Hall Universitas Panembahan Senopati pagi itu sudah ramai sejak matahari belum terlalu tinggi.
Mahasiswa yang akan berangkat KKN datang silih berganti. Ada yang naik motor, ada yang berboncengan, ada juga yang datang membawa mobil pribadi. Halaman parkir yang biasanya lengang kini dipenuhi berbagai kendaraan, sementara suara tawa dan obrolan memenuhi udara pagi.
Di salah satu sisi parkiran, sebuah Mazda3 Hatchback berwarna merah maroon melaju pelan sebelum berhenti.
Pintu pengemudi terbuka.
Seorang perempuan berambut ikal panjang yang menjuntai hingga pinggang turun sambil merapikan almamater hijau matcha yang dikenakannya.
Raden Ayu Kinasih Widyapradhani.
Atau yang lebih sering dipanggil Kina.
Ia membuka bagasi belakang, memastikan semua barang bawaannya masih tertata rapi.
Satu koper besar.
Satu kardus.
Beberapa tote bag.
Belum lagi tas ransel yang sengaja ia letakkan di kursi belakang. Semua itu sengaja ia biarkan tetap berada di dalam mobil. Toh nanti mereka memang berangkat ke Desa Mojosari menggunakan kendaraan masing-masing. Kina mengunci mobilnya pelan.
"Semoga nggak ada yang ketinggalan..." gumamnya sambil mengecek sekali lagi kunci mobil di genggaman. Baru setelah merasa yakin, ia berjalan memasuki hall.
Begitu pintu terbuka...
"..."
Kina refleks berhenti.
Delapan orang anggota kelompoknya ternyata sudah berkumpul lebih dulu. Obrolan mereka langsung terhenti ketika menyadari seseorang baru saja datang.
"Eh, akhirnya!"
"Kita tinggal nunggu kamu, Kina."
Ucapan itu membuat Kina sedikit meringis malu.
"Maaf ya... tadi di rumah agak ribet."
"Nggak apa-apa. Yang penting udah lengkap."
Kina mengangguk pelan sebelum ikut berdiri di antara mereka.
Di sudut lingkaran, seorang laki-laki bertubuh tinggi hanya memperhatikan dalam diam.
Wajahnya tenang.
Nyaris tanpa ekspresi.
Kedua tangannya masuk ke dalam saku almamater, sementara matanya sesekali tertuju pada perempuan berambut ikal yang baru saja datang itu.
Saat Kina tanpa sengaja menoleh...
Pandangan mereka bertemu.
Hanya sebentar.
Lalu sama-sama berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Tak ada seorang pun yang menyadari tatapan singkat itu.
Tak ada pula yang tahu, bahwa pertemuan sederhana di Hall Universitas Panembahan Senopati pagi itu menjadi awal dari kisah yang akan mengubah hidup keduanya.
Laki-laki itu adalah...
Darendra Atmaja Saputra.
ESTÁS LEYENDO
JOGLO SEMAR
Ficción GeneralPagi itu, rumah keluarga Raden Ayu Kinasih Widyapradhani benar-benar heboh. Dari subuh, dapur sudah ramai. Ibunya bolak-balik ngecek tas, berkali-kali nanya, "Bajumu wis kabeh, Nduk?" Sang Romo sibuk memberi wejangan yang rasanya nggak ada habisnya...
