01. Bapak, Ibu, dan Anak Semata Wayang

512 49 11
                                        

Ada anak-anak yang tumbuh dengan mengenal keterbatasan sejak mereka membuka mata. Belajar menerima bahwa tidak semua keinginan bisa terpenuhi, dan tidak semua impian dapat diraih dengan mudah.

Kalingga tidak pernah mengalami itu.

Sejak lahir, ia hidup di tengah keluarga yang nyaris selalu mampu memenuhi segala kebutuhannya. Bapak dan ibunya sama-sama berprofesi sebagai dokter. Bapaknya mengabdikan diri di sebuah puskesmas, lalu melanjutkan praktik di rumah setiap sore hingga malam. Sementara ibunya bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Kota Semarang.

Kehidupan mereka jauh dari kata sederhana, tetapi juga tidak pernah berusaha terlihat mewah. Rumah yang nyaman, halaman yang luas, sebuah mobil di garasi, dan kebutuhan yang selalu tersedia menjadi pemandangan yang begitu biasa bagi Kalingga. Ia tumbuh tanpa pernah benar-benar memahami seperti apa rasanya meminta sesuatu lalu mendengar kata "tidak".

Bapak adalah anak tunggal dari keluarga pemilik perkebunan kelapa sawit yang telah dikelola turun-temurun. Seiring waktu, perkebunan itu berkembang menjadi sebuah perusahaan keluarga dengan nilai yang tidak sedikit. Meski demikian, sejak kecil ia tidak pernah tertarik meneruskan usaha tersebut. Ketika teman-teman sebayanya mulai belajar tentang bisnis keluarga, ia justru sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi masuk fakultas kedokteran.

Keputusan itu sempat ditentang keluarganya. Bagi mereka, tidak ada alasan meninggalkan perusahaan yang sudah mampu menjamin kehidupan beberapa generasi ke depan. Namun Bapak tetap pada pendiriannya. Ia ingin menjadi dokter, bukan pengusaha.

Keputusan itulah yang akhirnya membawanya bertemu dengan perempuan yang kelak menjadi ibu bagi Kalingga.

Mereka berkenalan saat sama-sama menempuh pendidikan kedokteran. Berawal dari teman sekelas, hubungan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan.

Sayangnya, jalan mereka tidak sepenuhnya mulus.

Keluarga Ibu dikenal sebagai keluarga yang turun-temurun berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Di mata mereka, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan tradisi yang dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, ketika mengetahui putri mereka menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa kedokteran yang berasal dari keluarga pengusaha, keraguan mulai muncul.

Bukan karena mereka memandang rendah latar belakang Bapak. Tapi mereka khawatir ketertarikannya pada dunia medis hanya akan menjadi persinggahan sebelum akhirnya kembali mengurus perusahaan keluarga.

Akan tetapi Bapak membuktikan bahwa anggapan itu keliru. Selama menempuh pendidikan, ia tidak pernah sekalipun memanfaatkan nama besar keluarganya. Ia menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran seperti kebanyakan mahasiswa lain.

Ketika lulus, ia juga tidak kembali ke perusahaan keluarga.

Alih-alih duduk di balik meja direksi, ia memilih mengenakan jas putih dan mengabdikan dirinya sebagai dokter umum di sebuah puskesmas. Keputusan itu sempat membuat banyak orang menggelengkan kepala. Di mata mereka, terlalu banyak yang dikorbankan demi profesi yang penghasilannya tak sebanding dengan bisnis yang telah menunggunya.

Namun bagi Bapak, menjadi dokter bukanlah pilihan kedua. Itu adalah impian yang ia perjuangkan sejak awal.

Kesungguhan itulah yang akhirnya meluluhkan hati keluarga Ibu. Mereka mulai percaya bahwa laki-laki itu tidak sedang bermain-main dengan cita-citanya, juga tidak sedang mencari pengalaman sebelum suatu hari kembali mengurus perusahaan keluarga.

Ayah dan Ibu akhirnya resmi menikah.

Meski kedua keluarga sama-sama berkecukupan, mereka sepakat memulai rumah tangga dengan cara yang sederhana. Kedua orang tua mereka ingin pasangan muda itu belajar membangun kehidupan sendiri, bukan bergantung pada kenyamanan yang sudah disediakan keluarga.

PAYUNG TEDUHStories to obsess over. Discover now