We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

24. Pacarku Cowok Populer [Tamat]

75 10 0
                                        

Suara-suara itu semakin ramai.
Semakin lama semakin sulit dibedakan satu sama lain.

"Jingga, ngomong dong."

"Kalau bukan kamu ya bilang aja."

"Diam terus malah bikin curiga."

"Kita nggak marah kok."

Kepala Jingga terasa berat. Semakin banyak orang bicara, semakin sulit dirinya menjelaskan apa pun. Dan untuk sesaat, Jingga mulai berpikir bahwa mungkin akan lebih mudah jika semua ini segera selesai. Apa pun caranya.

"Aku ...." Suara Jingga akhirnya keluar pelan.

Beberapa anak langsung diam menunggu. Jingga menggenggam rok seragamnya erat-erat..Matanya mulai panas.

"Aku ...." Jingga bahkan tidak tahu mau mengatakan apa.

Mau mengaku? Padahal bukan dia. Mau minta maaf? Untuk sesuatu yang tidak dia lakukan?

Saat itu Jingga sudah terlalu lelah untuk berpikir jernih.mYang dia inginkan hanya satu. Semua orang berhenti menatapnya seperti itu. Kalau dengan meminta maaf semua ini selesai...
Kalau dengan mengalah semua orang berhenti menatapnya seperti itu...
Mungkin lebih mudah begitu.

"Aku m-"

Seseorang tiba-tiba berhenti tepat di samping bangkunya. Jingga terkejut. Sebuah tangan mendarat di pundaknya.
Jingga menoleh dan membeku.

Caraka berdiri di sana. Napasnya ngos-ngosan. Dadanya naik turun cukup cepat. Rambutnya sedikit berantakan seperti habis berlari. Bahkan lengan kemeja seragamnya masih tergulung asal. Cowok itu jelas datang terburu-buru.

Caraka tidak langsung bicara. Dia lebih dulu menunduk menatap Jingga. Lalu seketika rahangnya mengeras. Karena wajah Jingga terlihat lebih buruk daripada yang dia bayangkan. Pucat, bingung, dan matanya sudah penuh air meski belum menangis. Seperti beberapa detik lagi akan benar-benar pecah.

Saat melihat nama Jingga muncul berkali-kali di grup kelas, Caraka hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu dia membuka foto itu. Membaca pesan-pesan yang terus berdatangan. Dan sebelum sempat berpikir panjang, tubuhnya sudah bergerak lebih dulu. Meninggalkan Bianca. Meninggalkan berkas. Meninggalkan ruang kurikulum. Berlari kembali ke kelas.

Caraka tidak pernah benar-benar bisa diam kalau itu menyangkut Jingga. Tidak peduli sedang marah. Tidak peduli sedang menjaga jarak. Tidak peduli mereka sudah putus. Begitu tahu Jingga sendirian menghadapi sesuatu, hal pertama yang ingin dia lakukan tetap sama. Datang.

Tangan Caraka di pundak Jingga sedikit mengencang. Bukan menyakiti. Seolah menahan Jingga agar tidak mengatakan apa pun.

Jingga bahkan tidak sadar dirinya menahan napas beberapa detik. Sementara seluruh kelas mulai memperhatikan mereka.

Caraka akhirnya mengangkat kepala.
Tatapannya menyapu satu kelas. Masih dengan napas yang belum sepenuhnya pulih.

"Itu bukan Jingga." Suaranya terdengar berat. Tegas. Tidak memberi ruang untuk dibantah. Dan seisi kelas langsung terdiam.

Seseorang berdeham dengan sengaja.

"Jangan jadi pahlawan deh, Raka."

"Nah, iya."

"Mirip banget gitu loh, masa bukan."

Faisal menyandarkan badan ke kursi, menatap Caraka dengan alis terangkat. Aidan dan Gilang ingin ikut bersuara, tetapi hatinya melarang.

"Kamu serius masih mau belain Jingga?"

Caraka diam sebentar. Matanya bergerak pelan, menatap wajah teman-temannya satu per satu.

PACARKU COWOK POPULER [TAMAT]Stories to obsess over. Discover now