Mekkarani ;

23 0 0
                                        


"Rani... boleh tolong bantu Ibu menyiapkan sesaji?"

Gadis cantik berusia 17 tahun itu menoleh dengan semangat, ia bergegas meninggalkan halaman rumah yang di penuhi bunga batang macis, lalu masuk ke dalam dengan tergesa. Gadis itu bernama Mekkarani Yali Saido- putri sulung sang perantara suara leluhur terpandang, siapa lagi jika bukan Sanatia. Meski cerita tentang wanita itu sudah berakhir di buku sebelumnya, kehadirannya pada tiap lembar cerita ini akan sangat berarti.

Mekkarani adalah gadis yang manis, ia suka warna putih dari awan-awan yang bertengger di atas bukit kala ia sedang memetik buah asam, ia suka bunyi kicauan burung saat ia hendak membuka jendela kamarnya di pagi hari. Dan ia suka mendengar ibunya bernyanyi.

Menjadi penyair dan pewaris dari suara para leluhur mereka adalah cita-citanya. Hal yang tidak pernah tak ia sukai seumur hidupnya. Ia tumbuh bersama sahutan-sahutan gimba, terlelap mendengar bunyi lalove, dan bahkan ikut menari dengan sang Ibu jika sedang menjadi Sando di sebuah upacara adat. Mekkarani begitu menyukai adat istiadatnya, memuja para leluhurnya lebih dari apapun.

Penduduk desa juga menyukainya, mereka seperti melihat Sanatia berumur 17 tahun, bedanya dahulu Sanatia tidak sebersemangat ini ketika mereka akan pergi ke hutan untuk melaksanakan Balia. Semangat itulah yang membuat para penduduk desa yakin bahwa Mekkarani akan mewarisi suara leluhur mereka, bahwa tak ada yang lebih pantas dari Mekkarani -bahkan jika ia bukan anak Sanatia.

Mekkarani percaya sang leluhur memilihnya. Jika bukan dia, siapa lagi? Tidak ada satu orang pun yang lebih taat, lebih menguasai dan lebih pantas dari Mekkarani saat ini.

Tapi, bagaimana jika leluhur punya caranya sendiri dalam memilih penerus suara? Bagaimana jika gadis yang di agung-agungkan itu tidak di terima menjadi perantara antara manusia dan leluhurnya?

Mekkarani mungkin lupa, Sanatia dahulu menolak keras suara tapi pada akhirnya tetap mewarisi juga. Di masa ini, mungkin hal bertolak belakang bisa terjadi.

Sebab suara itu adalah milik sang leluhur, maka hanya leluhurlah yang tahu siapa yang pantas bergema.

"Ibu, semua sesajinya sudah siap!"































Para Karakter;

-Mekkarani Yali Saido

"Aku selalu bermimpi bersyair dengan melodi, memuja leluhur sepenuh hati hingga menari di atas api

Rất tiếc! Hình ảnh này không tuân theo hướng dẫn nội dung. Để tiếp tục đăng tải, vui lòng xóa hoặc tải lên một hình ảnh khác.

"Aku selalu bermimpi bersyair dengan melodi, memuja leluhur sepenuh hati hingga menari di atas api. Tapi bagaimana mungkin suara itu bukan milikku?" -Mekkarani.



-Sanatia, Yali Saido dan Antaloka

Mereka adalah Ibu Mekkarani, Ayah Mekkarani dan Adik Mekkarani

Rất tiếc! Hình ảnh này không tuân theo hướng dẫn nội dung. Để tiếp tục đăng tải, vui lòng xóa hoặc tải lên một hình ảnh khác.

Mereka adalah Ibu Mekkarani, Ayah Mekkarani dan Adik Mekkarani.











Seoson dua dari buku Darah Syair, Daging Leluhur. Buku sebelumnya menceritakan bagaimana Sanatia begitu menolak suara yang di warisan padanya, di cerita ini sebaliknya. Suara yang tidak menginginkan putri Sanatia.

Enjoy gusy, jika ada kesalahan kata, budaya, mohon di maafkan yaa, sebab ini adalah FIKSI.

-With love, Bubuy Cantik💛

Bạn đã đọc hết các phần đã được đăng tải.

⏰ Cập nhật Lần cuối: Jul 31 ⏰

Thêm truyện này vào Thư viện của bạn để nhận thông báo chương mới!

Mekkarani ;Những tác phẩm khiến độc giả say mê. Hãy khám phá bây giờ