Bab 1 Hujan yang Membawa Kenangan

7 1 0
                                        

Hujan turun tanpa jeda.

Rintiknya membasahi jalanan kota, menari di atas aspal yang mulai dipenuhi genangan. Langit sore berubah kelabu. Angin dingin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang entah mengapa selalu mengingatkan Alya pada seseorang.

Seseorang yang telah menghilang dari hidupnya selama lima tahun.

Alya berdiri di depan jendela kamarnya. Tatapannya kosong mengarah ke luar, tetapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu.

Lima tahun.

Waktu yang seharusnya cukup untuk melupakan seseorang.

Namun kenyataannya, nama itu masih tinggal di sudut hati yang tak pernah berhasil ia singkirkan.

Zevan.

Nama yang dulu begitu akrab di telinganya.

Nama yang kini hanya menjadi kenangan.

"Kenapa aku masih mengingatmu...?" gumamnya lirih.

Ia menghela napas panjang, lalu menutup tirai jendela.

Hari itu sebenarnya tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Sampai telepon dari ibunya mengubah segalanya.

"Alya, kalau pulang nanti tolong bereskan gudang belakang, ya. Banyak barang lama yang harus dipilah."

"Iya, Bu."

Tanpa banyak berpikir, Alya mengambil senter kecil dan berjalan menuju gudang.

Gudang itu sudah bertahun-tahun tidak dibuka.

Begitu pintunya didorong, aroma kayu tua dan debu langsung memenuhi udara.

"Ck... debunya banyak banget."

Ia mulai memindahkan kardus demi kardus.

Album foto.

Mainan masa kecil.

Tas sekolah.

Beberapa buku yang sudah menguning.

Semua benda itu seolah membawa Alya kembali ke masa-masa ketika hidup terasa jauh lebih sederhana.

Hingga matanya tertuju pada sebuah kotak kayu kecil di sudut ruangan.

Kotak itu tampak berbeda.

Permukaannya dipenuhi debu, tetapi masih terlihat terawat.

Di bagian atasnya terdapat ukiran bunga melati.

Alya merasa pernah melihat kotak itu.

Namun ia lupa di mana.

Dengan perlahan ia mengangkatnya.

Ternyata kotak itu jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.

"Apa isinya...?"

Tangannya menyapu debu yang menempel.

Lalu ia menemukan sebuah pengait kecil berwarna perak.

Klik.

Kotak itu terbuka.

Saat tutupnya terangkat, Alya membeku.

Puluhan amplop tersusun sangat rapi di dalamnya.

Semuanya memiliki warna yang sama.

Putih.

Namun kini telah berubah menjadi kekuningan karena dimakan waktu.

Tangannya mulai gemetar ketika mengambil satu amplop.

Di bagian depan tertulis sebuah nama.

Untuk Alya.

SURAT TERAKHIR YANG TAK PERNAH KUBACAStories to obsess over. Discover now