hii, ini first time aku bikin cerita.
hope u enjoy it! thank uu, dear! 💕
𝐃𝐢 𝐀𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐮𝐥𝐚𝐚𝐧.
"Barangkali, takdir tidak pernah datang dengan suara yang lantang. Ia hanya menyelinap perlahan, lalu mengubah hidup seseorang tanpa sempat meminta izin."
Jika seseorang bertanya kepadaku kapan seluruh kisah ini bermula, mungkin aku akan terdiam sejenak.
Aku akan memandangi langit yang entah mengapa selalu tampak sama seperti hari itu, menarik napas perlahan, kemudian tersenyum kecil.
Sebab, jawabannya tidak sesederhana tanggal di dalam kalender.
Kisah ini tidak dimulai ketika aku menyadari bahwa aku mencintainya. Bukan pula ketika ia menggenggam tanganku untuk pertama kalinya.
Apalagi ketika kami saling mengucapkan kata-kata yang selama ini hanya berani kusimpan dalam diam.
Tidak.
Semuanya bermula jauh sebelum itu.
Pada sebuah pagi yang terlihat begitu biasa.
Pagi ketika matahari bersinar lembut di balik gugusan awan, ketika embun masih bertahan di ujung dedaunan, dan ketika aku melangkahkan kaki menuju sekolah tanpa mengetahui bahwa kehidupanku akan berubah selamanya.
Kala itu, aku hanyalah seorang gadis yang percaya bahwa hidup dapat berjalan dengan tenang selama aku tidak mengharapkan terlalu banyak.
Aku percaya bahwa pertemuan hanyalah sebuah kebetulan. Bahwa manusia datang dan pergi sebagaimana musim berganti.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti aku akan menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk mengingat satu nama.
Satu senyum.
Satu tatapan.
Satu sosok yang perlahan memenuhi setiap sudut pikiranku.
Namaku Hailey Lavender Vanasya Winjaya.
Aku menyukai pagi yang sunyi.
Aku menyukai aroma buku baru yang masih menyisakan wangi tinta di setiap halamannya.
Aku menyukai hujan yang turun perlahan, seolah setiap tetesnya sedang membawa pulang kegelisahan yang tidak mampu diucapkan manusia.
Aku juga menyukai senja.
Sebab senja tidak pernah memaksa siapa pun untuk menetap.
Ia hanya datang, menghangatkan langit untuk sesaat, lalu berpamitan tanpa meninggalkan kebisingan.
Barangkali, sejak awal aku memang menyukai hal-hal yang tahu cara mengucapkan selamat tinggal.
Hari itu merupakan hari pertama tahun ajaran baru.
Gerbang sekolah dipenuhi langkah-langkah tergesa. Tawa para siswa saling bersahutan, sementara angin pagi mengibaskan daun-daun trembesi yang berjajar di sepanjang halaman. Bangunan sekolah berdiri megah di bawah langit biru, seolah sedang menyambut siapa pun yang akan memulai kisahnya di sana.
Aku menggenggam tali tasku sedikit lebih erat.
"Aku harap tahun ini berjalan baik," bisikku nyaris tak terdengar.
Harapanku sederhana.
Aku hanya ingin pulang setiap hari dengan hati yang ringan. Memiliki beberapa teman yang tulus. Belajar dengan sungguh-sungguh.
Dan meninggalkan sekolah ini kelak tanpa penyesalan.
Semesta rupanya memiliki rencana lain.
Bel pertama berbunyi.
Aku mempercepat langkah menyusuri koridor menuju ruang kelas.
Di salah satu tikungan, seseorang datang dari arah berlawanan.
Segalanya terjadi begitu cepat.
Buku-buku yang kubawa terlepas dari pelukan dan jatuh berserakan di lantai.
Beberapa lembar kertas melayang mengikuti embusan angin yang masuk dari jendela koridor.
"Astaga..."
Aku segera berjongkok untuk mengumpulkannya.
Namun sebelum sempat kuraih buku terakhir, sebuah tangan lebih dahulu mengambilnya.
"Ini."
Suaranya rendah.
Tenang.
Lembut, tetapi cukup jelas untuk menghentikan segala kegaduhan di dalam kepalaku.
Aku mengangkat wajah.
Dan pada detik itulah, waktu seolah melambat.
Seorang laki-laki berdiri di hadapanku dengan seragam yang dikenakan begitu rapi. Matanya berwarna gelap, seteduh langit menjelang malam. Tidak ada senyum lebar di wajahnya, hanya ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Maaf," ucapnya. "Aku kurang memperhatikan jalan."
Aku menerima buku itu dengan kedua tangan.
"Tidak... aku juga terlalu terburu-buru."
Keheningan menyelimuti kami selama beberapa detik.
Aneh.
Padahal kami bahkan belum saling mengenal.
Namun, tidak ada kecanggungan yang kurasakan.
Hanya ada perasaan asing yang tidak mampu kujelaskan.
Ia membantuku mengumpulkan beberapa lembar kertas yang masih tersisa di lantai.
"Sudah lengkap?"
Aku memeriksanya sekilas.
"Ya. Terima kasih."
Ia mengangguk pelan.
"Sama-sama."
Lalu ia melanjutkan langkahnya, meninggalkanku yang masih berdiri mematung di tengah koridor.
Aku memandangi punggungnya hingga perlahan menghilang di balik keramaian.
Entah mengapa, aku merasa baru saja kehilangan sesuatu.
Padahal kami bahkan belum sempat saling memperkenalkan diri.
Aku menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
"Mungkin hanya karena ini hari pertama."
Aku tidak tahu bahwa sejak saat itu, semesta diam-diam mulai menuliskan kisah yang akan mengubah banyak hal dalam hidupku.
Kisah tentang dua orang asing yang dipertemukan pada pagi yang tampak biasa.
Kisah tentang pertemanan yang tumbuh tanpa direncanakan.
Tentang tawa yang datang di saat-saat tak terduga.
Tentang jarak yang perlahan memendek.
Dan tentang perasaan yang hadir begitu pelan, hingga kami sendiri tidak menyadari kapan semuanya bermula.
Saat itu, aku bahkan belum mengetahui siapa dirinya.
Aku tidak mengenal namanya.
Aku tidak tahu kelasnya.
Aku juga tidak pernah membayangkan bahwa kami ternyata berada di angkatan yang sama.
Bagiku, ia hanyalah seorang laki-laki asing yang dengan sopan membantuku memungut buku-buku yang terjatuh di koridor sekolah.
Sesederhana itu.
Namun, terkadang kehidupan memang senang menyembunyikan kejutan di balik peristiwa yang paling sederhana.
Aku baru mengetahui namanya beberapa hari kemudian.
Damian Angkasa Kalandra.
Dan tanpa kusadari, pertemuan singkat di pagi itu telah menjadi halaman pertama dari kisah yang akan kami tulis bersama.
≻───── ⋆✩⋆ ─────≺≻───── ⋆✩⋆ ─────≺
jangan lupa vote yaa, thank uu!
YOU ARE READING
Lovestruck. (tidak di lanjut)
RomanceKupikir, semua kisah cinta selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Tatapan yang membuat waktu berhenti, pertemuan yang mengubah segalanya, atau perasaan yang datang begitu saja. Nyatanya tidak. Kisahku dimulai dari hal yang nyaris tidak pantas dik...
