Kantin SMA Negeri siang itu terasa seperti sebuah panci presto yang hampir meledak. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen, tawa melengking dari gerombolan siswi di pojok, dan aroma uap nasi goreng yang bercampur dengan bau keringat sisa jam olahraga menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk itu, aku duduk mematung. Di hadapanku, sepiring nasi goreng yang sudah mendingin hanya kuaduk-aduk tanpa minat. Aroma kaldu dan bawang goreng yang biasanya menggugah selera, kini justru membuat perutku mual.
Aku sengaja memilih meja paling pojok, tempat di mana bayangan atap kantin sedikit menghalau terik matahari Jawa Barat yang menyengat. Namun, alasan utamaku bukan soal cuaca. Aku hanya ingin menghindari tatapan orang. Bagiku, keramaian adalah pengingat paling kejam tentang apa yang tidak lagi kumiliki.
Kursi di sampingku kosong. Begitu juga kursi di depanku.
Biasanya, kursi-kursi itu akan terisi oleh tawa Rian yang menggelegar. Sahabatku sejak kelas satu SD itu pasti akan sibuk menceritakan strategi game terbaru atau mengeluh soal guru matematika yang galak. Kami sudah berjanji, ribuan kali mungkin, bahwa kami akan masuk ke SMA yang sama. Kami akan menaklukkan masa remaja ini bersama-sama, seperti saat kami menaklukkan pohon mangga di belakang rumah Mak Ningsih.
Tapi, janji remaja ternyata seringkali kalah oleh realita orang dewasa.
"Dit... maaf ya. Ayah nyuruh aku ambil SMA Negeri 1. Katanya prospeknya lebih bagus,".
Kalimat Rian di hari pengumuman PPDB itu masih terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak di kepalaku. Ia pergi ke sekolah favorit di pusat kota, sementara aku tetap di sini, di sekolah yang satu kompleks dengan SMP kami dulu. Hari pertama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) terasa seperti berjalan di atas paku. Semua orang tampak sibuk membentuk lingkaran pertemanan baru, saling bertukar nama dan akun media sosial, sementara aku tetap terjebak dalam memori tentang kursi yang seharusnya tidak kosong ini.
Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak yang merayap di dada. Tanganku perlahan merogoh tas, mengeluarkan sebuah buku gambar yang pinggirannya sudah sedikit melengkung—satu-satunya pelarianku. Menggambar adalah warisan terakhir dari Ibu. Aku masih ingat bau cat minyak yang selalu menempel di daster Ibu, dan bagaimana tangannya yang lembut membimbing jemariku membuat garis lurus di atas kanvas. Sejak Ibu pergi, dunia batin yang kutuangkan di atas kertas adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa aman.
Hujan tiba-tiba turun. Tanpa peringatan, seperti tamu yang tidak diundang. Bulir-bulir airnya menghantam atap seng kantin dengan ritme yang gaduh, menciptakan tirai air yang memisahkan kantin dengan dunia luar. Anak-anak yang tadi bersiap kembali ke kelas terpaksa tertahan. Suasana kantin menjadi semakin riuh oleh keluhan mereka.
Namun, bagiku, hujan selalu memiliki warna tersendiri. Ibu pernah bilang kalau hujan itu tidak berwarna abu-abu. Di mata mereka yang kesepian, hujan adalah biru muda yang menenangkan. Aku mulai menggerakkan pensilku, membuat sketsa asal tentang rintik air yang jatuh di halaman sekolah.
Saat itulah, aku merasakannya. Sebuah kehadiran.
Bukan suara langkah kaki yang keras, melainkan sebuah pergerakan halus yang membelah udara di sampingku. Aku tidak berani mendongak. Aku takut jika aku menoleh, yang kutemukan hanyalah ruang kosong yang kembali mengejekku. Namun, sudut mataku menangkap sesuatu. Sebuah kain putih—mungkin cardigan—dan aroma samar sampo bunga yang entah kenapa terasa sangat akrab.
Gadis itu duduk di sana. Di kursi kosong yang sedari tadi kuanggap sebagai monumen kesedihan.
