"Katanya, jodoh datang karena takdir. Kalau begitu, kenapa aku malah mencarinya lewat tombol Next?"
__________
Jam menunjukkan pukul 01.17 dini hari di Amsterdam, Belanda.
Di luar jendela, lampu-lampu jalan memantul di atas kanal yang tenang. Kota ini sudah tertidur. Sementara aku, justru membuka Telegram dan menekan satu tombol yang seharusnya tidak membawa harapan apa pun.
Anonymous Chat.
Tidak ada nama.
Tidak ada foto.
Tidak ada masa lalu.
Hanya dua orang asing yang dipertemukan oleh algoritma dan rasa penasaran.
Aku tidak sedang mencari pacar.
Setidaknya, itu yang selalu kukatakan pada diri sendiri.
Toh, siapa juga yang berharap menemukan seseorang dari aplikasi yang bahkan menyediakan tombol Next lebih besar daripada tombol Stay?
Tapi malam itu, aku memutuskan memberi semesta empat kesempatan.
Yang pertama berasal dari Jerman.
Yang kedua dari Jawa.
Yang ketiga dari Jakarta.
Dan yang terakhir...
Berasal dari sebuah kota kecil bernama Indramayu.
Lucunya, dari empat orang itu, hanya satu yang membuatku lupa kalau kami sebenarnya hanyalah dua orang asing.
YOU ARE READING
Anonymous Chat Audition
RomanceAku tidak sedang mencari seseorang untuk dijadikan milik. Aku hanya bersyukur. Di antara ratusan tombol Next yang begitu mudah ditekan, masih ada satu percakapan yang membuatku lupa menghitung waktu. Dan terkadang yang paling berharga bukanlah seseo...
