Gema langkah kaki menyerbu jalanan kota. Berbaur dengan derap kereta kuda dan bisingnya antrean manusia di tepian jalan demi sepotong roti. Dibalik kepulan debu yang berhamburan, sebagian dari mereka yang lain tampak mengejar sesuatu. Hari ini pertengahan Juni tahun 1845. Cuacanya mendung dan yang terpenting aku tak menyukai keramaian.
Namaku Adrian, lelaki sembilan belas tahun dan aku hanya mendambakan ketentraman. Dari balik jendela toko Tuan Ben-seorang duda tua yang murah hati- aku hanya menonton kegilaan ddi luar sana tanpa berniat melebur di dalamnya.
"Hey nak, tutup saja jendelanya!" Bisik Tuan Ben dari balik meja kerja. Dia selalu tahu kapan aku mulai risih dengan kebisingan jalanan.
"Baik pak" jawabku. Aku beranjak menutup daun jendela kayu itu rapat-rapat. Saat menarik selot, sekilas aku melihat aksi pencopetan di seberang jalan. Ah, sudahlah. Hal begitu sudah menjadi sarapan sehari-hari di kota ini. Aku kembali ke kursiku, mengabaikan dunia luar, dan membuka kembali halaman buku yang sempat tertunda.
Toko buku Tuan Ben adalah salah satu toko paling sibuk di distrik ini. Anak-anak kerap menyelinap ke sudut ruangan untuk membaca dongeng, sedangkan orang-orang dewasa sibuk mengubur wajah mereka di balik buku referensi pekerjaan. Namun, aku tak peduli pada mereka. Aku adalah pemuja romansa ksatria dan mitologi naga. Buku-buku itu adalah pelarianku dari kenyataan yang menjemukan.
Dalam lamunanku, aku membayangkan menjadi ksatria gagah berani yang membusungkan dada di hadapan hewan buas, lalu pulang membawa kejayaan demi memikat hati wanita terhormat. Atau mungkin menjadi pedagang jelata yang dicintai gadis kaya raya? Terdengar mustahil, memang. Teetapi cukuplah menjadi bahan lamunan pengantar tidur.
"Ah, andai saja aku sehebat itu. Menumbangkaan seekor naga..." gumamku lirih pada diri sendiri.
Ding! dong!
Jam dinding berdentar dua belas kali. Menandakan tengah hari, sekaligus tumpukan tugas yang membuatku malas. Antrean pembeli mulai mengular di depan mejaku.
"Apa kau masih punya stok untuk buku sejarah ini?" tanya seeorang pria paruh baya, menyodorkan sebuah buku jilid tebal.
"Jika tidak ada lagi di rak, berarti habis, Tuan," jawabku datar.
"Oh ayolah, bisakah kau tolong periksa ke gudang? Aku sangat butuh buku ini untuk hadiah," desaknya dengan wajah memohon.
"Maaf, Tuan. Stok kami sepenuhnya ada di rak." Aku menarik buku itu, menghitung harganya, dan menerima uangnya dengan cepat. "Terima kasih, selanjutnya?"
Perlahan, siang semakin melarut dan antrean semakin menyusut. Setelah melayani pelanggan terakhir, aku menghembuskan nafas lega. Akhirnya aku bisa kembali membuka lembaran novelku. Larut dalam kisah petualang yang baru saja memulai petualangannya. Dia-petualang dari dalam cerita- telah menemukan apa yang meluluhkan hati kecilnya, seorang gadis anggun. Mereka bertemu di sebuah panti asuhan, dimana sang tuan petualang selalu membagikan sebagian perolehannya kepada anak-anak yatim piatu di sana. Dan gadis yang ia sukai, berasal dari ibukota. Dia gadis kota yang terlatih, sengaja diminta oleh kota ini untuk melindungi warga kota dari serangan hewan buas liar yang akhir-akhir ini semakin mengganas. Ada yang selain dirinya. Tetapi gadis ini sengaja mengunjungi panti asuhan. Tuan petualang menghampiri hendak berkenalan dengannya-
Ding dong ding dong!
Jam toko berdentang menandakan waktu bekerja telah usai. Aku menunda kembali halamanku dan segera berkemas. Aku juga harus merapihkan toko di waktu saat ini.
Sekitar sepuluh menit setelahnya, matahari menyingsing di barat, dimana aku baru saja keluar dari tempat kerjaku. Melangkah menjauh dari kesibukan yang seharian ku layani. Jalanan pun lebih ramai berbanding dengan saat aku masih berada di dalam toko. Lampu jalanan dinyalakan, senja hadir bersama hawa dingin dan toko roti di seberang jalan terlihat mulai ramai akan pengunjung.
YOU ARE READING
ADRIAN
FantasySeorang pemuda yang kabur dari keluarganya karena terus dibanding-bandingkan dengan saudara-saudaranya berusaha membangun kehidupan baru yang tenang di kota asing, tetapi masa lalu, rasa rendah diri, dan kerinduannya pada keluarga perlahan memaksany...
