4. Setelah Sah

130 34 8
                                        

Malam pertama sebagai suami istri di kediaman keluarga besar Prabaswara di Yogyakarta terasa jauh dari gambaran film romantis. Tidak ada bunga mawar yang ditaburkan di atas ranjang kayu jati berukir, tidak ada alunan musik melankolis, dan tentu saja tidak ada debaran jantung yang menggebu-gebu karena gairah.

Yang ada hanyalah keheningan yang tebal, mencekam, dan aroma kayu cendana yang menyeruak dari perabotan antik di kamar besar itu. Suasana khas bangunan tempo dulu yang menyimpan ribuan cerita, kini terasa seperti saksi bisu dari dua orang asing yang dipersatukan dalam sebuah ikatan formalitas.

Luna masuk ke kamar masih dengan memakai gaun pengantin. Ia melihat Lingga sudah berdiri di dekat jendela, membuka sedikit tirai untuk melihat gemerlap lampu kota Yogyakarta dari kejauhan. Pria itu sudah melepas beskapnya, menyisakan kemeja putih tipis yang memperlihatkan bahunya yang bidang.

Luna meletakkan tas kecilnya di atas meja rias. "Mas, kamu nggak mau mandi dulu?" suaranya memecah kesunyian, terdengar canggung bahkan di telinganya sendiri.

Lingga menoleh, menatap Luna sejenak sebelum mengangguk. "Silakan kamu duluan, saja, Dek. Saya akan menyiapkan keperluan untuk besok. Saya harus kembali ke Jakarta lusa pagi."

Luna hanya bisa mengembuskan napas pendek. Lusa kembali terbang? Bahkan di malam pernikahan pun, ia tetap seorang pilot dengan jadwal yang tidak bisa diganggu gugat. Kenyataan itu menghantamnya. Pernikahan ini tidak akan mengubah kehidupan Lingga, dan mungkin, tidak akan mengubah kehidupannya sendiri.

Namun, di sela-sela rasa kecewanya, ada satu hal yang menarik perhatian Luna. Panggilan baru dari Lingga yang ditujukan untuknya malam ini. Dek. Sebuah panggilan yang terasa sangat intim sekaligus janggal. Luna tak mampu menyembunyikan senyum tipis yang perlahan tersungging di bibirnya.

"Dek?" tanya Luna memastikan, ingin mendengar sekali lagi bagaimana suaranya memanggilnya dengan sebutan itu.

Lingga terlihat kikuk, sebuah ekspresi yang jarang terlihat di wajah datarnya. Ia memalingkan wajah sebelum menjawab dengan nada yang tetap sama seperti biasanya. Datar, namun ada sedikit getaran yang tertahan. "Kita sudah resmi menjadi suami istri sekarang. Dan kamu sudah terbiasa memanggil saya 'Mas'. Jadi, saya pikir... saya juga harus mulai mencoba terbiasa memanggil kamu 'Dek'. Agar terdengar lebih pantas untuk pasangan suami istri."

Setelah menjawab, pria itu langsung menoleh ke belakang, kembali fokus ke jendela. Luna di sana tak menjawab. Ia hanya berusaha menahan senyum salah tingkahnya sendiri, merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, meskipun situasinya jauh dari kata romantis.

Setelah Luna selesai mandi dan berganti pakaian piyama yang nyaman, ia mendapati Lingga sudah berada di sisi lain tempat tidur dengan posisi membelakanginya. Terlihat dari rambutnya yang setengah basah, seperti Lingga sudah selesai mandi. Pria itu tampak sangat lelah. Matanya tertutup rapat, dan napasnya sudah teratur. Luna, yang juga merasa seluruh otot tubuhnya seolah meronta karena harus bersikap sempurna seharian di depan tamu, akhirnya merebahkan diri di sisi yang kosong.

Mereka tidur dengan jarak yang cukup lebar di antara keduanya, seolah ada garis tak terlihat yang ditarik sebagai batas wilayah masing-masing. Tidak ada obrolan manis sebelum tidur, tidak ada "selamat malam" yang mesra. Hanya suara detak jam dinding tua yang mengisi kekosongan. Kelelahan fisik akibat prosesi adat yang panjang dan menguras energi akhirnya menang. Keduanya jatuh tertidur lelap dalam hitungan menit, tanpa mimpi, tanpa ekspektasi yang muluk-muluk.

LINGGALUNAStories to obsess over. Discover now