Tanah. Pernahkah kalian memikirkannya? Bagi sebagian orang, tanah mungkin hanyalah pijakan kusam yang kotor. Namun, jika kau memperhatikan dengan saksama, seperti yang selalu diajarkan Ayah padaku, tanah adalah sebuah keajaiban yang hidup. Yang terlihat padat dan tak bercelah dari luar, nyatanya memiliki pori-pori halus tempat udara dapat mengalir dan bernapas. Bentuk, kerapatan, dan karakteristik tanah sangat menentukan apakah sebuah ruang aman untuk ditinggali atau justru menjadi kuburan massal.
Setidaknya, itulah pelajaran paling berharga yang kuserap dari ayahku sejak aku bisa mengingat suara. Menurut Ayah, semakin padat dan kompak struktur tanah, semakin kuat pula ia meredam getaran. Penahan getaran ini bukan sekadar urusan kenyamanan estetika, melainkan soal kelangsungan hidup. Di bawah tanah ini, kita tidak akan pernah tahu kapan raksasa-raksasa bergigi tajam dan bertubuh berat di atas sana akan melintas, menghentakkan kaki mereka yang berbobot puluhan ton, dan mengguncang rumah kecil kami hingga berdebu.
Oh iya, perkenalkan, namaku Maverick. Aku adalah putra dari Roderick, seorang insinyur pemeta tanah kenamaan yang sudah merancang dan membangun banyak rumah bawah tanah bagi warga koloni kami. Jika kalian melihat peta terowongan pemukiman, sebagian besar zona aman adalah hasil guratan tinta di meja kerja Ayah. Aku bercita-cita menjadi seperti dia saat tumbuh dewasa nanti, yaitu seorang pembangun yang dapat melindungi orang-orang. Usiaku mungkin baru empat tahun, jari-jemariku bahkan belum cukup panjang untuk menggenggam pensil grafit Ayah dengan sempurna, tetapi aku sangat yakin suatu hari nanti aku bisa mengungguli Ayah.
Lalu, ada Ibuku yang bernama Fazza. Di mata masyarakat koloni, Ibu mungkin bukan figur penting seperti para insinyur, penambang, atau penjelajah terowongan. Namun, kasih sayangnya menjaga rumah kecil kami tetap terasa hangat meski berada puluhan meter di bawah bongkahan batu. Hal yang paling kupaling suka dari Ibu adalah ketika bumi mulai berguncang hebat. Di tengah gemuruh langkah dinosaurus yang memekakkan telinga dari atas, Ibu akan selalu menarikku ke dalam pelukannya, memelukku begitu erat hingga rasa takut itu lenyap digantikan wangi minyak jamur yang menenangkan.
Jujur saja, terkadang benak kecilku sering bertanya-tanya hal yang konyol. Kenapa, ya, kita tidak diciptakan sama besarnya dengan dinosaurus-dinosaurus itu? Jika ukuran tubuh bangsa kita sama tingginya dengan pepohonan di permukaan, aku yakin kita bisa bertarung dada ke dada melawan monster-monster itu. Tapi yah, setelah kupikir-pikir lagi, pertanyaan itu tidak begitu penting. Jika tubuh kita besar, kita mungkin tidak akan pernah memiliki peradaban terowongan yang menakjubkan ini, dan aku tidak akan pernah melihat betapa ajaibnya Ayah saat merancang rumah di bawah tanah.
Namun, beberapa hari terakhir ini, suasana di rumah kami terasa berbeda. Ayah tampak sangat frustrasi. Langkah kakinya berat, dan dahinya selalu berkerut dalam. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang mengganggunya, tetapi firasat kecilku mengatakan ini ada hubungannya dengan pekerjaannya di dinas konstruksi koloni.
Biasanya, Ayah selalu terlihat tenang saat menggambar garis-garis presisi pada lembaran kertas membran jamur, atau saat membentuk maket miniatur terowongan. Namun kali ini, Ayah membawa sebotol tanah sampel dari lokasi proyek baru dan mendiamkannya di meja kerja. Dia duduk berjam-jam di depannya, menopang dagu, lalu menghela napas panjang seakan-akan sedang menatap sebuah dinding tebal yang tak memiliki jalan keluar.
Siang itu, ketika Ayah beranjak keluar ruangan untuk mengambil secangkir minuman hangat, aku melangkah pelan mendekati meja kerjanya yang tinggi. Aku memanjat kursi kayu dengan susah payah, lalu menumpitkan daguku di tepi meja. Di sana, terdedah sebuah miniatur rumah bawah tanah yang sedang dikerjakan Ayah.
Aku terkesima melihat detailnya. Namun, saat mata kecilku mengamati gumpalan tanah yang dipakai Ayah, ada sesuatu yang terasa salah. Tanah itu tampak terlalu kering, pucat, dan berpasir. Ketika kucoba menyentuhnya lembut dengan ujung telunjukku, butiran-butirannya langsung rontok.
YOU ARE READING
Underworld
FantasyDi bawah bongkahan batu dan kegelapan perut bumi, peradaban manusia mungil bertahan hidup dari raksasa-raksasa bergigi tajam yang menguasai permukaan. Bagi mereka, tanah bukan sekadar pijakan kusam, melainkan benteng pertahanan utama dari deru langk...
