Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

CHAPTER 1

3.6K 115 1
                                        

Malam di Bangkok selalu menyajikan pemandangan yang megah jika dilihat dari lantai tertinggi sebuah penthouse mewah di kawasan Sukhumvit. Dinding kaca setinggi langit-langit menampilkan kerlap-kerlip lampu kota yang tak pernah tidur. Di dalam ruangan bernuansa minimalis modern itu, kesunyian terasa begitu pekat, seolah-olah kemewahan yang ada di sana dirancang bukan untuk kenyamanan, melainkan untuk mengisolasi siapa pun yang berada di dalamnya.

Miu berdiri di dekat jendela besar tersebut, jemarinya yang lentik menggenggam segelas air putih yang sudah mulai mendingin. Sebagai CEO dari Audy Corporation—salah satu perusahaan distributor mobil mewah terbesar dan paling disegani di Thailand—Miu dikenal sebagai sosok wanita yang cerdas, lemah lembut, dan memiliki pesona yang tenang namun memikat. Di dunia bisnis yang keras, kelembutan Miu adalah anomali yang dikagumi banyak orang. Namun malam ini, di balik gaun tidurnya yang berbahan sutra, bahunya tampak tegang. Matanya terus melirik ke arah jam dinding digital yang menunjukkan pukul sebelas malam.

Pintu utama penthouse terbuka dengan bunyi klik yang halus, memecah keheningan.

Lorena Schuett melangkah masuk. Sosoknya tinggi, tegas, dan memancarkan aura dominasi yang mutlak. Sebagai pemilik sekaligus desainer utama dari rumah mode internasional yang menyandang namanya sendiri, Lorena adalah lambang dari perfeksionisme. Setiap langkahnya penuh perhitungan, dan tatapan matanya yang tajam mampu mengintimidasi siapa saja, termasuk para asisten dan pelayan yang langsung menundukkan kepala saat dia lewat.

"Kamu belum tidur, Sayang?" Suara Lorena terdengar berat, memecah kesunyian ruangan saat dia menyerahkan tas kulitnya kepada asisten pribadinya yang sejak tadi menunggu dengan patuh di dekat pintu.

Miu membalikkan badan, memaksakan sebuah senyuman lembut yang biasa dia berikan. "Aku menunggumu, . Bagaimana pertemuan dengan investor dari Paris?"

Lorena tidak langsung menjawab. Dia berjalan mendekati Miu, mengabaikan jarak yang ada di antara mereka hingga Miu bisa mencium aroma parfum mahal bercampur sedikit aroma alkohol dari tubuh Lorena. Lorena mengulurkan tangan, ibu jarinya mengusap pipi Miu dengan kelembutan yang entah mengapa terasa seperti sebuah klaim kepemilikan yang mutlak.

"Pertemuannya lancar," jawab Lorena pendek. Tatapannya beralih pada ponsel Miu yang tergeletak di atas meja kaca. "Kenapa ponselmu mati sejak jam tujuh malam, Miu?"

Napas Miu tertahan sejenak. "Baterainya habis saat aku menghadiri pameran mobil di Nonthaburi, dan aku lupa membawa pengisi daya cadangan."

Senyuman tipis muncul di sudut bibir Lorena, namun matanya tetap sedingin es. "Lupa? Atau kamu sengaja mematikannya karena tidak ingin aku tahu siapa saja yang datang ke stan pameranmu hari ini? Asistenmu memberi tahu asistensiku kalau ada beberapa kolega pria yang mencoba mengajakmu makan malam."

"Lorena, itu hanya urusan bisnis—"

"Aku tidak suka milikku menjadi tontonan banyak orang, Miu. Kamu tahu itu," potong Lorena, suaranya pelan namun sarat akan ancaman yang tak kasat mata. Dia mengecup kening Miu dengan durasi yang lama, sebuah kecupan yang tidak terasa seperti kasih sayang, melainkan sebuah segel penanda. "Masuklah ke kamar. Aku akan menyusul setelah membersihkan diri."

