The Sheet
FanfictionSidang skripsi akhirnya selesai. Hari itu seharusnya menjadi momen paling melegakan dalam hidup gue. Empat tahun menghabiskan waktu di bangku kuliah, bergadang demi tugas, melewati revisi tanpa akhir, hingga berhadapan dengan dosen pembimbing yang m...
