[JUARA II DALAM EVENT DREAMS BEHIND THE DORM WITH CUPID DREAM PUBLISHING]
Tiap paginya, matahari mungkin bersinar menerangi seluruh sudut kehidupan sebagaimana mestinya, sebagaimana seharusnya.
Namun, dari balik jendela asrama itu, segalanya terjadi...
"Barangkali kita terlalu terlena akan kebahagiaan yang nyatanya fana, mungkin dengan ini ia membawa kita pulang ke persimpangan semula agar selalu mengingat tempat yang pernah menyatukan kita dalam satu suara."
Xabiru Nafreeza Tsabits Gumantoro
🪻🪻🪻
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
RSU Nisendra Prasmawara Medika
Hari itu, gelarnya sebagai dokter mungkin kembali ke tangannya lagi. Jas putih pun telah melekat di badannya, serta kewenangan klinis yang sempat direnggut, kini dapat ia pergunakan sebagai semestinya. Namun, ilmu yang ia tekuni dan pelajari selama bertahun-tahun menguap begitu saja ketika perempuan yang paling ia cinta justru terbaring tak berdaya sebagai pasien di depannya.
"Dok, saturasi sembilan puluh persen,"
"Tekanan darah?"
"Delapan puluh delapan per lima puluh enam, Dok, untuk nadi seratus dua puluh delapan,"
Xabiru mengangguk cepat. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Kaluna yang semakin kehilangan warnanya. "Kaluna?"
Tak ada sahutan, atau bahkan ada tanda-tanda bahwa perempuan itu akan membuka matanya. Ia meraih tangan Kaluna dan menggenggamnya, tetapi dingin menyambutnya tatkala kedua tangannya bersentuhan.
"Kaluna, lihat saya."
Tetap. Perempuan itu masih berada di dalam alam bawah sadarnya seolah di sana ia tengah berada di tempat yang lebih menjanjikan dari duniawi. Untuk pertama kalinya, tangan Xabiru bergetar.
Ia mundur. Mengangkat kedua tangannya, melambai tak berdaya---menyerahkan kendali sepenuhnya kepada tim lain.
"Biar kami yang handle, Dok, kami juga sudah menghubungi dokter internis on call, don't worry," tegas salah satu perawat sembari bergegas mengambil alih peralatan resusitasi.
Xabiru memejamkan matanya, ia hanya bisa berdiri mematung di sudut ruang, menyaksikan tempat yang biasanya menjadi arena pertempurannya kini berubah menjadi mimpi buruknya.
Di Wildflower, Bunga Lily yang berada di kamar Kaluna mendadak layu tanpa sebab. Padahal, sebelum sang pemiliknya pergi ke Pengadilan Negeri tadi pagi, ia sempat menyapa bunganya dan berbagi kabar baik mengenai keadilan yang kembali menemukan jalannya.
Namun, tatkala senja mulai menyapa. kelopak putih lily itu perlahan kehilangan kekuatannya.
"KAK BELLA!" teriak Naufal, suaranya begitu melengking. Mampu memecah kesunyian asrama sore itu.
"Naufal?! Ada apa, Sayang? Kenapa teriak-teriak---astaga!"
Kalimat Bella terputus di tenggorokan. Naufal berdiri di samping meja kecil dekat jendela, matanya berkaca-kaca sambil menunjuk ke arah pot keramik putih.