Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta terasa jauh lebih hening daripada biasanya. Di dalam kabin kelas bisnis pesawat yang mereka tumpangi, Luna lebih banyak menatap ke luar jendela, memperhatikan gumpalan awan yang perlahan berganti menjadi cakrawala kota Jakarta yang mulai gelap, dihiasi kerlap-kerlip lampu kota yang tampak seperti taburan permata dari ketinggian. Di sampingnya, Lingga tertidur dengan posisi yang sempurna. Punggungnya tegak, tangan terlipat rapi di atas dada, dan wajahnya tenang tanpa guratan lelah meski ia baru saja melewati rangkaian prosesi pernikahan yang panjang.
Begitu mereka mendarat dan menempuh perjalanan darat menuju kawasan hunian eksklusif di pinggiran Jakarta Selatan tempat rumah baru mereka berada, Luna merasa detak jantungnya sedikit berpacu. Ini bukan lagi rumah orang tua, bukan lagi hotel tempatnya transit selama syuting, bahkan bukan juga apartemen yang selama ini dihuninya. Ini adalah awal dari babak baru kehidupan rumah tangga yang selama ini ia hindari namun tetap ia jalani dengan penuh kepasrahan.
Rumah itu mengusung gaya minimalis modern dengan unsur semen dan besi khas bangunan kekinian, pas sekali dengan sifat Lingga yang serba praktis, serba tertata, dan lebih mementingkan kegunaan daripada sekadar tampilan. Begitu mobil berhenti di depan pagar kayu yang besar dan kokoh, Luna turun dengan rasa kagum. Rumah itu indah, ukurannya pas, tidak terlalu besar, namun memiliki aura ketenangan yang jarang ia temukan di tengah bisingnya Ibu Kota.
Lingga turun terlebih dahulu. Ia segera membuka bagasi, menurunkan koper-koper mereka dengan gerakan yang tangkas dan terlatih. Saat ia berdiri tegak di samping mobil, matanya menatap bangunan itu sejenak untuk memastikan semuanya dalam kondisi baik, ia menoleh ke arah Luna yang masih terpaku menatap desain arsitektur rumah tersebut.
"Kamu suka rumahnya?" tanya Lingga. Nada suaranya datar, namun ada rasa penasaran yang tipis di sana, seperti seorang ahli yang ingin memastikan apakah hasil kerjanya sudah sesuai dengan rencananya.
Luna menoleh, senyum semangat yang biasanya ia simpan untuk kamera kini benar-benar muncul di wajahnya. "Suka banget, Mas! Desainnya bagus, tenang, dan kelihatan nyaman banget. Aku suka balkon di lantai atas itu, kelihatannya enak buat ngopi sore atau sekedar cari udara segar."
Mendengar antusiasme Luna, Lingga menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum singkat. Hanya sekitar satu detik sebelum wajahnya kembali ke posisi netral. Meski begitu, bagi Luna, itu adalah sebuah progres.
"Syukur kalau kamu suka," kata Lingga sambil melangkah menuju pintu utama dengan dua koper besar di tangannya. "Ayo masuk."
Rumah itu terasa dingin dan beraroma cat baru. Sambil berjalan melewati ruang tamu yang luas, Lingga berhenti sejenak untuk menekan sakelar lampu. Cahaya hangat seketika memenuhi ruangan, menonjolkan interior yang sangat rapi dan tertata. Tidak ada satu barang pun yang diletakkan sembarangan.
"Bi Asri tidur di kamar lantai bawah," ujar Lingga sembari terus melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. "Tapi untuk kamar utama, kita akan berbagi satu kamar di sini. Di lantai dua."
Luna yang sedang menaiki anak tangga di belakangnya, tertegun sejenak. "Satu kamar?"
Lingga berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap, lalu membukanya. Kamar itu sangat luas dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang, membiarkan cahaya bulan menyusup masuk.
"Iya," jawab Lingga tenang, tanpa ada keraguan sedikit pun di suaranya. "Ayah mengirim Bi Asri untuk membantu kita. Saya tidak mau beliau berpikir macam-macam atau merasa ada yang janggal dengan hubungan kita. Jadi, ini adalah skenario yang paling logis untuk menjaga privasi sekaligus menjaga agar tidak ada kecurigaan dari pihak luar. Rumah ini harus terlihat seperti rumah pengantin baru yang normal."
Luna terdiam di ambang pintu, menatap tempat tidur ukuran king size dengan sprei putih bersih yang tertata sangat rapi. Ia mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang perutnya. "Oh, iya. Aku paham. Itu masuk akal."
YOU ARE READING
LINGGALUNA
RomanceDua dunia yang bertabrakan. Langit luas yang sepi bagi Kalingga, dan gemerlap lampu kamera yang riuh bagi Kaluna. Demi memenuhi janji orang tua yang telah mengikat mereka sejak lama, keduanya sepakat terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Lingga...
