PROLOG
Setiap pagi, sebelum gerbang Keraton Surakarta dibuka untuk pengunjung, aku selalu mengingat satu hal: jangan pernah membedakan tamu. Wisatawan, pejabat, bahkan keluarga keraton sekalipun, semuanya berhak mendapat sambutan yang sama.
Aku selalu menyambut mereka dengan senyum yang sama. Lalu mengucapkan kalimat yang sudah begitu akrab di telingaku.
"Selamat datang."
"Silakan mengisi buku tamu terlebih dahulu."
Selama menjadi petugas humas, aku tak pernah merasa aturan itu salah bagiku, setiap orang yang melangkah melewati gerbang keraton adalah tamu yang pantas dihormati.
Sampai suatu hari...
Aku mengucapkan kalimat yang sama kepada seorang pria yang datang dengan penampilan begitu sederhana.
Tanpa beskap.
Tanpa gelar.
Tanpa memperkenalkan siapa dirinya.
Aku baru menyadari semuanya ketika seseorang berlari menghampiriku dengan wajah panik.
"Ndhis... kamu tahu nggak siapa yang baru saja kamu suruh mengisi buku tamu?"
Sejak hari itu...
Aku mengerti satu hal.
Terkadang, sebuah pertemuan yang paling sederhana justru menjadi awal dari takdir yang paling rumit.
— ininadi23 —
Terima kasih telah mampir di halaman pertama Kembang Pendhapa. Semoga kisah Gendhis dan Dananjaya bisa menemani perjalanan kalian. Selamat membaca, dan sampai bertemu di Bab 1. 🌸
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembang Pendhapa
General Fiction"Silakan mengisi buku tamu terlebih dahulu, Mas." Menjadi petugas humas di Keraton Surakarta membuatku terbiasa menyambut setiap tamu tanpa memandang siapa mereka. Hari itu pun sama. Seorang pria berbatik datang, mengisi buku tamu, lalu pergi setela...