Ia tidak langsung bicara. Ia hanya duduk diam, memandang ke arah hujan dengan tatapan yang teduh. Rambutnya hitam panjang, tergerai jatuh menyentuh bahunya. Dari profil sampingnya, ia tampak seperti lukisan yang belum selesai; cantik, namun ada kesan transparan yang sulit dijelaskan.
"Hujannya bagus ya?" suaranya lembut, nyaris tenggelam oleh bunyi air yang jatuh ke bumi.
Aku terpaku. Pensil di tanganku berhenti bergerak. Selama beberapa detik, aku lupa bagaimana cara bernapas. Di sekolah di mana aku merasa seperti hantu yang tidak terlihat, tiba-tiba ada seseorang yang memilih untuk duduk di sampingku dan memulai percakapan.
"Biru muda," jawabku pelan, hampir berupa bisikan.
Gadis itu menoleh. Senyumnya mengembang, sebuah senyuman yang membuat riuh kantin seolah perlahan memudar menjadi latar belakang yang tidak penting. Matanya berbinar, seolah menyimpan rahasia tentang langit sore yang paling indah.
"Kamu juga melihatnya?" tanyanya dengan nada antusias yang tertahan. "Orang-orang biasanya bilang hujan itu abu-abu dan menyedihkan. Tapi kamu benar, ini biru muda yang tenang."
Aku akhirnya memberanikan diri menatapnya sepenuhnya. Ada sesuatu yang aneh namun menenangkan dari kehadirannya. Seolah-olah ia adalah jawaban dari semua doa yang tidak pernah kuucapkan. Seolah-olah bangku kosong di sampingku ini memang dipersiapkan takdir untuknya. Di tengah hiruk-pikuk siswa lain yang tak satu pun menoleh ke arah kami, kami seolah memiliki semesta kecil sendiri.
"Aku Adit," kataku, merasa perlu memperkenalkan diri pada sosok yang sepertinya baru saja menyelamatkanku dari tenggelam dalam kesepian.
Ia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting lonceng angin di sore hari. "Aku tahu."
Aku mengerutkan kening. "Tahu?"
Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menunjuk ke arah buku gambarku. "Boleh aku lihat lukisanmu nanti? Aku suka cara kamu melihat dunia."
Aku hanya bisa mengangguk bodoh. Kehadirannya begitu kuat, begitu nyata di indraku, meskipun sekeliling kami tampak tidak peduli. Tidak ada guru yang menegurnya karena duduk di meja paling belakang yang biasanya dihindari, tidak ada siswa lain yang menyapanya. Tapi bagiku, saat ini, dialah satu-satunya yang benar-benar ada.
Hujan mulai mereda, menyisakan bau tanah yang basah dan langit yang perlahan menjernih. Bel masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi, memaksa penghuni kantin untuk segera bubar. Gadis itu berdiri, merapikan cardigan putihnya.
"Sampai jumpa besok, Adit," ucapnya sambil melambai kecil sebelum berjalan menghilang di balik kerumunan siswa di lorong kelas.
Aku tetap duduk di sana untuk beberapa saat, menggenggam pensilku erat-erat. Jantungku berdegup dengan irama yang baru, irama yang sudah lama hilang sejak Ibu pergi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku merasa tidak sendirian. Aku merasa memiliki alasan untuk kembali ke sekolah besok.
Aku menatap kursi di sampingku. Masih ada jejak samar kehadirannya di sana. Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menyimpan aroma sampo bunga itu di dalam ingatanku. Lalu, dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa bahagia yang asing, aku menuliskan sebuah kalimat di pojok buku gambarku. Kalimat yang akan menjadi awal dari seluruh duniaku.
Gadis itu bernama Maura.
JE LEEST
Gadis itu Bernama MAURA
RomantiekSetelah kehilangan ibu dan sahabat masa kecilnya, Adit Pradana, seorang remaja yang hidup dengan skizofrenia, jatuh cinta sepenuhnya pada Maura-gadis yang hanya hadir dalam halusinasinya. Ketika dunianya runtuh akibat diagnosis medis, ia bertemu Nau...
