Sunyi.
Senyap.
Hampa.
Tiga kata itu seolah menjadi bagian dari kehidupan Lee Eunbi. Ke mana pun ia pergi, baik di rumah maupun di luar, suasana itu selalu menyelimutinya.
Namanya Lee Eunbi, siswi kelas tiga di Seoul High School.
Di mata orang lain, ia adalah gadis yang sempurna. Cantik, pintar, berasal dari keluarga terpandang, dan tidak pernah kekurangan apa pun.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik semua itu, hidupnya jauh dari kata bahagia.
Eunbi memiliki dua orang kakak laki-laki.
Kakak pertamanya, Lee Ian, berusia dua puluh lima tahun dan bekerja sebagai dokter muda di Seoul Hospital. Ian adalah kebanggaan keluarga. Wajahnya tampan, pembawaannya tenang, dan kecerdasannya membuat banyak orang mengaguminya. Ia melanjutkan tradisi keluarga menjadi seorang dokter, mengikuti jejak ayah dan kakeknya yang sama-sama dikenal sebagai dokter ternama di Korea.
Berbeda dengan Ian, kakak keduanya, Lee Soobin, memilih jalan hidup yang lain.
Meski hanya terpaut dua tahun dari sang kakak, Soobin memutuskan mengejar impiannya di dunia perfilman. Keputusannya sempat mengejutkan keluarga, tetapi bakatnya berhasil membuktikan segalanya. Di usia yang masih muda, Soobin telah menjadi sutradara terkenal dan meraih berbagai penghargaan bergengsi.
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Amerika Serikat.
Sejak saat itu, ia tidak pernah kembali ke Korea.
Setiap hari, kehidupan Eunbi berjalan begitu monoton.
Bangun pagi.
Pergi ke sekolah.
Pulang.
Lalu kembali mengurung diri di rumah.
Begitulah rutinitas yang terus berulang tanpa pernah berubah.
Di sekolah, ia tidak memiliki seorang teman pun.
Bukan karena penampilannya buruk atau prestasinya biasa saja.
Justru sebaliknya.
Eunbi selalu menjadi siswa dengan nilai tertinggi di kelas.
Namun, sikapnya yang dingin dan sulit didekati membuat teman-temannya enggan berbicara dengannya. Lambat laun, mereka mulai menghindari Eunbi. Beberapa bahkan terang-terangan membencinya karena rasa iri.
Meski menyadari semua itu, Eunbi tidak pernah berusaha menjelaskan dirinya.
Ia membiarkan semua orang menilainya sesuka hati.
Karena baginya, penjelasan tidak akan mengubah apa pun.
Banyak orang berkata bahwa Eunbi adalah gadis yang paling beruntung.
Lahir di keluarga kaya.
Memiliki ayah yang sukses.
Dua kakak yang membanggakan.
Masa depan yang cerah.
Semua orang menginginkan kehidupan seperti itu.
Namun, bagi Eunbi...
Semua kemewahan itu terasa seperti penjara.
Rumah megah yang ia tinggali tidak pernah memberinya kehangatan.
Yang ada hanyalah kesunyian.
Semua bermula saat usianya baru menginjak tujuh tahun.
Hari itu adalah hari ulang tahunnya.
Ibunya mengajaknya keluar untuk merayakan hari spesial mereka berdua.
Eunbi masih ingat bagaimana hangatnya genggaman tangan sang ibu.
Masih ingat senyum lembut yang selalu menenangkannya.
Namun, kenangan indah itu berakhir dalam hitungan detik.
Suara klakson.
Cahaya lampu yang menyilaukan.
Jeritan.
Lalu...
Gelap.
Ketika Eunbi sadar, ibunya telah tiada.
Sejak kecelakaan itu, kehidupan keluarga Lee berubah selamanya.
Dulu, keluarga mereka dikenal sebagai keluarga yang harmonis.
Ayah yang penyayang.
Ibu yang lembut.
Dua kakak yang selalu melindungi adik bungsunya.
Rumah mereka selalu dipenuhi tawa.
Namun setelah ibunya meninggal, semuanya perlahan menghilang.
Ayah semakin sibuk bekerja.
Ian menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit.
Soobin memilih menetap di Amerika demi mengejar kariernya.
Rumah yang dulu penuh kehangatan kini terasa dingin.
Tak ada lagi makan malam bersama.
Tak ada lagi percakapan hangat.
Tak ada lagi tawa.
Yang tersisa hanyalah orang-orang yang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi hidup seperti orang asing.
Dahulu, Eunbi adalah anak yang paling dimanjakan.
Ia adalah anak bungsu sekaligus cucu perempuan pertama di kedua belah keluarga.
Semua orang menyayanginya.
Semua orang berebut ingin membuatnya tersenyum.
Namun kini...
Ia merasa menjadi orang yang paling tidak diinginkan.
Bahkan jauh di lubuk hatinya, Eunbi selalu menyalahkan dirinya sendiri.
Menurutnya, jika hari itu ibunya tidak mengajaknya merayakan ulang tahun, kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi.
Perasaan bersalah itu terus menghantuinya selama bertahun-tahun.
Karena itulah, sejak usia tujuh tahun, Eunbi tidak pernah lagi merayakan hari ulang tahunnya.
Baginya, ulang tahun bukan lagi hari bahagia.
Melainkan pengingat atas kehilangan terbesar dalam hidupnya.
Selain kehilangan sang ibu, kecelakaan itu juga meninggalkan luka yang tak kasatmata.
Trauma.
Hingga sekarang, Eunbi tidak mampu menaiki mobil.
Setiap kali berada di dalam mobil, napasnya terasa sesak.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Bayangan kecelakaan itu selalu muncul kembali seolah baru terjadi kemarin.
Karena alasan itulah, setiap hari ia memilih pergi ke sekolah menggunakan bus.
Bus menjadi satu-satunya kendaraan yang masih sanggup ia naiki tanpa dihantui rasa takut.
Pagi itu pun sama seperti hari-hari sebelumnya.
Eunbi berdiri di halte dengan kedua tangan menggenggam tali tasnya.
Tatapannya kosong mengarah ke jalan raya.
Ia tidak tahu bahwa hari itu...
Seseorang akan memasuki kehidupannya dan perlahan mengubah dunia yang selama ini hanya dipenuhi kesunyian.
BẠN ĐANG ĐỌC
BUTTERFLY FAMILY
Tiểu thuyết chungEunbi adalah seorang siswi SMA yang dikenal dingin, pendiam, dan selalu menyendiri. Tidak ada yang benar-benar mengenalnya, bahkan tidak ada seorang pun yang bisa disebut sebagai temannya. Di mata orang lain, ia hanyalah gadis yang sulit didekati. N...