______

Dua tahun yang lalu, pertemuan mereka dipandang sebagai penyatuan dua kekuatan besar di industri sekuler Thailand. Miu dan Lorena bertemu dalam sebuah acara gala amal tahunan di Bangkok. Malam itu, Miu yang mengenakan gaun putih tampak seperti angsa yang anggun di tengah kerumunan penonton. Lorena, yang merupakan salah satu sponsor utama acara tersebut, langsung terpaku pada pesona tenang yang dipancarkan oleh CEO Audy Corporation tersebut.

Pendekatan Lorena begitu intens, penuh dengan karisma yang sulit ditolak. Sebagai sesama wanita karier yang sukses di usia muda, mereka menemukan banyak kesamaan. Miu mengagumi ketegasan dan visi Lorena dalam membangun kerajaan fesyennya, sementara Lorena memuja kelembutan dan kebaikan hati Miu yang tidak pernah dia temukan pada orang lain.

Dalam hitungan bulan, mereka resmi menjalin hubungan kasih. Setahun setelah berhubungan, Lorena menyarankan agar mereka tinggal bersama di penthouse miliknya. Sebuah keputusan yang semula dianggap Miu sebagai langkah menuju masa depan yang lebih serius.

Namun, perlahan-lahan, dinding-dinding penthouse mewah itu berubah menjadi sangkar emas.

Seiring berjalannya waktu, sifat asli Lorena mulai bersemi ke permukaan. Sebagai seorang desainer yang terbiasa mengontrol setiap detail terkecil dari sketsa pakaiannya hingga potongan kain, Lorena mulai menerapkan kontrol yang sama terhadap hidup Miu. ia memanipulasi perhatiannya jika Miu melakukan sesuatu yang tidak disukainya—seperti menghadiri rapat tanpa izinnya atau menerima telepon dari rekan kerja di luar jam kantor—Lorena tidak akan memaki. Dia akan mendiamkan Miu selama berhari-hari, membuat Miu merasa bersalah dan memohon ampun atas kesalahan yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan.

Gaya hidup mereka di dalam penthouse diatur dengan ketat oleh Lorena. Para pelayan dan asisten pribadi Miu bahkan harus melaporkan jadwal harian Miu kepada asisten pribadi Lorena setiap pagi. Miu, dengan sifatnya yang lemah lembut dan selalu ingin menghindari konflik, perlahan-lahan menyerahkan otoritas atas dirinya sendiri demi menjaga kedamaian hubungan mereka yang sudah berjalan dua tahun ini.

______

Kembali di dalam kamar utama yang luas, Miu duduk di tepi ranjang berukuran king-size. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya tampak lelah.

Lorena keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi berwarna hitam, rambutnya yang basah dibiarkan terurai. Dia berjalan mendekati ranjang, lalu merangkak naik dan memeluk Miu dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Miu yang rapuh.

"Kamu wangi sekali malam ini, Sayang," bisik Lorena, tangannya melingkar erat di pinggang Miu, mengunci pergerakan wanita itu. "Maaf jika tadi aku terdengar kasar. Aku hanya terlalu mencintaimu. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa dirimu, Miu. Kamu tahu kan kalau hanya aku yang bisa menjagamu seperti ini?"

Miu memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh Lorena yang sekaligus membawa rasa sesak di dadanya. Kalimat-kalimat manipulatif itu sudah seperti makanan sehari-hari. Lorena selalu berhasil membuat kepemilikannya yang berlebihan terdengar seperti bentuk cinta yang paling suci.

"Iya, Lorena. Aku tahu," jawab Miu lirih, suaranya hampir menyerupai bisikan yang hilang ditelan malam.

"Bagus," ujar Lorena sembari tersenyum puas. Dia membalikkan tubuh Miu agar menghadapnya, lalu menatap manik mata Miu dengan intensitas yang menakutkan. "Jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku, Miu Almira. Karena jika kamu melakukannya, aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan pada diriku... atau pada orang-orang di sekitarmu."

Di bawah temaram lampu kamar, Miu hanya bisa mengangguk pasrah. Di dalam hati kecilnya, sebuah retakan kecil telah terbentuk, menandai awal dari badai yang suatu saat nanti akan menghancurkan kedamaian semu yang selama dua tahun ini mereka pertahankan.


____ bersambung

Learning to Loose Control ( LENAMIU) Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora