Tak ada yang aneh dengan hidup Aira. Ia hanya seorang karyawan yang bekerja sekeras mungkin setiap hari. Yang aneh justru rekan kerjanya. Zavian Arvenda Prawiranegara, seorang pangeran yang memilih bekerja di kantor yang sama dengannya. Jadi, bagaim...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Jam alarm berbunyi nyaring memecah keheningan kamar kos kecil Aira. Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia meraba meja di samping kasurnya hingga jemarinya menemukan jam alarm itu. Suaranya pun berhenti.
Aira tidak langsung bangun. Ia menatap langit-langit kamar selama beberapa saat sambil mengembuskan napas pelan.
Tangannya beralih meraih ponsel yang tergeletak di meja samping kasur. Seperti biasa, layar ponselnya sudah dipenuhi notifikasi. Beberapa pesan dari keluarga, teman, hingga email pekerjaan menunggu untuk dibuka. Tanpa terburu-buru, Aira membalasnya satu per satu sebelum akhirnya meletakkan kembali ponsel tersebut.
Barulah ia bangkit dari tempat tidur. Selimut dirapikan, lalu ia mengambil handuk dan bersiap memulai hari.
Pagi ini tak ada yang berbeda. Jalanan sudah dipadati kendaraan, sementara terminal bus dipenuhi orang-orang berpakaian rapi yang sama-sama sedang berangkat bekerja.
Begitu naik ke dalam bus, Aira langsung mengambil kursi di bagian belakang. Musik dari headset mulai mengalun di telinganya, sementara sebuah file pekerjaan terbuka di layar ponsel. Matanya menelusuri setiap halaman dengan saksama. Ia tahu dirinya cukup ceroboh dalam hal-hal kecil. Karena itulah, Aira selalu meluangkan waktu untuk memeriksa ulang pekerjaannya sebelum tiba di kantor.
Bus berhenti di terminal terakhir. Aira turun, lalu berjalan menuju toko sarapan yang letaknya tak jauh dari sana. Hampir semua makanan di toko itu pernah ia coba, tetapi pada akhirnya pilihannya selalu kembali pada dua menu yang sama.
"Onigiri chicken teriyaki satu, sama roti isi selai stroberi."
Kasir yang berdiri di balik meja hanya menggeleng pelan.
"Ini lagi? Nggak ada yang lain? Memangnya nggak bosan?"
Aira hanya tersenyum kecil. Ia sudah terlalu sering mendengar komentar seperti itu hingga tak merasa perlu menanggapinya.
Tak bisa dipungkiri, ia memang selalu memesan menu yang sama. Kalau sudah menyukai sesuatu, Aira akan terus memilihnya berulang kali sampai benar-benar bosan... atau sampai makanan itu berhenti dijual.
Setelah membeli sarapan, Aira berjalan menuju gedung kantornya. Lobi pagi itu sudah ramai oleh karyawan yang baru datang. Saat sampai di depan lift, ia melihat Zavian sudah berdiri di sana.
"Pagi. Semoga harimu juga menyenangkan," balas Aira.
Lift yang baru saja datang sudah penuh, jadi mereka harus menunggu lift berikutnya. Kini hanya ada mereka berdua di depan pintu lift. Pemandangan seperti ini sudah biasa karena mereka bekerja di divisi yang sama dan kantor mereka juga berada di lantai sebelas.
Aira melirik Zavian sekilas. Entah sudah berapa kali ia memikirkan hal yang sama. Tetap saja, ia tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang pangeran memilih bekerja di kantor seperti ini?.